Ada banyak hal yang lagi gue rasakan dan pikirkan saat
ini, tapi bingung mau mulai dari mana dulu. Gue baru sadar bahwa sebenernya gue
ini nggak sering curhat terlalu blak-blakan sama orang. Ternyata gue lebih
sering mendem sendiri apa yang sebenernya gue rasakan dan gue pikirkan, menurut
gue itu lebih aman dan lebih damai. Kenapa damai? Karena orang lain nggak akan
mencampuri urusan gue. Curhat dengan diri sendiri melalui tulisan adalah cara
terbaik. Meskipun akhirnya gue jadi ngerasa kesepian. Kata seorang penulis
buku, menulis adalah salah satu terapi melawan stress yang baik.
Ngomong-ngomong, gue lagi kepikiran buat jadi penulis
suatu saat nanti. Bukan penulis novel sih ya, tapi lebih kayak penulis berita
atau wartawan. Kadang gue juga ingin jadi reporter. Kadang gue juga kepikiran
buat jadi dosen. Suatu saat juga kepikiran pengen jadi wiraswasta dan kerja di
rumah sambil ngurus anak-suami. Terakhir pengen jadi perencana kebijakan
pembangunan alias kerja di Bappeda/Bappenas. Entahlah sebenernya gue pengennya
apaan, apa yang cocok, apa yang emang jadi pasion, masa depan gue masih blur.
Oh iya, sekarang lagi masa UTS nih dan gue masih harus ngumpulin
satu proposal penelitian kelompok. Aneh nggak sih ketika UTS dikerjain secara
berkelompok? Dosennya emang aneh dan sulit dimengerti. Lebih keselnya gue jadi
males ngerjain tugas UTS karena nggak srek sama anggota kelompoknya. Semoga
semua ini segera terselesaikan. Terus minggu depan udah mulai kuliah. Gue nggak
tahu harus merasa senang atau sedih karena mulai minggu depan kuliah gue cuman
dua hari yaitu hari Senin dan Selasa doang. Mantab jaya nggak tuh! Berhubung
ada beberapa matkul yang dosennya berubah. Salah satu dosen yang gelarnya udah
profesor ini sibuk banget jadi harus menyesuaikan jadwalnya. Kuliah berasa jadi
pengangguran. So, gue bakalan bikin rutinitas sendiri deh kayaknya untuk
mengisi kegabutan di hari Rabu sampe Sabtu. Minggu saatnya istirahat.
Semakin bertambah usia belum tentu seseorang bertambah
dewasa. Bahkan gue juga kadang merasakan begitu untuk beberapa hal, misalnya
ketika udah capek gue nggak bisa memaksakan diri untuk bertahan sama suatu
kerjaan. Gue akan seenak jidat mengistirahatkan diri, nggak peduli apapun.
Oi, point-nya bukan diri gue! Gue mau ngomongin tentang
model pertemanan di kampus, khususnya di kelas gue. Gue rasa meskipun kami ini
udah menyandang status mahasiswa tapi model pertemanannya kayak bocah. Kelas
gue ini isinya kan 60 orang yak, nggak mungkin dong kalo setiap main harus
ngajak ke-60 orang itu? Nah, ketika ada beberapa anak yang main bareng hal itu
akan menimbulkan kecemburuan beberapa anak lainnya. Mereka yang cemburu lantas
mengadu di sosmed, merasa diri mereka tersingkirkan dan tak dianggap. Narasi
menjadi hiperbola ketika kami anak-anak yang main bareng disebut sebagai kaum
mayoritas sementara mereka menyebut diri mereka kaum minoritas. Sungguh
kekanak-kanakan sekali. Sekarang gue juga udah mulai paham bahwa semakin dewasa
sebenernya ‘teman’ kita akan semakin sedikit, maksudnya bukan secara kuantitas
melainkan secara kualitas. Kita akan menjadi orang yang lebih pilih-pilih dalam
berteman dekat yang nyaman dan dapat dipercaya. Nyatanya memang sebagai manusia
normal kita nggak bisa klop sama semua orang. Konsep pertemanan setiap orang
juga beda-beda. Ada yang menganggap pertemanan itu adalah yang saling memasang
muka ceria, foto bareng, updet status lagi bareng, saling memuji meskipun
sebenernya bohong, pokoknya harus kelihatan bahagia terus kalo lagi bersama.
Helo??? Pertemanan menurut gue beda. Teman yang
sebenarnya adalah yang mau menerima segenap sifat, kondisi emosional,
dan yang mau bersikap jujur pada diri kita. Pertemanan yang tulus tanpa
rekayasa. Gue lebih senang dijelek-jelekin temen sendiri secara langsung
daripada diomongin di belakang.
Baiklah,
tulisan kali ini memang sangat random karena isi otak gue juga lagi
acak-acakan. Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar