Salah
satu keinginanku di tahun yang baru adalah mulai menjadi traveler dan belajar
sejarah tentang kota-kota atau daerah-daerah yang ada di Indonesia. Mengunjungi
ibukota provinsi adalah yang paling aku utamakan.
Awalnya
Farrah ngajakin liburan dengan nginep di hotel yang ada di Jogja. Lah aku mikir
dong, ya kali orang Jogja kuliah di Jogja terus liburannya juga di Jogja. Titel
udah mahasiswa e, ya kali nggak mau main agak jauhan. Apalagi cuman mau nginep
di hotel, yang ada diketawain Nyi Roro Kidul. Di samping itu hari Jumat minggu
lalu aku juga sedang letih-letihnya ngerjain tugas magang. Rasanya pengen
refreshing dengan berkunjung ke tempat-tempat baru pas weekend. Jumat malemnya
aku Farrah sama Almira rembukan, intinya kita mau piknik ke Semarang. Lalu long story dan emang bener-bener panjang
cerita karena kami sebagai traveler newbie masih suka bingung buat memutuskan
sesuatu seperti tempat nginep dan objek wisata. Akhirnya, terpilih salah satu
hotel yang harganya murah, letaknya di tengah kota deket sama objek-objek
wisata, lalu kami pesan malam itu juga.
Sabtu
siang akhirnya aku gas berangkat dengan penuh semangat walaupun sebenarnya
ortuku agak melarang. Tapi ya sudahlah, kalo nggak ngeyel dikit aku pikir akan
sulit untuk mengeksplore hal-hal baru yang memang sudah saatnya dilakukan
olehku yang notabene generasi baru. Bingung yak? Intinya gitu deh, aku pengen
keluar dari pikiran-pikiran baku ortuku yang di zaman sekarang sudah
kadaluarsa. Pasalnya ortuku ini emang tipikal ortu yang jarang piknik, kalo
semisal libur ya cuman dirumah doang. Bosen kan?
Aku
Farrah dan Almira ke Semarang naik bus dari terminal Jombor. Waktu di terminal
kami asal nanya sama orang mana bus yang menuju ke Semarang. Lalu ditunjukin
salah satu bus ‘ekonomi’ yang hendak berangkat. Tanpa pikir panjang kita lantas
naik bus tersebut. Pas dimintain duit tiket, aku sempat heran kenapa bayarnya
murah cuman 13 ribu ternyata bus yang kami tumpangi musti transit dulu di
Magelang. Lucunya kami bertiga nggak tahu, jadi pas semua orang pada turun kita
tetep stay di bus sambil bingung. Lalu di bapak kondekturnya bilang ke kami
kalo musti turun dari bus dan pindah ke bus lain. Padahal kami bertiga udah
seneng gitu karena awalnya kepisah tempat duduknya, lalu karena pada turun jadi
bisa duduk jejer bertiga eh malah disuruh turun. Yaudah deh, daripada nggak
nyampe ke Semarang jadi kita pindah bus dan disuruh bayar lagi 25 ribu.
Perjalanan bisa dibilang lama karena sampe 4 jam lebih hingga tiba di Semarang.
Nggak nyaman pula karena walaupun bus ber-AC tapi banyak pengamen.
Sesampinya
di Semarang kami turun di dekat salah satu halte bus Trans Jateng. Selanjutnya
kami naik Trans Jateng. Wajah kami sumringah dan kelihatan banget ndesonya
karena jarang banget naik transportasi umum sejenis ini. Meskipun di Jogja juga
ada Trans Jogja, tapi kami nggak pernah pake sebab banyak faktor yang akan
puanjang jika dituliskan dan dikhawatirkan justru tulisan ini akan menjadi esai
ilmiah. Ternyata penumpang Trans Jateng banyak, aku ramal mereka adalah
pegawai-pegawai yang pulang kerja. Hari Sabtu aja cukup penuh, apalagi kalo
weekdays ketambah anak-anak sekolah. Sebelumnya kami memutuskan untuk langsung
ke Sam Poo Kong. Jadi kami turun di halte terdekar Sam Poo Kong yaitu Halte
Sukun dan melanjutkan perjalanan naik Go-car.
Aku kira
Sam Poo Kong adalah semacam klenteng biasa yang punya sejarah berkaitan dengan
Konghuchu, tapi ternyata klenteng ini punya sejarah berkaitan dengan ekspedisi
Laksamana Cheng Ho yang pernah singgah di tanah Semarang. Setelah puas berfoto
ria di Sam Poo Kong kami bertiga menuju hotel. Ketika itu sedang hujan deras,
jarak yang kami tempuh juga cukup jauh. Hotel tempat kami singgah harganya
sangat ramah sobat misqueen. Satu kamar 148 ribu, fasilitasnya lengkap dan
kamar mandi dalam. Kasur twin disatukan biar muat tidur bertiga. Situasi
kepepet emang bikin jenius. Malam itu juga sempat ke Pasar Semawis padahal udah
pada berberes penjual-penjualnya. Niatnya mau nyari nasi, tapi nggak nemu dan
akhirnya beli pisang plenet sama corndog. Buat memenuhi hasrat makan nasi, kami
go-food nasi goreng yang dikemas lucu ala-ala rice box. Tidak terduga ternyata
rasanya wenak lur!
Pagi
harinya kami bergegas berangkat menuju destinasi wisata selanjutnya yaitu Kota
Lama. Kami jalan kaki sekitar setengah kilo. Bangunan-bangunan di Kota Lama ini
menarik banget untuk difoto dan dijadikan background foto. Hampir setiap sudut
bangunan di sana aku fotoin. Setelah cukup puas berkeliling, kami bertiga makan
bubur ayam di tengah taman sembari menikmati suasana yang rasanya damai banget.
Ada orang silver juga yang cukup menghibur tapi kami enggan berfoto bersama
mereka karena harus bayar.
Objek
selanjutnya adalah Lawang Sewu. Dari Kota Lama jaraknya lebih dari sekilo, jadi
kami pake gocar. Lawang Sewu ternyata tidak genap punya 1000 pintu, tapi hanya
924 pintu. Gedung demi gedung kami masuki, berfoto-foto. Aku membayangkan
bagaimana dulu bangunan ini dijadikan kantor perusahaan kereta api dengan
banyak pegawai. Ada pertunjukkan musik di halaman tengah yang cukup
menghidupkan suasana. Lucunya juga ada sekuternya grab yang disewakan untuk muter-muter
halaman. Puas menikmati Lawang Sewu aku dan teman-teman bergegas balik ke hotel
karena kami harus check out jam 12.
Sesampainya
di hotel kami sebenernya masih ingin goler-goleran, menikmati kasur hotel yang
empuk. Enggan untuk pulang.
Selanjutnya
kami berniat ke Gedong Songo, bahkan kami juga udah menaiki angkot hingga tiba
ke Bandungan. Sampai sana sudah cukup sore, kami khawatir jika memaksanakn
lanjut nanti ujungnya malah nggak dapet kendaraan buat pulang ke Jogja. Episode
mau ke Gedong Songo ini sih sebenernya yang paling drama hingga melibatkan
sopir angkot, abang ojol, ibu-ibu yang habis belanja di pasar juga. Hahaha,
sekarang aku bahagia mengenang episode itu. Akhirnya kami memutuskan pulang
saja, setibanya di terminal Bawen kebetulan sekali ada bus yang mau berangkat
ke Jogja. Langsung kami naik, duduk secara terpisah. Sepanjang perjalanan aku
lebih banyak mendengarkan musik dari headset, bahkan orang yang duduk di
sampingku pun sama sekali tidak aku ajak bicara. Malas. Aku lelah. Hanya ingin
menikmati musik sambil mengenang momen dan pembelajaran yang aku peroleh dari
Semarang bersama sahabat-sahabat tersayang. Uwuwuww.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar