Senin, 14 Desember 2020

Lagi-lagi Sambat Kuliah, Astaghfirullah...

Gue tahu, sebenernya nggak baik kebanyakan sambat. Apalagi yang dipersambatkan ialah masalah kuliah yang mana bagi banyak orang kuliah itu suatu yang istimewa (privelege). Namun, bagi orang biasa seperti gue sambat itu upaya untuk melepas stress. Diawali dengan sambat kemudian dilanjutkan dengan refleksi diri, memahami kondisi diri sendiri, dan mencoba ngumpulin semangat lagi buat melakukan suatu pekerjaan. Mungkin sebagian orang menilai bahwa sambat merupakan bentuk dari rasa tidak bersyukur. Iya, gue tahu, nggak sepenuhnya salah kok. Tapi nggak sepenuhnya juga dalam kehidupan manusia itu selalu merasakan emosi yang menunjukkan 'baik-baik saja' karena ada kalanya manusia merasakan emosi yang dikonotasikan negatif. Salah satunya merasa mentok, nggak ngerti kudu berbuat apa sama masalah yang ada di depan mata, lalu diekspresikan dengan sambat. Itu wajar to? 

Perkara sambat gue malam ini dikarenakan skripsi. Sebenernya bukan masalah yang berat banget sih, cuman emang lagi mentok mikir aja dan kurang mood untuk membaca artikel berbahasa Inggris. Btw, ukuran berat dan ringan suatu masalah itu sangat bergantung pada kepribadian masing-masing orang lho ya, jadi jangan disamaratakan. Gue peling benci kalo denger orang meremehkan hal-hal yang dipermasalahkan orang lain. "Alah gitu doang aja sambat". Hadeh, kalo udah begitu emang dasar orangnya yang kagak paham. 

Rupanya malam hari bukan waktu produktif bagi gue untuk mengerjakan skripsi. Gue udah mencoba baca progress revisi bab dua, niatnya nih mau coba merangkai kalimat-kalimat penghubung yang bernuansa kritis. Lalu sambil membaca artikel lainnya untuk menambahkan kutipan dan menguatkan asumsi. Namun, apalah daya pikiran ini udah nggak begitu fokus. Ditambah ini tenggorokan gue rasanya gatel dan sedikit batuk, jadi nggak oke banget dah buat berprogress skripsi. 

Lantas kenapa lo malah nulis blog, Bil?

Ya gapapa. Ini adalah salah satu bentuk sambat yang sekaligus juga produktif. Setidaknya sambatan gue ada outputnya yaitu tulisan ini, hehehe. Mungkin kelak akan gue baca lagi untuk mengenang perjuangan gue ngerjain skripsi. Selain itu, gue juga lagi bertekad untuk belajar menulis. Berawal dari nulis sambatan pribadi barangkali bisa berkembang jadi penulis kolom opini, hahah!

Oke, gue rasa cukup sekian selingan persambatan kali ini. Selanjutnya gue mau persiapan tidur karena besok gue pengen bangun pagi. Semoga dengan bangun pagi akan lebih banyak aktivitas produktif yang bisa gue lakukan. 

Senin, 26 Oktober 2020

Orang yang Mempengaruhi Mimpi

Semalem gue nonton drakor judulnya “Start-Up”, drakor yang masih on-going di Netflix. Satu hal yang menarik adalah ketika para tokoh menulis alasan mereka untuk membangun start-up, rata-rata alasan itu dilatarbelakangi oleh pengalaman si tokoh dengan orang lain. Kemudian latar belakang itulah yang menjadi pijakan kuat para tokoh untuk mengikuti mimpinya. Kemarin aku juga nonton film “Sang Pemimpi”, sekuel film “Laskar Pelangi” yang tidak kalah bagusnya pesan moral yang disampaikan. Film itu juga menceritakan tentang pencapaian mimpi, yang dalam proses pencapaian itu diiringi dengan semangat menggebu-gebu. Ya, intinya mimpi membuat setiap orang menjadi semangat dalam menjalani hari-harinya. Membuat setiap rintangan menjadi mungkin untuk ditaklukan.

Sebenernya gue tipikal orang yang cenderung realistis ketimbang hobi bermimpi. Namun kondisi gue saat ini membuat gue berpikir, haruskah gue punya mimpi? Pentingkah? Sekarang kondisi gue sedang baik-baik saja, ekonomi cukup, fisik alhamdulillah sehat, intinya boleh dikatakan tentram wabil damai. Lama sekali gue merasakan masa-masa ini, hingga akhirnya gue pun bosan, sangat sangat bosan. Diri ini juga rasanya tidak berkembang kemana-mana.

Saking nggak ada pencapaian apapun dari hidup gue, sampe-sampe di Instagram ketika orang-orang pada post pencapaian-pencapaian hidupnya gue hanya post foto segelas jus mangga dengan caption yang boleh dikata ngelantur sih. Tapi, selang beberapa menit gue post itu siapa sangka seseorang yang tak terduga menaruh komentar, jadi yang pertama mengkomentari lagi. Gue langsung ‘mak deeg’ berkali-kali nge-refresh profil IG, takut barangkali notifikasi yang barusan gue lihat cuman ilusi. Ternyata enggak woy! Wuaaa...asli gue seneng banget langsung jingkrak-jingkrak. Ekspresif dulu, berpikir kemudian, itu adalah aku. Yaps, setelah puas mengekspresikan diri barulah aku membaca dan memahami konten komentar si laki-laki satu ini. Dia kasih komentar yang intinya menyebut gue lagi berada di insecure moment. Padahal caption gue aja menunjukkan gue bersyukur loh. Bisa-bisanya dia komentar begitu. Tapi setelah gue renungi lagi, dia bener sih, bukannya awal mula gue nge-post itu emang lagi insecure yak?

Alasan gue seneng banget orang ini komentar di post Instagram gue adalah karena gue emang seneng sama orangnya, hahahah. Dia memang layak sih jadi laki-laki yang digemari para perempuan, gue hanya satu dari ribuan orang yang suka sama dia. Tapi andaikata para penggemarnya ini bikin layaknya idol grup, gue adalah member senior di grup itu. Karena gue suka dia selama almost a decade!

Oke, kembali ke perbincangan tentang mimpi. Entah kenapa komentar dia mendorong gue untuk punya mimpi. Gue tahu, itu cuman komentar. Tapi gue nggak tahu pasti apa alasan dia berkomentar. Mungkin gue sotoy sih, tapi setau gue dia jarang banget komentarin postingan cewek. Jadi izinkan gue pede sedikit, gue termasuk yang dia notice kan? Hahah. Lalu konten komentar dia, gue rasa itu masuk kategori komentar cukup menohok. Komentar yang cenderung bernilai negatif meskipun nyata adanya. Apa motif dia komentar kayak gitu? Apakah dia sedang ingin menunjukkan bahwa dia sedang berada di secure moment? Okelah kalo dilihat dari postingan Instagram, memang dia luar biasa. Gue akui dia berhasil berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari dulu pertama kali gue kenal dia. Dulu dia memang keren, sekarang dia jauh lebih keren.

So, mimpi gue kali ini simpel aja. Gue juga pengen jadi perempuan keren dengan cara gue sendiri. Gue nggak mau kalah sama dia, teman yang sudah hampir satu dekade gue kenal dan gue kagumi. Soal gue yang suka sama dia, biarkan aja perasaan itu tetap ada sebagai bahan bakar alternatif dalam gue mencapai mimpi gue sesungguhnya.

Kemarin sempat ditanya sama temen, “Gimana jika akhirnya lo berjodoh sama dia?”. Gue jawab aja, “Absolutely I’ll be grateful”. Namanya juga perasaan suka, itu muncul dari hati, nggak bisa dengan mudah dihilangkan begitu aja. Apalagi oleh gue si tipe cewek setia, hahah. Gue mengakui perasaan gue ke dia, tapi tenang aja dia nggak perlu khawatir karena gue nggak akan membuat dia terganggu dengan perasaan gue. Mari kita tunggu lima hingga tujuh tahun kedepan, gue akan fokus pada mimpi gue. Perkara gue akan berjodoh dengan siapa, itu takdir Tuhan. Gue serahkan sepenuhnya. Walaupun kata Ustad Quraish Shihab kita boleh berdoa minta jodoh bahkan boleh menyebut nama spesifik orang yang ingin menjadi jodoh kita. Namun, terkabulnya doa juga dipengaruhi dengan seberapa dekat kita dengan Tuhan. Jadi, perlulah aku sadar diri bahwa belum begitu dekat aku pada Tuhan. Oleh karenanya, jikalau aku berdoa mohon dijodohkan dengannya sekalipun, entahlah berapa persen itu akan terwujud.

 

Minggu, 11 Oktober 2020

Kehidupan Semester 7

 

Barusan gue habis nonton videonya Mbak Gita tentang Belajar Bahasa Inggris. Dalam belajar bahasa Inggris ternyata kita perlu menyeimbangkan antara input dengan output. Maksudnya selain belajar dengan cara banyak-banyak mendengar dan membaca bahasa Inggris, kita juga perlu banyak-banyak menulis dan berbicara dengan bahasa Inggris. Diluar konteks tentang belajar bahasa Inggris, pada dasarnya gue suka belajar banyak hal. Tapi rasa-rasanya gue nggak mengalami perkembangan yang signifikan dalam belajar. Nah, dari video itu gue jadi tahu bahwa ternyata gue emang kurang aktif dalam belajar. Gue masih kurang dalam menantang diri untuk ngomong dan nulis coy, dalam segala hal yang sedang gue pelajari. Sementara nih, kalo gue liat-liat sekarang nih banyak temen-temen gue yang udah menjadi pembelajar aktif. Entah itu mereka bikin video lalu dipost di Youtube atau sekadar bikin story. Sementara gue nih, masih ragu gitu lho dalam berekspresi dan sharing pengetahuan yang gue punya. Bukan karena gue nggak mau, tapi gue merasa bahwa apa yang gue tahu itu bukan apa-apa bagi orang lain. Kadang gue juga masih malu dan takut dalam memberikan opini pribadi. Kalo bikin IG story paling sering resend postingan akun lain. Bikin status WA sekadar hal-hal sepele atau gambar yang nge-save dari twitter. Sementara di twitter lebih sering ngelike dan ngeretweet. Haduh... ya wajar aja sih ya kalo gue jadi kerdil gini. Padahal nih, zaman sekarang berpengetahuan aja nggak cukup karena yang lebih powerful adalah ketika kita bisa sharing information dan berani untuk speak-up. Jadi, gue sekarang harus berani speak-up. Hei liat aja idola-idolamu Bil, bukankah mereka adalah wanita-wanita yang berani speak-up? Gitasav, Najwa Shihab, Zaskia Mecca, dan Maudy Ayunda. Yuk dong diteladani! Nggak usah takut salah, bilamana salah ya tinggal belajar dari kesalahan itu bukan?

Oiya, pendahuluan life update ini kok malah jadi panjang banget yak, hehe. Oke, lanjut ke topik utama. Udah lama gue nggak posting blog, karena memang lagi nggak mood dan nggak ada ide nulis. Walaupun sebenernya blog gue ini mah emang dibuat dengan tujuan untuk sharing cerita-cerita pribadi gue aja sih.

Setelah KKN berakhir, gue cukup sering main sama temen-temen lama. Setelah itu gue sempat gabut, walaupun harusnya gue menyusun skripsi. Namun, gue baru bener-bener ngerjain setelah dikasih deadline selama sebulan sama dosen buat ngumpulin proposal. Haduh dasarnya aku yang males kerja kalo nggak dikasih deadline. Minggu ketiga dalam pengerjaan skripsi itu, gue dapet panggilan kerja. Ceilah panggilan kerja. Ya pada intinya gue dipanggil sama salah satu peneliti PSKK buat bantuin input data selama dua minggu. Berhubung cuman dua minggu jadi gue terima aja dong, lumayan kan dapet gaji. Selama kerja itu gue kenalan sama dua teman baru, gue seneng sih bisa kenalan sama mereka karena membuat gue termotivasi buat lebih giat belajar. Sebenernya pekerjaan di PSKK ini bisa gue lanjutin, tapi gue memutuskan untuk fokus ngerjain skripsi dan karena alasan masih ngambil dua matkul. Kerja di PSKK bagi gue cukup melelahkan dan menyita waktu sih, gue takut nggak bisa menunaikan ibadah skripsi dengan tenang. Sekarang kegiatan muda-mudi di kampung juga udah dimulai lagi, ada projek yang memerlukan waktu khusus juga untuk ngerjainnya. Udah saatnya berkontribusi lebih buat kampung sendiri ye kan. Sama sekarang ini gue juga lagi jadi timses paslon pilkada, walau masih santai sih kerjaannya. Kegiatan gue sekarang mau fokus ke akademik dulu aja deh, lalu kontribusi buat masyarakat, sama kepikiran juga buat menantang diri ikutan lomba tau konferensi gitu lho.

Disamping itu, gue juga lagi sedih banget karena sahabat gue lagi dalam masalah. Dua anggota keluarganya kena corona, lalu dia juga kudu tes swab. Dia juga lagi kesulitan buat urusan akademiknya, banyak pikiran, dan jadi nggak ngegubris media sosial. Gue selalu berdoa buat kesembuhan dan keselamatan dia dan keluarganya. Semoga semua lekas pulih dan gue bisa ketemu sama dia.

Btw, gue juga sedih kalo ngomongin tentang negara ini. Corona belum menunjukkan penurunan, orang udah abai, pemerintah kerjanya nggak bener. Demo pecah gegara Omnibus Law. Rakyat dianiaya sama aparat. Suara rakyat dianggap hoax. Bikin undang-undang nggak transparan dan nggak partisipatif. Negara ini udah kayak milik segelintir orang aja yang seenak jidat memarginalkan rakyat. Hadeh, gundah, gelisah, galau, merana cuy!

Minggu, 16 Agustus 2020

KETEMU TEMAN SMA

 

Malem ini gue capek tapi pengen banget menuliskan cerita gue hari ini. Mumpung malem minggu, tapi besok responsi KKN! Bodo amat, hehe

Selama corona gue udah lupa cara bersosialisasi dengan orang karena saking jarangnya keluar rumah dan ngobrol langsung sama orang lain. Kerjaan tiap hari cuman ngadep laptop nggawe tetek bengek kuliah dan KKN online. Hingga momen baik akhirnya tiba, Martak temen deket gue pas SMA pulang kampung ke Jogja. Udah sejak 14 hari yang lalu dan gue sama Farrah belum sempat ketemu sama dia gegara musti nyelesaiin output KKN.

Hari ini gue dan temen-temen akhirnya bisa ngumpul. Kita janjian jam 9 di rumah Rima, tapi gegara gue bangun kesiangan dan musti melakukan ini itu dulu jadinya gue baru bisa siap berangkat sekitar jam 9.45. Pas manasin motor gue sempatin buka grup angkatan SMA, ternyata ada kabar duka dari keluarga salah satu teman. Gue sempat kaget dan ngucapin ikut berduka juga. Berhubung udah ditungguin gue pun akhirnya tancap gas ke rumah Rima. Sepanjang perjalanan gue dilanda dilema, antara mau layat atau enggak ke rumah temen gue.

Sampai di rumah Rima teman-teman gue ternyata udah lengkap ada Farrah, Martak, dan Erika. Mereka udah siap buat berangkat. Maap ye cuy, kali ini gue yang jadi penyebab kemoloran ini, hehe. Gue udah nyuruh mereka duluan, tapi ternyata mereka masih nunggu gue, uww terharu deh setia banget mereka mau nunggu gue yang super lama. Gue sempat memastikan temen-temen gue ini udah tahu ada kabar duka dan ternyata mereka udah tahu. Tapi berhubung mereka nggak begitu kenal sama si teman yang ayahnya meninggal ini jadi mereka nggak ada niat buat melayat. Jarak antara rumah Rima sampe kafe tujuan kita cukup jauh, gue mikir-mikir lagi mau layat atau enggak. Pasalnya gue bukan temen sekelasnya tapi kenal dan pernah terlibat di suatu kepanitiaan yang sama serta ngerasa perlu layat karena si temen gue ini memberikan kesan yang baik gitu ke gue walau sebenarnya nggak akrab-akrab banget. Selain itu gue pikir lokasi rumah duka nggak jauh dari kafe tempat nongki nanti.

Sesampainya di kafe gue merasa cukup lega karena lokasinya ternyata sepi, ya iya sih wajar aja kan jam 11 masih baru buka. Tak lupa sebelum masuk kafe kami cuci tangan dan cek suhu tubuh, aman. Layaknya kawan yang lama tak jumpa, kami berfoto-foto dan bercerita tentang kabar masing-masing. Selagi bercerita itu gue sambil masih mikir ikut layat atau enggak. Akhirnya hati gue pun bertekad untuk ikut dan langsung gue menghubungi beberapa teman SMA yang kiranya mau layat. Jam 12 gue OTW layat. Sementara temen-temen gue ini masih stay di kafe, katanya mau nungguin gue.

Oke saatnya tancap gas lagi, Bismillah gue niatin untuk layat walau sempat ragu akan beberapa hal. Eh ternyata jarak rumah duka cukup jauh juga cuy sekitar 9,2 KM. Sebelumnya gue chatingan juga sama salah satu temen cewek yang mau layat juga, dia bilang udah OTW dari 15 menit yang lalu. Sesampainya gue di dekat rumah duka, gue berhenti dulu buat ngechat temen gue dan ternyata dia baru mau bener-bener OTW naik taksi online bertiga. Owalah..cuy kirain udah mau sampe. Pada akhirnya gue ngechat salah satu temen cowok, dikabarinlah kalo temen-temen cowok lagi mampir shalat di masjid terdekat. Gue langsung nyusulin. Sebenernya gue ngerasa cukup malu sih cewek sendiri, tapi ya gimana lagi. Berhubung temen-temen cewek masih lama sampenya akhirnya gue mbuntut temen-temen cowok. Bodo amat yang penting jadi layat.

Selesai layat gue balik lagi ke kafe. Padahal layatnya lamaaa banget coy, dari jam 12 sampe mau ashar. Dan temen-temen gue pun masih setia nunggu gue di kafe yang tadi. Bener-bener bikin makin sayang ke mereka. Lalu kita lanjut makan mie dan ngobrol banyak hal di kamar Rima. Sebenernya masih pengen ngobrol banyak tapi udah malem. Bagi gue ketemu teman SMA emang selalu nyenengin sih, nyaman cerita tentang masa lalu, sekarang, dan mengkhayal tentang masa depan. Ahamdulillah, Allah berikan aku teman-teman baik dan luar biasa.

Minggu, 05 Juli 2020

Mengenang Kesempatan

Hari ini aku cukup gabut, lalu aku scroll down chat di WA untuk ngehapus chat lama atau grup yg udah nggak aktif. Aku nemuin satu chat sama seseorang, jujur aku lupa pernah dichat sama orang ini. Chat itu di tahun 2018, itungannya masih maba dong ya. Isi chatnya adalah minta  aku jadi sekretaris Divisi Kajian Strategis di suatu organisasi mahasiswa se-DIY. Saat itu aku inget lagi sibuk-sibuknya jadi Koor Divisi Publikasi acara Public Action 2018. Jadi aku menolak tawaran itu. Nggak hanya tawaran itu, dulu ada beberapa kesempatan lain yang juga aku tolak. Aku lebih memilih fokus dengan satu amanah atau ikut hal-hal lain yang mana aku justru perlu menawarkan diri. 
Saat ini aku merenungi keputusanku menolak kesempatan-kesempatan itu. Walaupun di setiap keputusan itu aku punya alasan yang cukup masuk akal tampaknya ada aspek lain yang luput aku pertimbangkan. Aspek yang aku luput adalah tentang jenjang kemampuan di suatu circle. Ketika ada orang yang menawariku kesempatan artinya orang itu udah tau kompetensiku, kalo aku menerima kesempatan itu aku bisa meningkatkan kompetensiku. Sayangnya aku justru memilih meluaskan circle tanpa meningkatkan kompetensi. 
Sekarang aku sadar orang lain yang terus meningkatkan kompetensinya justru lebih punya branding yang kuat. Dengan sendirinya circle dia juga akan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu menawarkan diri udah banyak yang nawarin kesempatan buat dia. Sementara aku saat ini walau malu harus mengaku bahwa kompetensiku stuck dan brandingku nol. 
Walaupun di sisi lain aku juga mendapat manfaat seperti semakin luas punya koneksi. Tapi koneksi kalo nggak dibarengi dengan komunikasi yang intens juga nggak menghasilkan apapun. Aku musti membangun semangat untuk mencari kesempatan meningkatkan kompetensi. Satu hal penting yang harus aku bangun juga adalah passion. Ya! 
Passion itu adalah dasar dari terwujudnya impian. Dengan adanya passion kita bisa lebih semangat menikmati proses meningkatkan kompetensi diri. 

Kamis, 09 April 2020

Cerita tentang Hari Ini


Malam ini, daripada beranjak untuk tidur aku memilih untuk nulis. Sebenernya aku nggak tahu mau nulis apa malam ini. Ada banyak hal yang aku pikirkan dan coba aku renungi hari ini. Akan aku coba ingat dan tulis satu-satu. Jadi, mohon maaf kalo tulisan ini nantinya akan kurang fokus dan menjalar kemana-mana. Untukku tidak mengapa, toh aku memang sedang belajar menulis.
Hari ini aku merasa lebih bahagia dari hari sebelumnya, rasanya hari ini aku lebih produktif. Walaupun produktivitasku tidak bisa dibandingkan dengan produktivitas orang lain. Tadi pagi seperti biasa aku bangun jam lima, shalat, lalu tidur lagi dengan kondisi masih pake mukena. Suara ibulah yang kemudian membangunkanku kembali, menandakan aku harus segera bangun untuk membantunya. Aku tidak benci untuk bangun pagi, justru aku ingin bangun sebelum subuh supaya bisa menjalankan shalat tahajjud. Namun ntah setan apa yang merasukiku, alarm yang aku set jam setengah empat tidak pernah berhasil membangunkanku.
Perintah ibu terkadang tidak bisa dinegosiasi, jadi kalo dia menyuruhku bangun maka aku harus bangun. Jangan dikira bangun hanya sekadar perintah untuk membuka mata. Makna dari perintah bangun dari ibuku adalah aku harus segera memegang sapu atau ke dapur untuk mengurus piring-piring kotor. Kali ini aku beruntung karena piring kotor sejak semalam sudah dicuci oleh ibu, lantas aku pun bergegas megang sapu. Menyapu aku lakukan dari kamar orang tuaku, dalam kondisi masih ingin tidur aku tergoda dengan pesona kasur empuk nan lebar di kamar ortu. Aku tidak kuasa untuk menolak hawa nafsu tidur di atasnya, lalu aku lakukan. Ya, begitulah kiranya ukuran keimananku, cetek bukan? Nikmatnya tidur...
Hei, bukankah kamu harusnya bercerita tentang produktivitas hari ini?
Sabar, itu tadi adalah cerita di episode pagi dengan durasi yang singkat. Kenikmatan tidur itu lantas sirna dengan panggilan ibu. Lalu aku melanjutkan nyapu hingga selesai.
Keluargaku terbiasa membuat teh di pagi dan sore hari, kebiasaan yang nampaknya akan menular padaku. Sejak awal 2020, kalo di pagi hari aku ada waktu luang maka aku selalu menyempatkan menikmati secangkir teh sambil menulis rencanaku dalam sehari. Nah, setelah diberlakukan Study at Home maka aku semakin rutin menjalani kebiasaan nge-teh tersebut.
Setelah menikmati teh dan merencanakan kegiatan hari ini (yang tentunya di rumah aja), aku membuka sosmed-sosmedku. Hei, ada yang menarik dong. Si Arva - temenku sejak SMA dan sekarang juga jadi temen sejurusanku – mengirimi challenge  di grup kelas. Menariknya adalah challenge tersebut berupa main skipping, olahraga yang aku sukai.  Jadi, yang mau ikut challenge tersebut kudu main skipping 100x tanpa jeda. Bukannya sombong, bagi aku yang emang dari kecil hobi main lompat tali itu adalah tantangan yang mudah, wkwk. Jadilah pagi sampai siang hariku yang harusnya aku peruntukkan mikirin topik skripsi malah aku pake main challenge. Tapi aku nggak menyesal sih, karena aku jadi bisa dapet voucher gopay dan buat konten story di WA dan IG. Lalu siang sampe sore aku nyoba masak bahan-bahan yang ada di kulkas sambil buat konten juga. Pokoknya kegiatan olahraga dan memasakku tadi semua aku buat story. Dasar generasi penuh pencitraan. Namun nyatanya ada rasa yang cukup puas ketika story-story itu mendapat respon yang baik dan banyak dari temen-temen, hehe.
Pada akhirnya aku jadi bisa lebih tahu apa yang aku suka dan ingin aku bagikan ke orang lain. Setidaknya ada hal-hal yang layak aku pertontonkan ke orang lain dan semoga bisa menginspirasi orang untuk ikutan olahraga atau masak. Jadi, selama di rumah aja nggak hanya rebahan aja. Namun, hal yang aku sedikit sayangkan juga adalah bahwa rencana kegiatanku tidak berjalan sesuai rundown. Untuk kegiatan ngeblog ini aja deh, harusnya aku kerjain tadi sore selepas ashar eh malah baru sekarang jam 00.32 baru kelar. Tidak mengapa, pada akhirnya aku sedikit paham bahwa hal-hal yang di luar rencana terkadang juga bisa ngasih kita pemahaman baru tentang diri sendiri. Kegiatan yang kita susun (bukan hal yang mendesak) juga bisa dikerjakan di penghujung hari, asalkan kita mau sedikit memaksa diri untuk mengerjakannya.



Selasa, 31 Maret 2020

Di Rumah Aja


Halo, selamat pagi. Hari masih pagi ketika aku memutuskan menulis kembali. Iya, menulis kembali. Sudah lama aku tidak menuliskan kisahku yang mungkin akan dirindukan. Bukan oleh orang lain, oleh diriku sendiri. Menulis bagiku adalah suatu terapi, membuat segala yang di pikiran menjadi lebih tenang, hati menjadi lebih lapang, dan setidaknya merasa bangga bisa menulis. Sudah aku putuskan bahwasanya aku akan menulis di blog ini minimal seminggu sekali. Semoga saja bisa konsisten ya!
Mulai tanggal 15 Maret yang lalu kampusku udah memutuskan untuk meniadakan kuliah tatap muka karena wabah virus corona (covid-19) yang semakin meluas. Semenjak saat itu, beberapa kelas diadakan secara online dan tugas-tugas mulai berdatangan tiada henti. Minggu pertama ‘belajar di rumah’ membuatku merasa kesepian. Kampusku memang pionir dalam pengambilan keputusan, salah satunya terkait tindakan-tindakan responsif terhadap virus corona. Keluarga saat itu masih berkegiatan normal. Sebenernya aku di rumah nggak sendiri banget sih, ada budhe dan simbahku. Teman-temanku beberapa ada yang masih ke kampus buat nugas dan ngurus ini itu. Sementara aku, sejak minggu pertama udah benar-benar di rumah aja, pergi kalo hanya mau beli pulsa atau bensin. Sedihnya kala itu, aku merasa dicampakkan sama beberapa temen yang nggak bales chatku padahal aku cuman pengen tahu aja kabar mereka kayak gimana.
Tanggal 22 Maret aku melakukan sertifikasi TTL E-Voting Pilkades Sleman di Stadion Maguwoharjo. Acara itu mau nggak mau harus aku ikuti, walaupun situasi udah semakin mencekam. Setidaknya sedikit tenang soalnya di stadion itu ada protokol kesehatan kayak cuci tangan, cek suhu tubuh, dikasih masker dan vitamin. Stadionnya juga katanya udah disemprot disinfektan. Sertifikasiku berjalan lancar, aku pulang lebih cepat daripada lainnya. Namun, beberapa hari kemudian ada kebijakan bahwa penyelenggaraan Pilkades serentak ditunda. Kebijakan itu yang sebenarnya aku dan teman-temanku dambakan.
Sekarang udah tanggal 31 Maret, pemerintah Indonesia sendiri belum memberlakukan kebijakan yang tegas buat menangani virus menakutkan ini. Lockdown engga test massal juga belum optimal. Himbauan buat social distancing dan physical distancing juga mana mempan buat beberapa masyarakat Indo yang punya hobi kumpul-kumpul dan melakukan segala halnya itu gerudukan. Orang-orang udah pada tahu tentang himbauan itu, tapi sebagian dari mereka masih ngeyel dengan alasan gotong-royong buat melawan corona.
Iya aku ngerti gotong-royong itu baik banget. Mengerahkan banyak orang untuk melakukan suatu hal yang bermanfaat itu keren. Tapi dalam kondisi yang kayak gini tolong dong digunain otaknya buat mikir adanya risiko. Kalian ini udah saking pedenya bahwa kalo kalian orang asli sini artinya kalian sehat-sehat aja. Padahal kalian tau nggak sih, kalo orang sehat itu juga bisa jadi pembawa virus dan bahaya kalo nular ke orang lain yang daya imunnya lemah. Faktanya ketika kalian melakukan gotong royong itu, ada beberapa orang yang engga menjaga etika bersin malah seakan bersin itu dipamerin. Gila itu, saking pedenya kalian. Mengerahkan orang banyak pun sebenernya nggak efisien banget kok, nyatanya ketika gotong-royong banyak yang gabut. Udah tahu kayak gitu, masih aja dilakukan lagi. Hobi banget yak ngumpulin banyak orang dengan dalih kekompakkan untuk suatu hal yang bermanfaat, tapi nggak mempertimbangkan risiko dan efisiensi kerja. Mbok ya ngerahin orang itu seperlunya aja demi mengurangi risiko penularan virus. Sekali lagi, filosofi gugur gunung itu bangus tapi perlu dilakukan dengan pemikiran yang matang. Simpelnya nih, suatu pekerjaan yang bisa dikerjain 5 orang tuh nggak perlu mengerahkan 50 orang.
Namun di sisi lain aku juga mikir, ketika mereka bisa kontributif dengan cara yang kurang tepat begitu, lantas apa yang bisa aku lakukan untuk turut berkontribusi juga? Aku mau berdonasi aja nggak punya duit. Mau ikut jadi relawan nggak tau mau ikut ngapain. Mirikin suatu kebijakan yang efektif juga urung aku lakukan.
Ya begitulah ironisnya, diriku yang bisa mengkritik kontribusi orang lain dengan hanya rebahan di rumah aja.

Minggu, 02 Februari 2020

Sok jadi Traveler ke Semarang


Salah satu keinginanku di tahun yang baru adalah mulai menjadi traveler dan belajar sejarah tentang kota-kota atau daerah-daerah yang ada di Indonesia. Mengunjungi ibukota provinsi adalah yang paling aku utamakan.
Awalnya Farrah ngajakin liburan dengan nginep di hotel yang ada di Jogja. Lah aku mikir dong, ya kali orang Jogja kuliah di Jogja terus liburannya juga di Jogja. Titel udah mahasiswa e, ya kali nggak mau main agak jauhan. Apalagi cuman mau nginep di hotel, yang ada diketawain Nyi Roro Kidul. Di samping itu hari Jumat minggu lalu aku juga sedang letih-letihnya ngerjain tugas magang. Rasanya pengen refreshing dengan berkunjung ke tempat-tempat baru pas weekend. Jumat malemnya aku Farrah sama Almira rembukan, intinya kita mau piknik ke Semarang. Lalu long story dan emang bener-bener panjang cerita karena kami sebagai traveler newbie masih suka bingung buat memutuskan sesuatu seperti tempat nginep dan objek wisata. Akhirnya, terpilih salah satu hotel yang harganya murah, letaknya di tengah kota deket sama objek-objek wisata, lalu kami pesan malam itu juga.
Sabtu siang akhirnya aku gas berangkat dengan penuh semangat walaupun sebenarnya ortuku agak melarang. Tapi ya sudahlah, kalo nggak ngeyel dikit aku pikir akan sulit untuk mengeksplore hal-hal baru yang memang sudah saatnya dilakukan olehku yang notabene generasi baru. Bingung yak? Intinya gitu deh, aku pengen keluar dari pikiran-pikiran baku ortuku yang di zaman sekarang sudah kadaluarsa. Pasalnya ortuku ini emang tipikal ortu yang jarang piknik, kalo semisal libur ya cuman dirumah doang. Bosen kan?
Aku Farrah dan Almira ke Semarang naik bus dari terminal Jombor. Waktu di terminal kami asal nanya sama orang mana bus yang menuju ke Semarang. Lalu ditunjukin salah satu bus ‘ekonomi’ yang hendak berangkat. Tanpa pikir panjang kita lantas naik bus tersebut. Pas dimintain duit tiket, aku sempat heran kenapa bayarnya murah cuman 13 ribu ternyata bus yang kami tumpangi musti transit dulu di Magelang. Lucunya kami bertiga nggak tahu, jadi pas semua orang pada turun kita tetep stay di bus sambil bingung. Lalu di bapak kondekturnya bilang ke kami kalo musti turun dari bus dan pindah ke bus lain. Padahal kami bertiga udah seneng gitu karena awalnya kepisah tempat duduknya, lalu karena pada turun jadi bisa duduk jejer bertiga eh malah disuruh turun. Yaudah deh, daripada nggak nyampe ke Semarang jadi kita pindah bus dan disuruh bayar lagi 25 ribu. Perjalanan bisa dibilang lama karena sampe 4 jam lebih hingga tiba di Semarang. Nggak nyaman pula karena walaupun bus ber-AC tapi banyak pengamen.
Sesampinya di Semarang kami turun di dekat salah satu halte bus Trans Jateng. Selanjutnya kami naik Trans Jateng. Wajah kami sumringah dan kelihatan banget ndesonya karena jarang banget naik transportasi umum sejenis ini. Meskipun di Jogja juga ada Trans Jogja, tapi kami nggak pernah pake sebab banyak faktor yang akan puanjang jika dituliskan dan dikhawatirkan justru tulisan ini akan menjadi esai ilmiah. Ternyata penumpang Trans Jateng banyak, aku ramal mereka adalah pegawai-pegawai yang pulang kerja. Hari Sabtu aja cukup penuh, apalagi kalo weekdays ketambah anak-anak sekolah. Sebelumnya kami memutuskan untuk langsung ke Sam Poo Kong. Jadi kami turun di halte terdekar Sam Poo Kong yaitu Halte Sukun dan melanjutkan perjalanan naik Go-car.



Aku kira Sam Poo Kong adalah semacam klenteng biasa yang punya sejarah berkaitan dengan Konghuchu, tapi ternyata klenteng ini punya sejarah berkaitan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho yang pernah singgah di tanah Semarang. Setelah puas berfoto ria di Sam Poo Kong kami bertiga menuju hotel. Ketika itu sedang hujan deras, jarak yang kami tempuh juga cukup jauh. Hotel tempat kami singgah harganya sangat ramah sobat misqueen. Satu kamar 148 ribu, fasilitasnya lengkap dan kamar mandi dalam. Kasur twin disatukan biar muat tidur bertiga. Situasi kepepet emang bikin jenius. Malam itu juga sempat ke Pasar Semawis padahal udah pada berberes penjual-penjualnya. Niatnya mau nyari nasi, tapi nggak nemu dan akhirnya beli pisang plenet sama corndog. Buat memenuhi hasrat makan nasi, kami go-food nasi goreng yang dikemas lucu ala-ala rice box. Tidak terduga ternyata rasanya wenak lur!
Pagi harinya kami bergegas berangkat menuju destinasi wisata selanjutnya yaitu Kota Lama. Kami jalan kaki sekitar setengah kilo. Bangunan-bangunan di Kota Lama ini menarik banget untuk difoto dan dijadikan background foto. Hampir setiap sudut bangunan di sana aku fotoin. Setelah cukup puas berkeliling, kami bertiga makan bubur ayam di tengah taman sembari menikmati suasana yang rasanya damai banget. Ada orang silver juga yang cukup menghibur tapi kami enggan berfoto bersama mereka karena harus bayar.


Objek selanjutnya adalah Lawang Sewu. Dari Kota Lama jaraknya lebih dari sekilo, jadi kami pake gocar. Lawang Sewu ternyata tidak genap punya 1000 pintu, tapi hanya 924 pintu. Gedung demi gedung kami masuki, berfoto-foto. Aku membayangkan bagaimana dulu bangunan ini dijadikan kantor perusahaan kereta api dengan banyak pegawai. Ada pertunjukkan musik di halaman tengah yang cukup menghidupkan suasana. Lucunya juga ada sekuternya grab yang disewakan untuk muter-muter halaman. Puas menikmati Lawang Sewu aku dan teman-teman bergegas balik ke hotel karena kami harus check out jam 12.


Sesampainya di hotel kami sebenernya masih ingin goler-goleran, menikmati kasur hotel yang empuk. Enggan untuk pulang.
Selanjutnya kami berniat ke Gedong Songo, bahkan kami juga udah menaiki angkot hingga tiba ke Bandungan. Sampai sana sudah cukup sore, kami khawatir jika memaksanakn lanjut nanti ujungnya malah nggak dapet kendaraan buat pulang ke Jogja. Episode mau ke Gedong Songo ini sih sebenernya yang paling drama hingga melibatkan sopir angkot, abang ojol, ibu-ibu yang habis belanja di pasar juga. Hahaha, sekarang aku bahagia mengenang episode itu. Akhirnya kami memutuskan pulang saja, setibanya di terminal Bawen kebetulan sekali ada bus yang mau berangkat ke Jogja. Langsung kami naik, duduk secara terpisah. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak mendengarkan musik dari headset, bahkan orang yang duduk di sampingku pun sama sekali tidak aku ajak bicara. Malas. Aku lelah. Hanya ingin menikmati musik sambil mengenang momen dan pembelajaran yang aku peroleh dari Semarang bersama sahabat-sahabat tersayang. Uwuwuww.

Sabtu, 18 Januari 2020

Warung Kopi Merapi



Sejak madrasah diniyah di salah satu pondok pesantren deket rumah aku mulai dekat dengan dua orang teman yaitu Maya dan Tyas. Kami bertiga satu SD tapi beda angkatan, aku angkatan paling tua, disusul Tyas lalu Maya. Lucunya di madrasah kami juga beda angkatan, tapi kebalikan dari angkatan SD di madrasah justru Maya yang paling tua, lalu Tyas barulah aku. Hingga sekarang kami bertiga masih menjalin pertemanan walaupun jarang ketemu. Biasanya kami ketemu kalo salah satu dari kami ada yang ulang tahun.
Tanggal 2 Januari kemarin kami janjian untuk main bareng ke Kopi Merapi. Sebelumnya aku nggak pernah ke sana dan nggak ada kepikiran untuk ke sana. Namun kata Maya tempat itu menarik untuk dikunjungi, ngobrol santai sambil foto-foto. Jarak dari rumah kami ke Kopi Merapi jauh, iyalah jauh kan emang berada di lereng Gunung Merapi sedangkan rumah kami ada di Bantul pojok timur. Kami bertiga ke sana naik motor. Pas berangkat dari rumah cuaca masih mendukung alias nggak hujan, perjalanan kami kurang lebih satu jam. Jalanannya berubah agak terjal ketika hendak mendekati tujuan. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan jeep-jeep yang membawa wisatawan. Sesampainya di Warung Kopi Merapi aku baru ngeh ternyata lokasinya ada di Kalibiru. Dulu aku sama keluargaku pernah melewati tempat ini pas liburan naik jeep.







Warung Kopi Merapi letaknya jauh dari permukiman warga. Dari arsitekturnya warung ini cukup menarik. Bangunan warung ini jauh dari kata mewah, seolah kesannya hanya asal dibangun. Ketika masuk pertama kali, interior dari warung ini hanyalah seperti warung pada umumnya tapi suasananya sangat ramai. Namun setelah masuk lebih dalam lagi, barulah aku menemukan sesuatu yang unik. Bagian belakang dari warung ini menyediakan tempat duduk dan meja yang terbuat dari batu berukuran besar-besar. Konsepnya semacam di zaman purba. Selain itu, furnitur-furnitur yang ada adalah barang bekas seperti jendela dan pintu. Orang-orang yang datang ke sini biasanya mereka datang rame-rame bareng keluarga atau teman. Ada juga sih yang bareng pasangan. Semakin ke belakang dari warung ini, ada pemandangan alam Gunung Merapi yang indah. Ternyata warung ini sebenarnya berlokasi di samping sungai. Kami bertiga pun akhirnya berfoto-foto di jembatan dengan berlatar belakang Gunung Merapi. Foto di spot ini perlu hati-hati karena banyak jeep yang berlalu lalang.
Makanan dan minuman di warung ini sebenarnya sekilas tidak begitu istimewa. Mereka menyediakan makanan seperti gorengan dan mie instan. Sementara minumnannya ada aneka macam kopi, susu, dan teh. Aku ingin memesan sesuatu yang khas warung ini, akhirnya aku pun beli kopi arabica susu dan makanan sejuta umat yaitu mie instan kuah. Minuman lain yang kami pesan yaitu kopi robusta susu dan wedang gedang. Pesanan kami datangnya sangat lama, ada sekitar satu setengah jam kami menunggu. Sebalnya lagi, ruangan di warung ini tidak ada pembagian smoking area. Jadi pas kami nunggu, sebelah kami ada yang ngerokok dan itu sangat mengganggu.
Selama menunggu kami bertiga ngobrol tentang cukup banyak hal. Tentang kuliah dan teman-teman SD kami yang sekarang sudah banyak yang bekerja dan menikah. Dari obrolan itu aku sebenarnya bisa membaca masalah-masalah yang dihadapi teman-temanku, mulai dari masalah pendidikan dan pekerjaan. Dalam hatiku terdalam aku merasa iba kepada mereka yang menghadapi masalah-masalah tersebut. Sementara diriku ini harusnya banyak bersyukur karena beruntung sekali atas apa yang aku punya. Lalu, aku berpikir bagaimana caranya agar apa yang aku miliki sekarang nantinya juga bisa memberikan manfaat bagi mereka. Aku yang titelnya mahasiswa, bisa apa aku?


Setelah menunggu lama, makanan dan minuman pesanan kami akhirnya datang. Kopi arabica susu yang aku pesan rasanya enak juga, agak sepet tapi juga cukup manis. Kopi robusta juga enak, tapi wedhang gedang rasanya agak aneh. Setelah aku baca dari internet ternyata kopi di sini memang khas. Ditanam di lahan vulkanik dan dibuat dengan cara tradisional.
Waktu sudah sukup sore, sekitar pukul setengah tiga. Lalu kami memutuskan untuk pulang. Sayangnya ketika mau pulang, hujan deras pun turun. Kami tetap memaksa pulang dengan memakai mantol. Sesampainya di bawah sekitar kampus UGM, hujan sudah reda dan cuaca mulai panas. Kami memutuskan untuk melepas mantol. Selanjutnya aku berpisah dengan mereka karena hendak ke warnet dulu buat nyetock film.

Produktivitas Saat Liburan


Hari ini sama besok aku akan benar-benar menikati weekend dengan tenang karena nggak ada kerjaan yang terlalu mendesak. Namun, aku pikir akan sia-sia kalo setiap waktu selo aku hanya menuruti hasrat untuk rebahan sambil nonton drama atau film doang. Aku perlu melakukan sesuatu yang produktif. Kayaknya aku kena pengaruh videonya Anggie Marthin deh jadi bawaannya pengen produktif mulu.
Aku kepikiran untuk nulis karena beberapa hari lalu ditanya sama seorang temen tentang kegiatan apa aja yang aku lakuin selama liburan. Jadi selama liburan ini dua minggu pertama aku cuman seneng-seneng doang, main ke Kopi Merapi bareng Maya dan Tyas. Setelah dua minggu berlalu, tibalah masa magangku di PSKK bareng Indah. Selain itu aku juga sambil ngurus berkas-berkas buat KKN. Hal yang berkesan selanjutnya adalah aku main ke Semarang bareng Farrah sama Almira. Alhamdulillah, banyak kegiatan bermanfaat yang aku lakukan.
Cerita tentang Kopi Merapi, Semarang, dan Magang kayaknya akan aku tulis menjadi cerita sendiri-sendiri. Selama liburan ini aku akan mencoba untuk menulis, salah satu atau mungkin satu-satunya hobi produktif yang kupunya dan mungkin suatu saat bisa aku kembangkan.