Jumat, 08 Februari 2019

Ketika Dakwah Dijadikan Tumbal


Dua hari lagi gue akan masuk kuliah di semester baru yaitu semester empat. Semoga kedepan gue bisa menjadi mahasiswa yang lebih berilmu. Hari ini gue nggak melakukan banyak hal, malahan tadi pagi gue tidur lagi nyampe jam 10. Pas tidur gue mimpi aneh banget yang ending-nya cowok idola gue berubah jadi setan. Terus habis dzuhur nganterin Budhe Sipon layat ke kampung sebelah. Sorenya gue ngobrol sama Budhe Sipon tentang pilihan pemilu. Dari situlah gue mulai merasa geram dengan realita politik yang ada sekarang.

Dari dulu gue bukanlah tipe orang yang suka ikut-ikutan. Orangtua selalu memberi kesempatan gue untuk memilih pilihan yang ada dalam hidup gue, terutama tentang pendidikan dan organisasi. Dulu ketika gue pindah ke Jogja orangtua ngasih pilihan mau lanjut SD dimana, kebanyakan temen-temen masuk SD yang lokasinya di deket rumah sementara gue milih SD yang ada di dusun lain. Padahal jarang banget anak dari dusun gue yang sekolah di sana, bahkan cuman gue doang. Selanjutnya tempat mengaji gue juga lebih milih madrasah diniyah yang notabene itu tempat ngajinya orang-orang NU. Padahal orang-orang di dusun gue kebanyakan alirannya Muhammadiyah, bahkan bapak gue juga pengurus ranting Muhammadiyah. Mulai bertambah dewasa gue udah berhenti madrasah dari tempat ngaji orang NU, selanjutnya gue ikutan organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah yang merupakan salah satu bentuk organisasi gerakan Muhammadiyah.

Dalam menentukan pilihan gue selalu berpatokkan pada mana yang lebih baik dan sebisa mungkin nggak cuman ikut-ikutan orang lain. Gue bukan orang yang mudah dipengaruhi karena gue orang yang nggak mudah percaya juga sama orang lain. Gue harus membuktikan sendiri apa yang dikatain orang lain, setelah gue bener-bener paham situasinya barulah gue berani bertindak. Bukan karena takut salah sehingga gue melakukan hal seperti itu, melainkan sudah sepantasnya kita melalukan usaha pertimbangan yang optimal biar kita bisa mengurangi penyesalan yang akan datang kemudian hari.

Well, saat ini lagi jaman-jamannya kampanye politik buat pemilu 2019. Tahun ini gue juga baru pertama kalinya milih, tapi gue nggak mau asal coba-coba. Gue harus yakin sama pilihan gue nanti. Kadangkala gue tanya sana-sini buat tahu pilihan orang. Namun sedihnya jawaban tentang alasan mereka menentukan pilihan nggak memuaskan buat gue. Ada yang alasannya biar naik gaji, suka sama keramahan sang calon, dan nggak jarang juga mereka milih dengan alasan yang nggak masuk akal. Bilang kalo nggak ganti presidennya kelak eksistensi umat Islam akan terancam, azdan nggak diperbolehkan, KUA akan dibubarkan, dan Indonesia akan jadi negara yang lemah. Jawaban yang nggak masuk akal itu gue dengar dari Budhe Sipon sore tadi.
Sengaja memang gue berlagak nggak paham sama pemilu supaya gue bisa mendengar banyak hal dari persepsi Budhe Sipon yang notabene adalah pemilih tua yang terbatas dalam mengakses informasi. Beliau sebenarnya hanya menceritakan ulang apa yang disampaikan oleh beberapa ‘orang pintar’ saat bicara pada suatu forum, jangan kaget bahwa forum-forum tersebut dibalut rapi dengan bungkus yang dinamakan pengajian. Mungkin sudah barang lumrah kampanye politik dilakukan dengan embel-embel pengajian, gue nggak kaget dong tentunya. Namun di satu sisi gue merasa miris karena forum-forum yang seharusnya digunakan untuk berdakwah dan menyampaikan kebenaran, malahan disisipi dengan konten yang mengancam umat. Ancaman yang sejatinya tidak berdasar pada fakta. Gue rasa ancaman seperti itu akan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya bagi umat. Dengan ancaman itu harapannya umat akan menjatuhkan pilihan pada sisi lain yang tidak mengancam. Padahal sisi lain itu belum tentu tidak memberikan ancaman sama sekali.

Apakah kemenangan harus didapat dengan saling menjelek-jelekan? Mengapa tidak dengan saling adu gagasan yang berkualitas? Toh jika memang harus saling mengejek bisakah porsinya jauh lebih sedikit daripada saling adu gagasan positif? Buatlah rakyat/umat punya imajinasi yang Indah terhadap nasib Indonesia kedepan, bukan pada imajinasi terhadap kehancuran.
Di sinilah gue merasa nggak tahu harus gimana. Asli gue bingung. Ingin gue meluruskan apa yang nggak bener tapi konsekuensinya adalah gue dianggap ‘orang lain’ yang ‘menyimpang’. Sejujurnya gue nggak pengen memberikan pengaruh ke orang-orang supaya sama pilihan politik. Gue cuman pengen umat menjadi cerdas, setidaknya umat dari kalangan gue (pemilih pemula). Gue sangat resah ketika orang-orang Islam justru semakin jauh meninggalkan nilai-nilai agamanya sendiri. Sadarkah bahwa itu hanya akan merugikan bagi umat Islam sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar