Hari ini gue bingung mau ngapain. Meskipun sebenernya ada
sih yang harus dikerjain. Semestinya gue melanjutkan nyusun paper lomba. Iya
paper lomba, akhirnya setelah sekian lama kuliah ada juga keinginan ikutan
lomba. Walaupun ikutannya juga karena diajakin temen. Heran juga kenapa Fina
ngajak gue yang notabene bukan anak lomba banget. Tapi nggak ada salahnya sih
buat nerima ajakannya, toh gue emang ada kepengenan buat ikut lomba.
Namun masalahnya adalah gue males ngelanjutin nyusun
papernya. Padahal juga tinggal nyari-nyari data, kerangkanya udah disusun. Apakah lo ikut lomba ini sebenernya karena
terpaksa? Ntahlah, gue nggak ngerti sebenernya gue pengennya apaan. Katanya lo pengen ikutan lomba? Iya, gue
kepengen. Lantas kenapa lo malah nggak
berusaha? Nggak tahu, lagi nggak ada semangat ngerjain. Motivasi lo ikutan lomba apaan sih? Karena
gue merasa cukup selo, ingin mencoba hal baru, ingin mengunjungi tempat-tempat
baru, dan mumpung masih jadi mahasiswa banyak kesempatan yang bisa diambil
untuk mengembangkan diri. Woy sadar,
tujuan lo ikut lomba apaan? Yang jelas gue nggak berharap untuk menang,
nggak kepikiran punya tujuan apapun. Agaknya gue ini adalah sejenis manusia
yang tidak punya tekad kuat. Semoga kekurangan ini bisa gue perbaiki sesegera
mungkin.
Ngomong-ngomong gue habis kelar jadi panitia Simultan
nih. Cukup lega setelah menuntaskan satu amanah. Apa yang bisa lo pelajari dari event Simultan? Pertama, tentang
koordinasi yang santai tapi berjalan. Gue kan masuk divisi Publikasi Ticketing
yak, nah koordnya cowok. Dia ini punya pribadi yang unik sih, orangnya apa
adanya bahkan nggak berusaha menutupi kekurangannya samsek. Artinya dia bukan
orang yang mudah dikendalikan oleh status atau jabatan. Sebagai koord dia
santai banget padahal nggak pernah ikut njaga ticket box dan selalu dateng
terlambat. Tapi entah gimana, gue dan temen-temen Publitik lainnya tetep respek
ke dia dan kami tetep komit buat menjalankan tugas masing-masing. Apa karena
faktor selo juga kali yak, jadi daripada nganggur di rumah mending ngelakoni
tugas Publitik. Kedua, gue jadi tahu kalo anak teknik adalah mahasiswa sabar
dan suka tantangan. Pas hari H Simultan tugas gue adalah jadi pembantu fasilitator. Gue ngebantu Maelani, dia anak
teknik geodesi. Kami ngobrol banyak hal selama nunggu peserta ngerjain soal.
Kalimat yang terngiang di ingatan gue adalah ketika Mae bilang, “Aku suka e
jadi fasilitator, ngerasa diri tertantang gitu buat public speaking”. Dalam
hati gue bilang, “Dia yang anak teknik aja ada keinginan belajar mbacot, gue
juga pengen tapi nggak disertai aksi nyata buat belajar”. Tandanya, gue adalah
orang yang tidak mempunyai tekad kuat. Ketiga, gue belajar evaluasi yang cukup
efektif. Setelah acara Simultan berakhir panita pada evaluasi yang dipimpin
sama Ketua dan Wakil. Alurnya, pertama mengapresiasi kinerja seluruh panitia
dan kinerja per divisi. Lalu menyampaikan kekurangan secara garis besar dan per
divisi. Selanjutnya, koord per divisi menyampaikan apresiasi, kritik, dan
masukkan. Terakhir masukkan kedepan dan follow-up hal lainnya.
Setelah gue renungkan, gue sebenernya nggak mendapat
banyak manfaat dari jadi panitia event. Karena gue udah sering jadi panitia alhasil
gue udah apal pola-pola kerja kepanitiaan. Atas dasar itu, gue memutuskan untuk
mencukupkan gabung kepanitiaan. Gue ingin berkembang, jadi buat apa gue
melakukan hal yang polanya sama terus-menerus.
Beralih ke topik lain. Gue kepengen jadi anak rantau.
Entah kelak gue kuliah atau kerja di luar kota atau bahkah luar negeri.
Kepengen ngerasain ngurus hidup ini sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar