Selasa, 31 Maret 2020

Di Rumah Aja


Halo, selamat pagi. Hari masih pagi ketika aku memutuskan menulis kembali. Iya, menulis kembali. Sudah lama aku tidak menuliskan kisahku yang mungkin akan dirindukan. Bukan oleh orang lain, oleh diriku sendiri. Menulis bagiku adalah suatu terapi, membuat segala yang di pikiran menjadi lebih tenang, hati menjadi lebih lapang, dan setidaknya merasa bangga bisa menulis. Sudah aku putuskan bahwasanya aku akan menulis di blog ini minimal seminggu sekali. Semoga saja bisa konsisten ya!
Mulai tanggal 15 Maret yang lalu kampusku udah memutuskan untuk meniadakan kuliah tatap muka karena wabah virus corona (covid-19) yang semakin meluas. Semenjak saat itu, beberapa kelas diadakan secara online dan tugas-tugas mulai berdatangan tiada henti. Minggu pertama ‘belajar di rumah’ membuatku merasa kesepian. Kampusku memang pionir dalam pengambilan keputusan, salah satunya terkait tindakan-tindakan responsif terhadap virus corona. Keluarga saat itu masih berkegiatan normal. Sebenernya aku di rumah nggak sendiri banget sih, ada budhe dan simbahku. Teman-temanku beberapa ada yang masih ke kampus buat nugas dan ngurus ini itu. Sementara aku, sejak minggu pertama udah benar-benar di rumah aja, pergi kalo hanya mau beli pulsa atau bensin. Sedihnya kala itu, aku merasa dicampakkan sama beberapa temen yang nggak bales chatku padahal aku cuman pengen tahu aja kabar mereka kayak gimana.
Tanggal 22 Maret aku melakukan sertifikasi TTL E-Voting Pilkades Sleman di Stadion Maguwoharjo. Acara itu mau nggak mau harus aku ikuti, walaupun situasi udah semakin mencekam. Setidaknya sedikit tenang soalnya di stadion itu ada protokol kesehatan kayak cuci tangan, cek suhu tubuh, dikasih masker dan vitamin. Stadionnya juga katanya udah disemprot disinfektan. Sertifikasiku berjalan lancar, aku pulang lebih cepat daripada lainnya. Namun, beberapa hari kemudian ada kebijakan bahwa penyelenggaraan Pilkades serentak ditunda. Kebijakan itu yang sebenarnya aku dan teman-temanku dambakan.
Sekarang udah tanggal 31 Maret, pemerintah Indonesia sendiri belum memberlakukan kebijakan yang tegas buat menangani virus menakutkan ini. Lockdown engga test massal juga belum optimal. Himbauan buat social distancing dan physical distancing juga mana mempan buat beberapa masyarakat Indo yang punya hobi kumpul-kumpul dan melakukan segala halnya itu gerudukan. Orang-orang udah pada tahu tentang himbauan itu, tapi sebagian dari mereka masih ngeyel dengan alasan gotong-royong buat melawan corona.
Iya aku ngerti gotong-royong itu baik banget. Mengerahkan banyak orang untuk melakukan suatu hal yang bermanfaat itu keren. Tapi dalam kondisi yang kayak gini tolong dong digunain otaknya buat mikir adanya risiko. Kalian ini udah saking pedenya bahwa kalo kalian orang asli sini artinya kalian sehat-sehat aja. Padahal kalian tau nggak sih, kalo orang sehat itu juga bisa jadi pembawa virus dan bahaya kalo nular ke orang lain yang daya imunnya lemah. Faktanya ketika kalian melakukan gotong royong itu, ada beberapa orang yang engga menjaga etika bersin malah seakan bersin itu dipamerin. Gila itu, saking pedenya kalian. Mengerahkan orang banyak pun sebenernya nggak efisien banget kok, nyatanya ketika gotong-royong banyak yang gabut. Udah tahu kayak gitu, masih aja dilakukan lagi. Hobi banget yak ngumpulin banyak orang dengan dalih kekompakkan untuk suatu hal yang bermanfaat, tapi nggak mempertimbangkan risiko dan efisiensi kerja. Mbok ya ngerahin orang itu seperlunya aja demi mengurangi risiko penularan virus. Sekali lagi, filosofi gugur gunung itu bangus tapi perlu dilakukan dengan pemikiran yang matang. Simpelnya nih, suatu pekerjaan yang bisa dikerjain 5 orang tuh nggak perlu mengerahkan 50 orang.
Namun di sisi lain aku juga mikir, ketika mereka bisa kontributif dengan cara yang kurang tepat begitu, lantas apa yang bisa aku lakukan untuk turut berkontribusi juga? Aku mau berdonasi aja nggak punya duit. Mau ikut jadi relawan nggak tau mau ikut ngapain. Mirikin suatu kebijakan yang efektif juga urung aku lakukan.
Ya begitulah ironisnya, diriku yang bisa mengkritik kontribusi orang lain dengan hanya rebahan di rumah aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar