Ada
suatu masa dimana seseorang merasa kehilangan arah, entah arah untuk pulang
atau arah untuk pergi. Pada kondisi seperti itu sebaiknya menetapkan keputusan
untuk pulang terlebih dahulu dibanding melanjutkan untuk pergi. Setidaknya jalan
pulang lebih mudah dicari dan diingat. Mungkin kehilangan arah tersebut adalah
pertanda bahwa seseorang memang belum siap untuk pergi.
Saat
ini gue lagi liburan, lebih tepatnya sedang mengalami masa liburan semester
ganjil. Kali ini waktu liburan cukup panjang yaitu lebih dari sebulan terhitung
dari 21 Desember 2018 sampai 10 Februari 2019. Gue punya banyak banget waktu
senggang karena selama liburan nggak ada tanggungan apapun yang mendesak. Enggak
kayak beberapa temen gue, mereka ada yang magang di Pemda, kerja part-time, ke
kampung inggris Pare, dll. Sementara gue, sebagian besar waktu hanya di rumah.
Meskipun di rumah juga sebenernya kalo mau bisa sih enggak selo, gue bisa
beres-beres dan ngerapiin rumah atau baca-baca buku. Tapi kadang ngerasa bosen
juga kalo di rumah mulu. Jadi gue udah merencanakan mau pergi ke beberapa
tempat, semoga aja bisa terealisasi.
Kembali
ke topik yakni tentang pulang dan pergi. Jujur aja ya gue sejak setahun
belakangan sedang dilanda kebingungan. Bingung menentukan tujuan hidup, asli.
Padahal tujuan hidup itu bagi sebagian besar orang adalah dasar dari setiap
usaha yang dijalani dan sebagai motivasi ketika dilanda keterpurukan. Apakah
setiap orang harus tahu tujuan hidupnya? Entahlah, tapi menurut gue orang yang
punya tujuan hidup itu lebih bersemangat dan bergairah dalam menjalani hidup
dan tentunya enggak ngehabisin waktu hanya untuk merasa kebingungan.
Hidup
adalah suatu perjalanan, di dalamnya ada waktu untuk pergi, singgah, dan
pulang. Untuk pergi orang memerlukan tujuan, kalo nggak ada tujuan lebih baik
pulang dulu. Pulang adalah waktu untuk bertemu orang yang berarti, istirahat,
menetapkan tujuan, dan mempersiapkan kepergian.
Lantas
kemana kita harus pulang?
Bagi
gue pulang yang terbaik adalah kepada Sang Pencipta. Dalam kondisi tidak tahu
arah gue butuh petunjuk. Apakah petunjuk akan datang dengan sendirinya? Tidak,
melainkan harus dicari. Dalam beberapa firman-Nya mengatakan bahwa “Allah tidak
akan memeberikan petunjuk bagi orang-orang yang zalim”. Siapa orang yang zalim?
Yaitu orang-orang yang tidak melakukan tindakan atas apa yang dia ketahui.
Salah satu yang paling gue sadari adalah terkait dengan syariat, dimana gue
tahu bahwa sebagai perempuan muslim diwajibkan untuk menutup aurat dan
mengenakan jilbab hingga menutup dada. Tapi apa yang gue lakukan selama ini?
Gue tahu syariat itu sejak lama, tapi gue nggak menjalankan. Artinya dalam hal
menutup aurat gue udah jadi orang yang zalim. Bukan maksud berprasangka negatif
sama Allah, tapi lebih pada rasa sadar diri. Mungkin petunjuk tentang arah
hidup gue nggak kunjung gue dapat karena gue selama ini masih menjadi orang
yang zalim. Astaghfirullah..
Atas
dasar renungan itulah gue memutuskan untuk memperbaiki gaya berjilbab. Sebagai
satu upaya dari gue untuk selangkah lebih dekat dengan-Nya. Sebagai upaya gue
untuk mendapat petunjuk-Nya. Sebagai upaya gue untuk tahu tujuan hidup. Sebagai
upaya gue untuk kelak bisa memberikan barokah bagi sekitar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar