Rabu, 05 Desember 2018

Hem...


Halo! Udah lama gue nggak curhat ya, padahal buanyak banget hal yang gue alami yang bisa membuat gue merenung, berpikir, dan belajar. Gue ingin berterimakasih kepada momen-momen yang telah berlalu, meskipun momen-momen itu telah memberikan rasa benci kepada beberapa orang yang terlibat di dalamnya. Setidaknya momen-momen itu berhasil gue maknai sehingga ada cukup banyak pelajaran yang bisa gue ambil.

Sewajarnya manusia punya rasa suka, yang bisa berubah jadi rasa cinta atau rasa benci. Gue paham betul bahwa bukan kehendak kita untuk mengatur rasa, karena Allah-lah yang Maha Membolak-balikkan hati. Namun Allah juga memberikan kita akal untuk berpikir, yang bisa digunain untuk mengatur ucapan dan perbuatan kita dalam menginterpretasikan rasa.  

Jujur gue adalah orang yang nggak suka dipandang sebelah mata, diremehin, dan dipandang rendah seolah gue nggak punya harga diri. Bahkan dalam hal percintaan sekalipun, gue nggak suka dianggap bahwa gue yang berharap. Oleh karena itu gue marah ketika ada orang yang karena mulutnya membuat beberapa orang beranggapan bahwa gue yang berada di titik terlemah. Sekarang gue lumayan membenci orang itu. Sekali lagi itu adalah rasa, yang bukan wewenang gue untuk mengendalikan. Bisa jadi rasa benci itu kelak juga akan sirna. Di sisi lain gue juga masih bersyukur dikasih otak. Gue pikir bahwa nggak ada gunanya kalo rasa benci itu gue lampiaskan ke ucapan dan tindakan. Pertama, gue males punya masalah sama orang apalagi dalam kondisi hampir setiap hari ketemu sama orang itu. Berdasarkan tes psikologi online yang pernah gue ikuti hal itu dikarenakan gue adalah tipe orang yang memperjuangkan kedamaian. Kedua, ada banyak hal penting dalam hidup gue yang masih belum beres dan gue cukup pusing memikirkannya. Sementara persoalan sama orang itu bukanlah hal super penting yang harus diurus, mon maap gue cukup medit membuang waktu dan tenaga. Ketiga, berdasarkan cerita beberapa teman tentang orang itu sepertinya emang udah begitu wataknya, jadi percuma kalo mau diajak ngobrol dan diluruskan nggak akan ada efeknya.

Kesimpulannya, sekali lagi gue berterima kasih pada momen-momen lalu yang telah memberikan asam manis kehidupan. Momen-momen yang semoga menaikkan level kesabaran gue. Percayalah, Allah bersama orang-orang yang sabar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar