Dua hari lagi gue akan masuk kuliah di
semester baru yaitu semester empat. Semoga kedepan gue bisa menjadi mahasiswa
yang lebih berilmu. Hari ini gue nggak melakukan banyak hal, malahan tadi pagi
gue tidur lagi nyampe jam 10. Pas tidur gue mimpi aneh banget yang ending-nya
cowok idola gue berubah jadi setan. Terus habis dzuhur nganterin Budhe Sipon
layat ke kampung sebelah. Sorenya gue ngobrol sama Budhe Sipon tentang pilihan
pemilu. Dari situlah gue mulai merasa geram dengan realita politik yang ada
sekarang.
Dari dulu gue bukanlah tipe orang yang
suka ikut-ikutan. Orangtua selalu memberi kesempatan gue untuk memilih pilihan
yang ada dalam hidup gue, terutama tentang pendidikan dan organisasi. Dulu ketika
gue pindah ke Jogja orangtua ngasih pilihan mau lanjut SD dimana, kebanyakan
temen-temen masuk SD yang lokasinya di deket rumah sementara gue milih SD yang
ada di dusun lain. Padahal jarang banget anak dari dusun gue yang sekolah di
sana, bahkan cuman gue doang. Selanjutnya tempat mengaji gue juga lebih milih
madrasah diniyah yang notabene itu tempat ngajinya orang-orang NU. Padahal
orang-orang di dusun gue kebanyakan alirannya Muhammadiyah, bahkan bapak gue
juga pengurus ranting Muhammadiyah. Mulai bertambah dewasa gue udah berhenti
madrasah dari tempat ngaji orang NU, selanjutnya gue ikutan organisasi
Nasyiatul ‘Aisyiyah yang merupakan salah satu bentuk organisasi gerakan
Muhammadiyah.
Dalam menentukan pilihan gue selalu
berpatokkan pada mana yang lebih baik dan sebisa mungkin nggak cuman
ikut-ikutan orang lain. Gue bukan orang yang mudah dipengaruhi karena gue orang
yang nggak mudah percaya juga sama orang lain. Gue harus membuktikan sendiri
apa yang dikatain orang lain, setelah gue bener-bener paham situasinya barulah
gue berani bertindak. Bukan karena takut salah sehingga gue melakukan hal seperti
itu, melainkan sudah sepantasnya kita melalukan usaha pertimbangan yang optimal
biar kita bisa mengurangi penyesalan yang akan datang kemudian hari.
Well, saat ini lagi jaman-jamannya kampanye politik buat
pemilu 2019. Tahun ini gue juga baru pertama kalinya milih, tapi gue nggak mau
asal coba-coba. Gue harus yakin sama pilihan gue nanti. Kadangkala gue tanya
sana-sini buat tahu pilihan orang. Namun sedihnya jawaban tentang alasan mereka
menentukan pilihan nggak memuaskan buat gue. Ada yang alasannya biar naik gaji,
suka sama keramahan sang calon, dan nggak jarang juga mereka milih dengan
alasan yang nggak masuk akal. Bilang kalo nggak ganti presidennya kelak
eksistensi umat Islam akan terancam, azdan nggak diperbolehkan, KUA akan
dibubarkan, dan Indonesia akan jadi negara yang lemah. Jawaban yang nggak masuk
akal itu gue dengar dari Budhe Sipon sore tadi.
Sengaja memang gue berlagak nggak
paham sama pemilu supaya gue bisa mendengar banyak hal dari persepsi Budhe
Sipon yang notabene adalah pemilih tua yang terbatas dalam mengakses informasi.
Beliau sebenarnya hanya menceritakan ulang apa yang disampaikan oleh beberapa ‘orang
pintar’ saat bicara pada suatu forum, jangan kaget bahwa forum-forum tersebut
dibalut rapi dengan bungkus yang dinamakan pengajian. Mungkin sudah barang
lumrah kampanye politik dilakukan dengan embel-embel pengajian, gue nggak kaget
dong tentunya. Namun di satu sisi gue merasa miris karena forum-forum yang
seharusnya digunakan untuk berdakwah dan menyampaikan kebenaran, malahan
disisipi dengan konten yang mengancam umat. Ancaman yang sejatinya tidak
berdasar pada fakta. Gue rasa ancaman seperti itu akan lebih banyak mudharatnya
daripada manfaatnya bagi umat. Dengan ancaman itu harapannya umat akan
menjatuhkan pilihan pada sisi lain yang tidak mengancam. Padahal sisi lain itu
belum tentu tidak memberikan ancaman sama sekali.
Apakah kemenangan harus didapat dengan
saling menjelek-jelekan? Mengapa tidak dengan saling adu gagasan yang
berkualitas? Toh jika memang harus saling mengejek bisakah porsinya jauh lebih
sedikit daripada saling adu gagasan positif? Buatlah rakyat/umat punya
imajinasi yang Indah terhadap nasib Indonesia kedepan, bukan pada imajinasi
terhadap kehancuran.
Di sinilah gue merasa nggak tahu harus
gimana. Asli gue bingung. Ingin gue meluruskan apa yang nggak bener tapi
konsekuensinya adalah gue dianggap ‘orang lain’ yang ‘menyimpang’. Sejujurnya
gue nggak pengen memberikan pengaruh ke orang-orang supaya sama pilihan politik.
Gue cuman pengen umat menjadi cerdas, setidaknya umat dari kalangan gue
(pemilih pemula). Gue sangat resah ketika orang-orang Islam justru semakin jauh
meninggalkan nilai-nilai agamanya sendiri. Sadarkah bahwa itu hanya akan
merugikan bagi umat Islam sendiri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar