Hari ini aku cukup gabut, lalu aku scroll down chat di WA untuk ngehapus chat lama atau grup yg udah nggak aktif. Aku nemuin satu chat sama seseorang, jujur aku lupa pernah dichat sama orang ini. Chat itu di tahun 2018, itungannya masih maba dong ya. Isi chatnya adalah minta aku jadi sekretaris Divisi Kajian Strategis di suatu organisasi mahasiswa se-DIY. Saat itu aku inget lagi sibuk-sibuknya jadi Koor Divisi Publikasi acara Public Action 2018. Jadi aku menolak tawaran itu. Nggak hanya tawaran itu, dulu ada beberapa kesempatan lain yang juga aku tolak. Aku lebih memilih fokus dengan satu amanah atau ikut hal-hal lain yang mana aku justru perlu menawarkan diri.
Saat ini aku merenungi keputusanku menolak kesempatan-kesempatan itu. Walaupun di setiap keputusan itu aku punya alasan yang cukup masuk akal tampaknya ada aspek lain yang luput aku pertimbangkan. Aspek yang aku luput adalah tentang jenjang kemampuan di suatu circle. Ketika ada orang yang menawariku kesempatan artinya orang itu udah tau kompetensiku, kalo aku menerima kesempatan itu aku bisa meningkatkan kompetensiku. Sayangnya aku justru memilih meluaskan circle tanpa meningkatkan kompetensi.
Sekarang aku sadar orang lain yang terus meningkatkan kompetensinya justru lebih punya branding yang kuat. Dengan sendirinya circle dia juga akan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu menawarkan diri udah banyak yang nawarin kesempatan buat dia. Sementara aku saat ini walau malu harus mengaku bahwa kompetensiku stuck dan brandingku nol.
Walaupun di sisi lain aku juga mendapat manfaat seperti semakin luas punya koneksi. Tapi koneksi kalo nggak dibarengi dengan komunikasi yang intens juga nggak menghasilkan apapun. Aku musti membangun semangat untuk mencari kesempatan meningkatkan kompetensi. Satu hal penting yang harus aku bangun juga adalah passion. Ya!
Passion itu adalah dasar dari terwujudnya impian. Dengan adanya passion kita bisa lebih semangat menikmati proses meningkatkan kompetensi diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar