Jumat, 12 April 2019

Curhatan Gado-Gado



Ada banyak hal yang lagi gue rasakan dan pikirkan saat ini, tapi bingung mau mulai dari mana dulu. Gue baru sadar bahwa sebenernya gue ini nggak sering curhat terlalu blak-blakan sama orang. Ternyata gue lebih sering mendem sendiri apa yang sebenernya gue rasakan dan gue pikirkan, menurut gue itu lebih aman dan lebih damai. Kenapa damai? Karena orang lain nggak akan mencampuri urusan gue. Curhat dengan diri sendiri melalui tulisan adalah cara terbaik. Meskipun akhirnya gue jadi ngerasa kesepian. Kata seorang penulis buku, menulis adalah salah satu terapi melawan stress yang  baik.

Ngomong-ngomong, gue lagi kepikiran buat jadi penulis suatu saat nanti. Bukan penulis novel sih ya, tapi lebih kayak penulis berita atau wartawan. Kadang gue juga ingin jadi reporter. Kadang gue juga kepikiran buat jadi dosen. Suatu saat juga kepikiran pengen jadi wiraswasta dan kerja di rumah sambil ngurus anak-suami. Terakhir pengen jadi perencana kebijakan pembangunan alias kerja di Bappeda/Bappenas. Entahlah sebenernya gue pengennya apaan, apa yang cocok, apa yang emang jadi pasion, masa depan gue masih blur.

Oh iya, sekarang lagi masa UTS nih dan gue masih harus ngumpulin satu proposal penelitian kelompok. Aneh nggak sih ketika UTS dikerjain secara berkelompok? Dosennya emang aneh dan sulit dimengerti. Lebih keselnya gue jadi males ngerjain tugas UTS karena nggak srek sama anggota kelompoknya. Semoga semua ini segera terselesaikan. Terus minggu depan udah mulai kuliah. Gue nggak tahu harus merasa senang atau sedih karena mulai minggu depan kuliah gue cuman dua hari yaitu hari Senin dan Selasa doang. Mantab jaya nggak tuh! Berhubung ada beberapa matkul yang dosennya berubah. Salah satu dosen yang gelarnya udah profesor ini sibuk banget jadi harus menyesuaikan jadwalnya. Kuliah berasa jadi pengangguran. So, gue bakalan bikin rutinitas sendiri deh kayaknya untuk mengisi kegabutan di hari Rabu sampe Sabtu. Minggu saatnya istirahat.

Semakin bertambah usia belum tentu seseorang bertambah dewasa. Bahkan gue juga kadang merasakan begitu untuk beberapa hal, misalnya ketika udah capek gue nggak bisa memaksakan diri untuk bertahan sama suatu kerjaan. Gue akan seenak jidat mengistirahatkan diri, nggak peduli apapun.

Oi, point-nya bukan diri gue! Gue mau ngomongin tentang model pertemanan di kampus, khususnya di kelas gue. Gue rasa meskipun kami ini udah menyandang status mahasiswa tapi model pertemanannya kayak bocah. Kelas gue ini isinya kan 60 orang yak, nggak mungkin dong kalo setiap main harus ngajak ke-60 orang itu? Nah, ketika ada beberapa anak yang main bareng hal itu akan menimbulkan kecemburuan beberapa anak lainnya. Mereka yang cemburu lantas mengadu di sosmed, merasa diri mereka tersingkirkan dan tak dianggap. Narasi menjadi hiperbola ketika kami anak-anak yang main bareng disebut sebagai kaum mayoritas sementara mereka menyebut diri mereka kaum minoritas. Sungguh kekanak-kanakan sekali. Sekarang gue juga udah mulai paham bahwa semakin dewasa sebenernya ‘teman’ kita akan semakin sedikit, maksudnya bukan secara kuantitas melainkan secara kualitas. Kita akan menjadi orang yang lebih pilih-pilih dalam berteman dekat yang nyaman dan dapat dipercaya. Nyatanya memang sebagai manusia normal kita nggak bisa klop sama semua orang. Konsep pertemanan setiap orang juga beda-beda. Ada yang menganggap pertemanan itu adalah yang saling memasang muka ceria, foto bareng, updet status lagi bareng, saling memuji meskipun sebenernya bohong, pokoknya harus kelihatan bahagia terus kalo lagi bersama. Helo??? Pertemanan menurut gue beda. Teman yang  sebenarnya adalah yang mau menerima segenap sifat, kondisi emosional, dan yang mau bersikap jujur pada diri kita. Pertemanan yang tulus tanpa rekayasa. Gue lebih senang dijelek-jelekin temen sendiri secara langsung daripada diomongin di belakang.

Baiklah, tulisan kali ini memang sangat random karena isi otak gue juga lagi acak-acakan. Sekian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar