Halo, selamat pagi. Hari masih pagi ketika aku memutuskan
menulis kembali. Iya, menulis kembali. Sudah lama aku tidak menuliskan kisahku
yang mungkin akan dirindukan. Bukan oleh orang lain, oleh diriku sendiri.
Menulis bagiku adalah suatu terapi, membuat segala yang di pikiran menjadi
lebih tenang, hati menjadi lebih lapang, dan setidaknya merasa bangga bisa
menulis. Sudah aku putuskan bahwasanya aku akan menulis di blog ini minimal
seminggu sekali. Semoga saja bisa konsisten ya!
Mulai tanggal 15 Maret yang lalu kampusku udah memutuskan
untuk meniadakan kuliah tatap muka karena wabah virus corona (covid-19) yang
semakin meluas. Semenjak saat itu, beberapa kelas diadakan secara online dan
tugas-tugas mulai berdatangan tiada henti. Minggu pertama ‘belajar di rumah’
membuatku merasa kesepian. Kampusku memang pionir dalam pengambilan keputusan,
salah satunya terkait tindakan-tindakan responsif terhadap virus corona.
Keluarga saat itu masih berkegiatan normal. Sebenernya aku di rumah nggak
sendiri banget sih, ada budhe dan simbahku. Teman-temanku beberapa ada yang
masih ke kampus buat nugas dan ngurus ini itu. Sementara aku, sejak minggu
pertama udah benar-benar di rumah aja, pergi kalo hanya mau beli pulsa atau
bensin. Sedihnya kala itu, aku merasa dicampakkan sama beberapa temen yang
nggak bales chatku padahal aku cuman pengen tahu aja kabar mereka kayak gimana.
Tanggal 22 Maret aku melakukan sertifikasi TTL E-Voting
Pilkades Sleman di Stadion Maguwoharjo. Acara itu mau nggak mau harus aku
ikuti, walaupun situasi udah semakin mencekam. Setidaknya sedikit tenang
soalnya di stadion itu ada protokol kesehatan kayak cuci tangan, cek suhu
tubuh, dikasih masker dan vitamin. Stadionnya juga katanya udah disemprot
disinfektan. Sertifikasiku berjalan lancar, aku pulang lebih cepat daripada
lainnya. Namun, beberapa hari kemudian ada kebijakan bahwa penyelenggaraan
Pilkades serentak ditunda. Kebijakan itu yang sebenarnya aku dan teman-temanku dambakan.
Sekarang udah tanggal 31 Maret, pemerintah Indonesia
sendiri belum memberlakukan kebijakan yang tegas buat menangani virus
menakutkan ini. Lockdown engga test massal juga belum optimal. Himbauan buat social distancing dan physical distancing juga mana mempan
buat beberapa masyarakat Indo yang punya hobi kumpul-kumpul dan melakukan
segala halnya itu gerudukan. Orang-orang udah pada tahu tentang himbauan itu,
tapi sebagian dari mereka masih ngeyel dengan alasan gotong-royong buat melawan
corona.
Iya aku ngerti gotong-royong itu baik banget. Mengerahkan
banyak orang untuk melakukan suatu hal yang bermanfaat itu keren. Tapi dalam
kondisi yang kayak gini tolong dong digunain otaknya buat mikir adanya risiko.
Kalian ini udah saking pedenya bahwa kalo kalian orang asli sini artinya kalian
sehat-sehat aja. Padahal kalian tau nggak sih, kalo orang sehat itu juga bisa
jadi pembawa virus dan bahaya kalo nular ke orang lain yang daya imunnya lemah.
Faktanya ketika kalian melakukan gotong royong itu, ada beberapa orang yang
engga menjaga etika bersin malah seakan bersin itu dipamerin. Gila itu, saking
pedenya kalian. Mengerahkan orang banyak pun sebenernya nggak efisien banget
kok, nyatanya ketika gotong-royong banyak yang gabut. Udah tahu kayak gitu,
masih aja dilakukan lagi. Hobi banget yak ngumpulin banyak orang dengan dalih
kekompakkan untuk suatu hal yang bermanfaat, tapi nggak mempertimbangkan risiko
dan efisiensi kerja. Mbok ya ngerahin orang itu seperlunya aja demi mengurangi
risiko penularan virus. Sekali lagi, filosofi gugur gunung itu bangus tapi perlu dilakukan dengan pemikiran yang
matang. Simpelnya nih, suatu pekerjaan yang bisa dikerjain 5 orang tuh nggak
perlu mengerahkan 50 orang.
Namun di sisi lain aku juga mikir, ketika mereka bisa
kontributif dengan cara yang kurang tepat begitu, lantas apa yang bisa aku
lakukan untuk turut berkontribusi juga? Aku mau berdonasi aja nggak punya duit.
Mau ikut jadi relawan nggak tau mau ikut ngapain. Mirikin suatu kebijakan yang efektif
juga urung aku lakukan.
Ya begitulah ironisnya, diriku yang bisa mengkritik kontribusi
orang lain dengan hanya rebahan di rumah aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar