Halo! Udah lama gue nggak
curhat ya, padahal buanyak banget hal yang gue alami yang bisa membuat gue
merenung, berpikir, dan belajar. Gue ingin berterimakasih kepada momen-momen
yang telah berlalu, meskipun momen-momen itu telah memberikan rasa benci kepada
beberapa orang yang terlibat di dalamnya. Setidaknya momen-momen itu berhasil
gue maknai sehingga ada cukup banyak pelajaran yang bisa gue ambil.
Sewajarnya manusia punya
rasa suka, yang bisa berubah jadi rasa cinta atau rasa benci. Gue paham betul
bahwa bukan kehendak kita untuk mengatur rasa, karena Allah-lah yang Maha
Membolak-balikkan hati. Namun Allah juga memberikan kita akal untuk berpikir,
yang bisa digunain untuk mengatur ucapan dan perbuatan kita dalam
menginterpretasikan rasa.
Jujur gue adalah orang
yang nggak suka dipandang sebelah mata, diremehin, dan dipandang rendah seolah
gue nggak punya harga diri. Bahkan dalam hal percintaan sekalipun, gue nggak
suka dianggap bahwa gue yang berharap. Oleh karena itu gue marah ketika ada orang
yang karena mulutnya membuat beberapa orang beranggapan bahwa gue yang berada
di titik terlemah. Sekarang gue lumayan membenci orang itu. Sekali lagi itu
adalah rasa, yang bukan wewenang gue untuk mengendalikan. Bisa jadi rasa benci
itu kelak juga akan sirna. Di sisi lain gue juga masih bersyukur dikasih otak. Gue
pikir bahwa nggak ada gunanya kalo rasa benci itu gue lampiaskan ke ucapan dan
tindakan. Pertama, gue males punya masalah sama orang apalagi dalam kondisi hampir
setiap hari ketemu sama orang itu. Berdasarkan tes psikologi online yang pernah
gue ikuti hal itu dikarenakan gue adalah tipe orang yang memperjuangkan
kedamaian. Kedua, ada banyak hal penting dalam hidup gue yang masih belum beres
dan gue cukup pusing memikirkannya. Sementara persoalan sama orang itu bukanlah
hal super penting yang harus diurus, mon maap gue cukup medit membuang waktu
dan tenaga. Ketiga, berdasarkan cerita beberapa teman tentang orang itu
sepertinya emang udah begitu wataknya, jadi percuma kalo mau diajak ngobrol dan
diluruskan nggak akan ada efeknya.
Kesimpulannya, sekali
lagi gue berterima kasih pada momen-momen lalu yang telah memberikan asam manis
kehidupan. Momen-momen yang semoga menaikkan level kesabaran gue. Percayalah,
Allah bersama orang-orang yang sabar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar