Jumat, 12 April 2019

Curhatan Gado-Gado



Ada banyak hal yang lagi gue rasakan dan pikirkan saat ini, tapi bingung mau mulai dari mana dulu. Gue baru sadar bahwa sebenernya gue ini nggak sering curhat terlalu blak-blakan sama orang. Ternyata gue lebih sering mendem sendiri apa yang sebenernya gue rasakan dan gue pikirkan, menurut gue itu lebih aman dan lebih damai. Kenapa damai? Karena orang lain nggak akan mencampuri urusan gue. Curhat dengan diri sendiri melalui tulisan adalah cara terbaik. Meskipun akhirnya gue jadi ngerasa kesepian. Kata seorang penulis buku, menulis adalah salah satu terapi melawan stress yang  baik.

Ngomong-ngomong, gue lagi kepikiran buat jadi penulis suatu saat nanti. Bukan penulis novel sih ya, tapi lebih kayak penulis berita atau wartawan. Kadang gue juga ingin jadi reporter. Kadang gue juga kepikiran buat jadi dosen. Suatu saat juga kepikiran pengen jadi wiraswasta dan kerja di rumah sambil ngurus anak-suami. Terakhir pengen jadi perencana kebijakan pembangunan alias kerja di Bappeda/Bappenas. Entahlah sebenernya gue pengennya apaan, apa yang cocok, apa yang emang jadi pasion, masa depan gue masih blur.

Oh iya, sekarang lagi masa UTS nih dan gue masih harus ngumpulin satu proposal penelitian kelompok. Aneh nggak sih ketika UTS dikerjain secara berkelompok? Dosennya emang aneh dan sulit dimengerti. Lebih keselnya gue jadi males ngerjain tugas UTS karena nggak srek sama anggota kelompoknya. Semoga semua ini segera terselesaikan. Terus minggu depan udah mulai kuliah. Gue nggak tahu harus merasa senang atau sedih karena mulai minggu depan kuliah gue cuman dua hari yaitu hari Senin dan Selasa doang. Mantab jaya nggak tuh! Berhubung ada beberapa matkul yang dosennya berubah. Salah satu dosen yang gelarnya udah profesor ini sibuk banget jadi harus menyesuaikan jadwalnya. Kuliah berasa jadi pengangguran. So, gue bakalan bikin rutinitas sendiri deh kayaknya untuk mengisi kegabutan di hari Rabu sampe Sabtu. Minggu saatnya istirahat.

Semakin bertambah usia belum tentu seseorang bertambah dewasa. Bahkan gue juga kadang merasakan begitu untuk beberapa hal, misalnya ketika udah capek gue nggak bisa memaksakan diri untuk bertahan sama suatu kerjaan. Gue akan seenak jidat mengistirahatkan diri, nggak peduli apapun.

Oi, point-nya bukan diri gue! Gue mau ngomongin tentang model pertemanan di kampus, khususnya di kelas gue. Gue rasa meskipun kami ini udah menyandang status mahasiswa tapi model pertemanannya kayak bocah. Kelas gue ini isinya kan 60 orang yak, nggak mungkin dong kalo setiap main harus ngajak ke-60 orang itu? Nah, ketika ada beberapa anak yang main bareng hal itu akan menimbulkan kecemburuan beberapa anak lainnya. Mereka yang cemburu lantas mengadu di sosmed, merasa diri mereka tersingkirkan dan tak dianggap. Narasi menjadi hiperbola ketika kami anak-anak yang main bareng disebut sebagai kaum mayoritas sementara mereka menyebut diri mereka kaum minoritas. Sungguh kekanak-kanakan sekali. Sekarang gue juga udah mulai paham bahwa semakin dewasa sebenernya ‘teman’ kita akan semakin sedikit, maksudnya bukan secara kuantitas melainkan secara kualitas. Kita akan menjadi orang yang lebih pilih-pilih dalam berteman dekat yang nyaman dan dapat dipercaya. Nyatanya memang sebagai manusia normal kita nggak bisa klop sama semua orang. Konsep pertemanan setiap orang juga beda-beda. Ada yang menganggap pertemanan itu adalah yang saling memasang muka ceria, foto bareng, updet status lagi bareng, saling memuji meskipun sebenernya bohong, pokoknya harus kelihatan bahagia terus kalo lagi bersama. Helo??? Pertemanan menurut gue beda. Teman yang  sebenarnya adalah yang mau menerima segenap sifat, kondisi emosional, dan yang mau bersikap jujur pada diri kita. Pertemanan yang tulus tanpa rekayasa. Gue lebih senang dijelek-jelekin temen sendiri secara langsung daripada diomongin di belakang.

Baiklah, tulisan kali ini memang sangat random karena isi otak gue juga lagi acak-acakan. Sekian.


Jumat, 08 Februari 2019

Ketika Dakwah Dijadikan Tumbal


Dua hari lagi gue akan masuk kuliah di semester baru yaitu semester empat. Semoga kedepan gue bisa menjadi mahasiswa yang lebih berilmu. Hari ini gue nggak melakukan banyak hal, malahan tadi pagi gue tidur lagi nyampe jam 10. Pas tidur gue mimpi aneh banget yang ending-nya cowok idola gue berubah jadi setan. Terus habis dzuhur nganterin Budhe Sipon layat ke kampung sebelah. Sorenya gue ngobrol sama Budhe Sipon tentang pilihan pemilu. Dari situlah gue mulai merasa geram dengan realita politik yang ada sekarang.

Dari dulu gue bukanlah tipe orang yang suka ikut-ikutan. Orangtua selalu memberi kesempatan gue untuk memilih pilihan yang ada dalam hidup gue, terutama tentang pendidikan dan organisasi. Dulu ketika gue pindah ke Jogja orangtua ngasih pilihan mau lanjut SD dimana, kebanyakan temen-temen masuk SD yang lokasinya di deket rumah sementara gue milih SD yang ada di dusun lain. Padahal jarang banget anak dari dusun gue yang sekolah di sana, bahkan cuman gue doang. Selanjutnya tempat mengaji gue juga lebih milih madrasah diniyah yang notabene itu tempat ngajinya orang-orang NU. Padahal orang-orang di dusun gue kebanyakan alirannya Muhammadiyah, bahkan bapak gue juga pengurus ranting Muhammadiyah. Mulai bertambah dewasa gue udah berhenti madrasah dari tempat ngaji orang NU, selanjutnya gue ikutan organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah yang merupakan salah satu bentuk organisasi gerakan Muhammadiyah.

Dalam menentukan pilihan gue selalu berpatokkan pada mana yang lebih baik dan sebisa mungkin nggak cuman ikut-ikutan orang lain. Gue bukan orang yang mudah dipengaruhi karena gue orang yang nggak mudah percaya juga sama orang lain. Gue harus membuktikan sendiri apa yang dikatain orang lain, setelah gue bener-bener paham situasinya barulah gue berani bertindak. Bukan karena takut salah sehingga gue melakukan hal seperti itu, melainkan sudah sepantasnya kita melalukan usaha pertimbangan yang optimal biar kita bisa mengurangi penyesalan yang akan datang kemudian hari.

Well, saat ini lagi jaman-jamannya kampanye politik buat pemilu 2019. Tahun ini gue juga baru pertama kalinya milih, tapi gue nggak mau asal coba-coba. Gue harus yakin sama pilihan gue nanti. Kadangkala gue tanya sana-sini buat tahu pilihan orang. Namun sedihnya jawaban tentang alasan mereka menentukan pilihan nggak memuaskan buat gue. Ada yang alasannya biar naik gaji, suka sama keramahan sang calon, dan nggak jarang juga mereka milih dengan alasan yang nggak masuk akal. Bilang kalo nggak ganti presidennya kelak eksistensi umat Islam akan terancam, azdan nggak diperbolehkan, KUA akan dibubarkan, dan Indonesia akan jadi negara yang lemah. Jawaban yang nggak masuk akal itu gue dengar dari Budhe Sipon sore tadi.
Sengaja memang gue berlagak nggak paham sama pemilu supaya gue bisa mendengar banyak hal dari persepsi Budhe Sipon yang notabene adalah pemilih tua yang terbatas dalam mengakses informasi. Beliau sebenarnya hanya menceritakan ulang apa yang disampaikan oleh beberapa ‘orang pintar’ saat bicara pada suatu forum, jangan kaget bahwa forum-forum tersebut dibalut rapi dengan bungkus yang dinamakan pengajian. Mungkin sudah barang lumrah kampanye politik dilakukan dengan embel-embel pengajian, gue nggak kaget dong tentunya. Namun di satu sisi gue merasa miris karena forum-forum yang seharusnya digunakan untuk berdakwah dan menyampaikan kebenaran, malahan disisipi dengan konten yang mengancam umat. Ancaman yang sejatinya tidak berdasar pada fakta. Gue rasa ancaman seperti itu akan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya bagi umat. Dengan ancaman itu harapannya umat akan menjatuhkan pilihan pada sisi lain yang tidak mengancam. Padahal sisi lain itu belum tentu tidak memberikan ancaman sama sekali.

Apakah kemenangan harus didapat dengan saling menjelek-jelekan? Mengapa tidak dengan saling adu gagasan yang berkualitas? Toh jika memang harus saling mengejek bisakah porsinya jauh lebih sedikit daripada saling adu gagasan positif? Buatlah rakyat/umat punya imajinasi yang Indah terhadap nasib Indonesia kedepan, bukan pada imajinasi terhadap kehancuran.
Di sinilah gue merasa nggak tahu harus gimana. Asli gue bingung. Ingin gue meluruskan apa yang nggak bener tapi konsekuensinya adalah gue dianggap ‘orang lain’ yang ‘menyimpang’. Sejujurnya gue nggak pengen memberikan pengaruh ke orang-orang supaya sama pilihan politik. Gue cuman pengen umat menjadi cerdas, setidaknya umat dari kalangan gue (pemilih pemula). Gue sangat resah ketika orang-orang Islam justru semakin jauh meninggalkan nilai-nilai agamanya sendiri. Sadarkah bahwa itu hanya akan merugikan bagi umat Islam sendiri?

Rabu, 23 Januari 2019

Hal Random



Hari ini gue bingung mau ngapain. Meskipun sebenernya ada sih yang harus dikerjain. Semestinya gue melanjutkan nyusun paper lomba. Iya paper lomba, akhirnya setelah sekian lama kuliah ada juga keinginan ikutan lomba. Walaupun ikutannya juga karena diajakin temen. Heran juga kenapa Fina ngajak gue yang notabene bukan anak lomba banget. Tapi nggak ada salahnya sih buat nerima ajakannya, toh gue emang ada kepengenan buat ikut lomba.

Namun masalahnya adalah gue males ngelanjutin nyusun papernya. Padahal juga tinggal nyari-nyari data, kerangkanya udah disusun. Apakah lo ikut lomba ini sebenernya karena terpaksa? Ntahlah, gue nggak ngerti sebenernya gue pengennya apaan. Katanya lo pengen ikutan lomba? Iya, gue kepengen. Lantas kenapa lo malah nggak berusaha? Nggak tahu, lagi nggak ada semangat ngerjain. Motivasi lo ikutan lomba apaan sih? Karena gue merasa cukup selo, ingin mencoba hal baru, ingin mengunjungi tempat-tempat baru, dan mumpung masih jadi mahasiswa banyak kesempatan yang bisa diambil untuk mengembangkan diri. Woy sadar, tujuan lo ikut lomba apaan? Yang jelas gue nggak berharap untuk menang, nggak kepikiran punya tujuan apapun. Agaknya gue ini adalah sejenis manusia yang tidak punya tekad kuat. Semoga kekurangan ini bisa gue perbaiki sesegera mungkin.

Ngomong-ngomong gue habis kelar jadi panitia Simultan nih. Cukup lega setelah menuntaskan satu amanah. Apa yang bisa lo pelajari dari event Simultan? Pertama, tentang koordinasi yang santai tapi berjalan. Gue kan masuk divisi Publikasi Ticketing yak, nah koordnya cowok. Dia ini punya pribadi yang unik sih, orangnya apa adanya bahkan nggak berusaha menutupi kekurangannya samsek. Artinya dia bukan orang yang mudah dikendalikan oleh status atau jabatan. Sebagai koord dia santai banget padahal nggak pernah ikut njaga ticket box dan selalu dateng terlambat. Tapi entah gimana, gue dan temen-temen Publitik lainnya tetep respek ke dia dan kami tetep komit buat menjalankan tugas masing-masing. Apa karena faktor selo juga kali yak, jadi daripada nganggur di rumah mending ngelakoni tugas Publitik. Kedua, gue jadi tahu kalo anak teknik adalah mahasiswa sabar dan suka tantangan. Pas hari H Simultan tugas gue adalah jadi pembantu  fasilitator. Gue ngebantu Maelani, dia anak teknik geodesi. Kami ngobrol banyak hal selama nunggu peserta ngerjain soal. Kalimat yang terngiang di ingatan gue adalah ketika Mae bilang, “Aku suka e jadi fasilitator, ngerasa diri tertantang gitu buat public speaking”. Dalam hati gue bilang, “Dia yang anak teknik aja ada keinginan belajar mbacot, gue juga pengen tapi nggak disertai aksi nyata buat belajar”. Tandanya, gue adalah orang yang tidak mempunyai tekad kuat. Ketiga, gue belajar evaluasi yang cukup efektif. Setelah acara Simultan berakhir panita pada evaluasi yang dipimpin sama Ketua dan Wakil. Alurnya, pertama mengapresiasi kinerja seluruh panitia dan kinerja per divisi. Lalu menyampaikan kekurangan secara garis besar dan per divisi. Selanjutnya, koord per divisi menyampaikan apresiasi, kritik, dan masukkan. Terakhir masukkan kedepan dan follow-up hal lainnya.

Setelah gue renungkan, gue sebenernya nggak mendapat banyak manfaat dari jadi panitia event. Karena gue udah sering jadi panitia alhasil gue udah apal pola-pola kerja kepanitiaan. Atas dasar itu, gue memutuskan untuk mencukupkan gabung kepanitiaan. Gue ingin berkembang, jadi buat apa gue melakukan hal yang polanya sama terus-menerus.

Beralih ke topik lain. Gue kepengen jadi anak rantau. Entah kelak gue kuliah atau kerja di luar kota atau bahkah luar negeri. Kepengen ngerasain ngurus hidup ini sendiri.

Selasa, 08 Januari 2019

Pulang Dulu




Ada suatu masa dimana seseorang merasa kehilangan arah, entah arah untuk pulang atau arah untuk pergi. Pada kondisi seperti itu sebaiknya menetapkan keputusan untuk pulang terlebih dahulu dibanding melanjutkan untuk pergi. Setidaknya jalan pulang lebih mudah dicari dan diingat. Mungkin kehilangan arah tersebut adalah pertanda bahwa seseorang memang belum siap untuk pergi.

Saat ini gue lagi liburan, lebih tepatnya sedang mengalami masa liburan semester ganjil. Kali ini waktu liburan cukup panjang yaitu lebih dari sebulan terhitung dari 21 Desember 2018 sampai 10 Februari 2019. Gue punya banyak banget waktu senggang karena selama liburan nggak ada tanggungan apapun yang mendesak. Enggak kayak beberapa temen gue, mereka ada yang magang di Pemda, kerja part-time, ke kampung inggris Pare, dll. Sementara gue, sebagian besar waktu hanya di rumah. Meskipun di rumah juga sebenernya kalo mau bisa sih enggak selo, gue bisa beres-beres dan ngerapiin rumah atau baca-baca buku. Tapi kadang ngerasa bosen juga kalo di rumah mulu. Jadi gue udah merencanakan mau pergi ke beberapa tempat, semoga aja bisa terealisasi.

Kembali ke topik yakni tentang pulang dan pergi. Jujur aja ya gue sejak setahun belakangan sedang dilanda kebingungan. Bingung menentukan tujuan hidup, asli. Padahal tujuan hidup itu bagi sebagian besar orang adalah dasar dari setiap usaha yang dijalani dan sebagai motivasi ketika dilanda keterpurukan. Apakah setiap orang harus tahu tujuan hidupnya? Entahlah, tapi menurut gue orang yang punya tujuan hidup itu lebih bersemangat dan bergairah dalam menjalani hidup dan tentunya enggak ngehabisin waktu hanya untuk merasa kebingungan.

Hidup adalah suatu perjalanan, di dalamnya ada waktu untuk pergi, singgah, dan pulang. Untuk pergi orang memerlukan tujuan, kalo nggak ada tujuan lebih baik pulang dulu. Pulang adalah waktu untuk bertemu orang yang berarti, istirahat, menetapkan tujuan, dan mempersiapkan kepergian.

Lantas kemana kita harus pulang?

Bagi gue pulang yang terbaik adalah kepada Sang Pencipta. Dalam kondisi tidak tahu arah gue butuh petunjuk. Apakah petunjuk akan datang dengan sendirinya? Tidak, melainkan harus dicari. Dalam beberapa firman-Nya mengatakan bahwa “Allah tidak akan memeberikan petunjuk bagi orang-orang yang zalim”. Siapa orang yang zalim? Yaitu orang-orang yang tidak melakukan tindakan atas apa yang dia ketahui. Salah satu yang paling gue sadari adalah terkait dengan syariat, dimana gue tahu bahwa sebagai perempuan muslim diwajibkan untuk menutup aurat dan mengenakan jilbab hingga menutup dada. Tapi apa yang gue lakukan selama ini? Gue tahu syariat itu sejak lama, tapi gue nggak menjalankan. Artinya dalam hal menutup aurat gue udah jadi orang yang zalim. Bukan maksud berprasangka negatif sama Allah, tapi lebih pada rasa sadar diri. Mungkin petunjuk tentang arah hidup gue nggak kunjung gue dapat karena gue selama ini masih menjadi orang yang zalim. Astaghfirullah..

Atas dasar renungan itulah gue memutuskan untuk memperbaiki gaya berjilbab. Sebagai satu upaya dari gue untuk selangkah lebih dekat dengan-Nya. Sebagai upaya gue untuk mendapat petunjuk-Nya. Sebagai upaya gue untuk tahu tujuan hidup. Sebagai upaya gue untuk kelak bisa memberikan barokah bagi sekitar.

Jumat, 04 Januari 2019

Ke Klaten Hari 1



Lo pengen tahu apa yang gue rasakan sekarang? LEGA DAN BAHAGIA....

Alhamdulillah, gue udah melewati masa-masa semester 3. Semester kemarin adalah yang paling berkesan daripada dua semester sebelumnya. Ada gembira, bucin, kesal, pusing, marah, bahagia, tangis, tawa, dan beraneka rasa lainnya. Dan yang terpenting adalah gue belajar banyak terutama tentang kehidupan yang emang nyata banyak masalah dalam setiap aspeknya.

Emangnya semester 3 ini gue udah ngapain aja sih?
Pertama, gue jadi koordinator divisi publikasi Public Action 2018. Sebenernya nggak nyangka dikasih amanat itu, tapi gue udah berusaha meskipun jujur gue merasa kurang puas, ehehe. Kedua, gue disuruh jadi sekretaris makrab yang bagi gue senang di awal dan sedih di akhir, hemm. Ketiga, gue ngapain yaaa, ah tau deh gue lupa. Dan ada beberapa momen di semester 3 yang emang sengaja untuk gue lupakan tapi akan selalu gue kenang pelajarannya.

Meskipun semester 3 ini gue merasa berat banget, tapi pada akhirnya Allah ngasih kesempatan gue untuk bahagia. Yuhuuu gue dan beberapa temen-temen gue liburan dong...

Kemarin Jumat 21 Desember adalah hari terakhir UAS yang cuman ngumpul paper doang. Tapi perjuangan buat paper itu nggak main-main karena dosen matkul yang satu ini istimewa. Bapak Subando Agus Margono, beliaulah dosen istimewa pengampu matkul Public Governance. Suatu mata kuliah yang dari awal nyampe akhir gue nggak ngerti apa-apa. Semoga aja paper yang gue kerjain dengan mekanisme Bantul Bandowoso itu bisa diterima oleh Bapak Dosen. Hari Jumat tanggal 21 kemarin gue capek banget, bayangin aja dari Kamis siang gue ngerjain paper dan cuman tidur 1 jam doang dari jam 12 malem nyampe jam 1 pagi. Kala itu gue udah lupa makan, minum, dan hanya di kamar nge-paper sampe mabok. Paper gue selesai jam 9.01 WIB, padahal deadline jam setengah 11. Posisi gue belum ngapa-ngapapin, dan setelah itu langsung mandi bebek, nggak dandan cuman pake pelembab, baju alakadar karena nggak sempat nyetrika, nggak sempat sarapan juga, mampir ngeprint terus ngebut ke kampus. Syukurlah masih ada waktu buat ngumpulin, gue kira bakal jadi yang terakhir ternyata masih ada yang belum ngumpulin. Setelah itu gue sama temen-temen ngambil sarapan gratis dari Fisipol yaitu nasi bungkus sama susu.

Sebenernya gue udah tahu kalo nanti sore bakal ke Klaten, jadi rencana awalnya gue emang mau pulang dulu. Tapi...berhubung gue capek banget dan waktu janjian kumpulnya tinggal 1,5 jam jadinya gue memutuskan nggak pulang. Pikir gue, okelah terima aja konsekuensinya. Lalu gue ke kosnya Alifah, selang beberapa lama Almira sama Farrah dateng dang ternyata habis beli kado dong buat gue. Ya ampuun mereka ini, bikin gue seneng aja deh.

Sewajarnya orang Indonesia bahwa ngaret adalah suatu keniscayaan. Janjian awal jam 1 maka ngumpulnya jam setengah 4. Main kali ini kita ber-11, gue, Farrah, Alifah, Andin, Novi, Fadhillah, Almira, Fian, Hermawan, Febrian, dan Satriya. Kita berbondong-bondong naik motor ke Klaten. Gue boncengan sama Alifah pake motor dia, karena motor gue belum di-service.

Sebelum ke Klaten kita mampir dulu ke Candi Plaosan, karena si tuan rumah alias Almira berangkatnya nggak bareng kita. Lebih lambat soalnya bareng kakaknya. Di Candi Plaosan kita cuman foto-foto doang sih. Foto-foto gue di candi jelek banget, rupa gue udah kayak arca. Gimana enggak, lah orang pake baju warnanya coklat abis gitu nggak riasan apa-apa orang tadi keburu ngumpul paper. Candi Plaosan tutup jam lima, ada satpam yang tugasnya ngusirin wisatawan kalo udah jam tutup. Termasuk gue dkk yang ikut diusir juga.

Setelah ke candi gue dkk laper, mampirlah kita ke Warung Kopi Prambanan. Tempatnya bagus, bangunannya khas jawa banget lengkap dengan interior dan disediain baju adat jawa juga. Meskipun namanya warung kopi tapi di sini juga nyediain menu makanan khas jawa. Pas lihat buku menu menurut gue harganya nggak mahal, abis itu gue pesen minum terus ngampil makanan dong. Di sini modelnya prasmanan gitu, jadi ngambil lalu ditunjukkin ke kasir. Nah, pas nyampe kasir nih gue ketipu. Coy, ternyata harga ‘aneka sayur’ 12K, gue udah ngambil satu jenis sayur. Si embak kasir nyuruh gue ngambil lagi dua jenis sayur, maksa banget nggak sih. Dikira sini kambing makan sayur banyak-banyak. Alhasil gue habis 33K makan di sini.

Selepas maghrib gue dkk melanjutkan perjalanan menuju Klaten. Sebenernya gue udah ngerasa nggak kuat buat ngendarain motor, ngantuk dan badan pegel-pegel rasanya pengen rebahan di kasur. Tapi gue nggak berani kalo suruh diboncengin Alifah. Perjalanan ternyata masih cukup panjang, gue berkali-kali ngangkat pantat gegara udah pedes. Kurang lebih 45 menit kita nyampe di rumah Almira.

Rumah keluarga Almira bisa dibilang bangunan tua, pekarangannya luas. Barusan nyampe gue dkk disambut dengan hangat sama keluarganya, mereka ramah kayak Almira. Setelah itu dianter ke kamar penginapan yaitu kamarnya Almira dan kakak adeknya di bangunan rumah sebelah barat. Cewek tidur di kamar Almira dan para cowok di kamar kakaknya Almira, kamarnya sebelahan. Meskipun badan ini rasanya udah capek banget temen-temen gue masih pengen main uno, jadilah kita main uno nyampe larut malem. Tapi seru banget asli.

Kayaknya tulisan ini udah cukup panjang, Klaten hari kedua gue lanjut kapan-kapan aja yak.

Rabu, 05 Desember 2018

Hem...


Halo! Udah lama gue nggak curhat ya, padahal buanyak banget hal yang gue alami yang bisa membuat gue merenung, berpikir, dan belajar. Gue ingin berterimakasih kepada momen-momen yang telah berlalu, meskipun momen-momen itu telah memberikan rasa benci kepada beberapa orang yang terlibat di dalamnya. Setidaknya momen-momen itu berhasil gue maknai sehingga ada cukup banyak pelajaran yang bisa gue ambil.

Sewajarnya manusia punya rasa suka, yang bisa berubah jadi rasa cinta atau rasa benci. Gue paham betul bahwa bukan kehendak kita untuk mengatur rasa, karena Allah-lah yang Maha Membolak-balikkan hati. Namun Allah juga memberikan kita akal untuk berpikir, yang bisa digunain untuk mengatur ucapan dan perbuatan kita dalam menginterpretasikan rasa.  

Jujur gue adalah orang yang nggak suka dipandang sebelah mata, diremehin, dan dipandang rendah seolah gue nggak punya harga diri. Bahkan dalam hal percintaan sekalipun, gue nggak suka dianggap bahwa gue yang berharap. Oleh karena itu gue marah ketika ada orang yang karena mulutnya membuat beberapa orang beranggapan bahwa gue yang berada di titik terlemah. Sekarang gue lumayan membenci orang itu. Sekali lagi itu adalah rasa, yang bukan wewenang gue untuk mengendalikan. Bisa jadi rasa benci itu kelak juga akan sirna. Di sisi lain gue juga masih bersyukur dikasih otak. Gue pikir bahwa nggak ada gunanya kalo rasa benci itu gue lampiaskan ke ucapan dan tindakan. Pertama, gue males punya masalah sama orang apalagi dalam kondisi hampir setiap hari ketemu sama orang itu. Berdasarkan tes psikologi online yang pernah gue ikuti hal itu dikarenakan gue adalah tipe orang yang memperjuangkan kedamaian. Kedua, ada banyak hal penting dalam hidup gue yang masih belum beres dan gue cukup pusing memikirkannya. Sementara persoalan sama orang itu bukanlah hal super penting yang harus diurus, mon maap gue cukup medit membuang waktu dan tenaga. Ketiga, berdasarkan cerita beberapa teman tentang orang itu sepertinya emang udah begitu wataknya, jadi percuma kalo mau diajak ngobrol dan diluruskan nggak akan ada efeknya.

Kesimpulannya, sekali lagi gue berterima kasih pada momen-momen lalu yang telah memberikan asam manis kehidupan. Momen-momen yang semoga menaikkan level kesabaran gue. Percayalah, Allah bersama orang-orang yang sabar.



Minggu, 23 September 2018

Hidup adalah tentang Siapa dan Bagaimana


Mohon maap, hari ini gue langsung posting tiga tulisan, karena gue lagi gabut dan emang tulisan itu udah ada sejak beberapa hari lalu.
...........................
Hari ini gue cukup lega. Why? Pertama, karena gue nggak ada tugas kelompok jadi gue bisa menikmati malam minggu gue dengan tenang. Kedua, karena tanggung jawab gue satu demi satu udah terselesaikan, khususnya tentang makrab. Makrab, yang udah memberi gue pelajaran yang cukup berarti. Nggak hanya belajar gimana gue jadi panitianya, tapi lebih kepada pelajaran hidupnya. Makrab yang sempat mengakrabkan gue dengan seseorang, kemudian berakkhir sakit hati. Tapi setidaknya gue bisa mengambil pelajaran dari itu, pertama gue tambah ilmu tentang ‘gimana laki-laki itu’ kedua ‘gimana teman-teman itu’, gue belajar cukup banyak tentang jenis dan sifat manusia. Benar manusia itu semakin dewasa semakin jahat, nggak tulus, nggak punya hati, nggak bisa dipercaya, dan penuh sandiwara. Dunia adalah panggung sandiwara, sekarang gue mengamini pepatah itu.
Baiklah, sudah cukup ngomongin tentang makrab. Mari kita move on ke pembahasan utama sesuai dengan judul. Beberapa hari lalu gue sempat merasa bahwa hidup gue berantakan, gue ngajalanin sesuatu asal jalan aja tanpa tahu tujuannya dan berujung pada rasa capek dan nggak puas. Menyadari hal itu, gue rasa sudah saatnya harus menyusun hidup. Mau dibawa kemana hidup gue kedepan. Gue harus sedikit mengurangi hobi nostalgia dengan masa lalu, untuk fokus ke masa depan.
Waktu liburan semester genap kemarin gue sempet baca buku judulnya kalo nggak salah “Seven Laws to make Hapiness Life”. Dari buku itu gue belajar untuk mencapai hidup yang bahagia dan tentram kita perlu mengetahui untuk siapa kita hidup, selanjutnya kita akan tahu bagaimana menjalani kehidupan itu. So, gue akan menyusun berdasarkan prioritas siapa aja dalam hidup gue yang dianggap penting.