Minggu, 02 Februari 2020

Sok jadi Traveler ke Semarang


Salah satu keinginanku di tahun yang baru adalah mulai menjadi traveler dan belajar sejarah tentang kota-kota atau daerah-daerah yang ada di Indonesia. Mengunjungi ibukota provinsi adalah yang paling aku utamakan.
Awalnya Farrah ngajakin liburan dengan nginep di hotel yang ada di Jogja. Lah aku mikir dong, ya kali orang Jogja kuliah di Jogja terus liburannya juga di Jogja. Titel udah mahasiswa e, ya kali nggak mau main agak jauhan. Apalagi cuman mau nginep di hotel, yang ada diketawain Nyi Roro Kidul. Di samping itu hari Jumat minggu lalu aku juga sedang letih-letihnya ngerjain tugas magang. Rasanya pengen refreshing dengan berkunjung ke tempat-tempat baru pas weekend. Jumat malemnya aku Farrah sama Almira rembukan, intinya kita mau piknik ke Semarang. Lalu long story dan emang bener-bener panjang cerita karena kami sebagai traveler newbie masih suka bingung buat memutuskan sesuatu seperti tempat nginep dan objek wisata. Akhirnya, terpilih salah satu hotel yang harganya murah, letaknya di tengah kota deket sama objek-objek wisata, lalu kami pesan malam itu juga.
Sabtu siang akhirnya aku gas berangkat dengan penuh semangat walaupun sebenarnya ortuku agak melarang. Tapi ya sudahlah, kalo nggak ngeyel dikit aku pikir akan sulit untuk mengeksplore hal-hal baru yang memang sudah saatnya dilakukan olehku yang notabene generasi baru. Bingung yak? Intinya gitu deh, aku pengen keluar dari pikiran-pikiran baku ortuku yang di zaman sekarang sudah kadaluarsa. Pasalnya ortuku ini emang tipikal ortu yang jarang piknik, kalo semisal libur ya cuman dirumah doang. Bosen kan?
Aku Farrah dan Almira ke Semarang naik bus dari terminal Jombor. Waktu di terminal kami asal nanya sama orang mana bus yang menuju ke Semarang. Lalu ditunjukin salah satu bus ‘ekonomi’ yang hendak berangkat. Tanpa pikir panjang kita lantas naik bus tersebut. Pas dimintain duit tiket, aku sempat heran kenapa bayarnya murah cuman 13 ribu ternyata bus yang kami tumpangi musti transit dulu di Magelang. Lucunya kami bertiga nggak tahu, jadi pas semua orang pada turun kita tetep stay di bus sambil bingung. Lalu di bapak kondekturnya bilang ke kami kalo musti turun dari bus dan pindah ke bus lain. Padahal kami bertiga udah seneng gitu karena awalnya kepisah tempat duduknya, lalu karena pada turun jadi bisa duduk jejer bertiga eh malah disuruh turun. Yaudah deh, daripada nggak nyampe ke Semarang jadi kita pindah bus dan disuruh bayar lagi 25 ribu. Perjalanan bisa dibilang lama karena sampe 4 jam lebih hingga tiba di Semarang. Nggak nyaman pula karena walaupun bus ber-AC tapi banyak pengamen.
Sesampinya di Semarang kami turun di dekat salah satu halte bus Trans Jateng. Selanjutnya kami naik Trans Jateng. Wajah kami sumringah dan kelihatan banget ndesonya karena jarang banget naik transportasi umum sejenis ini. Meskipun di Jogja juga ada Trans Jogja, tapi kami nggak pernah pake sebab banyak faktor yang akan puanjang jika dituliskan dan dikhawatirkan justru tulisan ini akan menjadi esai ilmiah. Ternyata penumpang Trans Jateng banyak, aku ramal mereka adalah pegawai-pegawai yang pulang kerja. Hari Sabtu aja cukup penuh, apalagi kalo weekdays ketambah anak-anak sekolah. Sebelumnya kami memutuskan untuk langsung ke Sam Poo Kong. Jadi kami turun di halte terdekar Sam Poo Kong yaitu Halte Sukun dan melanjutkan perjalanan naik Go-car.



Aku kira Sam Poo Kong adalah semacam klenteng biasa yang punya sejarah berkaitan dengan Konghuchu, tapi ternyata klenteng ini punya sejarah berkaitan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho yang pernah singgah di tanah Semarang. Setelah puas berfoto ria di Sam Poo Kong kami bertiga menuju hotel. Ketika itu sedang hujan deras, jarak yang kami tempuh juga cukup jauh. Hotel tempat kami singgah harganya sangat ramah sobat misqueen. Satu kamar 148 ribu, fasilitasnya lengkap dan kamar mandi dalam. Kasur twin disatukan biar muat tidur bertiga. Situasi kepepet emang bikin jenius. Malam itu juga sempat ke Pasar Semawis padahal udah pada berberes penjual-penjualnya. Niatnya mau nyari nasi, tapi nggak nemu dan akhirnya beli pisang plenet sama corndog. Buat memenuhi hasrat makan nasi, kami go-food nasi goreng yang dikemas lucu ala-ala rice box. Tidak terduga ternyata rasanya wenak lur!
Pagi harinya kami bergegas berangkat menuju destinasi wisata selanjutnya yaitu Kota Lama. Kami jalan kaki sekitar setengah kilo. Bangunan-bangunan di Kota Lama ini menarik banget untuk difoto dan dijadikan background foto. Hampir setiap sudut bangunan di sana aku fotoin. Setelah cukup puas berkeliling, kami bertiga makan bubur ayam di tengah taman sembari menikmati suasana yang rasanya damai banget. Ada orang silver juga yang cukup menghibur tapi kami enggan berfoto bersama mereka karena harus bayar.


Objek selanjutnya adalah Lawang Sewu. Dari Kota Lama jaraknya lebih dari sekilo, jadi kami pake gocar. Lawang Sewu ternyata tidak genap punya 1000 pintu, tapi hanya 924 pintu. Gedung demi gedung kami masuki, berfoto-foto. Aku membayangkan bagaimana dulu bangunan ini dijadikan kantor perusahaan kereta api dengan banyak pegawai. Ada pertunjukkan musik di halaman tengah yang cukup menghidupkan suasana. Lucunya juga ada sekuternya grab yang disewakan untuk muter-muter halaman. Puas menikmati Lawang Sewu aku dan teman-teman bergegas balik ke hotel karena kami harus check out jam 12.


Sesampainya di hotel kami sebenernya masih ingin goler-goleran, menikmati kasur hotel yang empuk. Enggan untuk pulang.
Selanjutnya kami berniat ke Gedong Songo, bahkan kami juga udah menaiki angkot hingga tiba ke Bandungan. Sampai sana sudah cukup sore, kami khawatir jika memaksanakn lanjut nanti ujungnya malah nggak dapet kendaraan buat pulang ke Jogja. Episode mau ke Gedong Songo ini sih sebenernya yang paling drama hingga melibatkan sopir angkot, abang ojol, ibu-ibu yang habis belanja di pasar juga. Hahaha, sekarang aku bahagia mengenang episode itu. Akhirnya kami memutuskan pulang saja, setibanya di terminal Bawen kebetulan sekali ada bus yang mau berangkat ke Jogja. Langsung kami naik, duduk secara terpisah. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak mendengarkan musik dari headset, bahkan orang yang duduk di sampingku pun sama sekali tidak aku ajak bicara. Malas. Aku lelah. Hanya ingin menikmati musik sambil mengenang momen dan pembelajaran yang aku peroleh dari Semarang bersama sahabat-sahabat tersayang. Uwuwuww.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar