Sabtu, 18 Januari 2020

Warung Kopi Merapi



Sejak madrasah diniyah di salah satu pondok pesantren deket rumah aku mulai dekat dengan dua orang teman yaitu Maya dan Tyas. Kami bertiga satu SD tapi beda angkatan, aku angkatan paling tua, disusul Tyas lalu Maya. Lucunya di madrasah kami juga beda angkatan, tapi kebalikan dari angkatan SD di madrasah justru Maya yang paling tua, lalu Tyas barulah aku. Hingga sekarang kami bertiga masih menjalin pertemanan walaupun jarang ketemu. Biasanya kami ketemu kalo salah satu dari kami ada yang ulang tahun.
Tanggal 2 Januari kemarin kami janjian untuk main bareng ke Kopi Merapi. Sebelumnya aku nggak pernah ke sana dan nggak ada kepikiran untuk ke sana. Namun kata Maya tempat itu menarik untuk dikunjungi, ngobrol santai sambil foto-foto. Jarak dari rumah kami ke Kopi Merapi jauh, iyalah jauh kan emang berada di lereng Gunung Merapi sedangkan rumah kami ada di Bantul pojok timur. Kami bertiga ke sana naik motor. Pas berangkat dari rumah cuaca masih mendukung alias nggak hujan, perjalanan kami kurang lebih satu jam. Jalanannya berubah agak terjal ketika hendak mendekati tujuan. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan jeep-jeep yang membawa wisatawan. Sesampainya di Warung Kopi Merapi aku baru ngeh ternyata lokasinya ada di Kalibiru. Dulu aku sama keluargaku pernah melewati tempat ini pas liburan naik jeep.







Warung Kopi Merapi letaknya jauh dari permukiman warga. Dari arsitekturnya warung ini cukup menarik. Bangunan warung ini jauh dari kata mewah, seolah kesannya hanya asal dibangun. Ketika masuk pertama kali, interior dari warung ini hanyalah seperti warung pada umumnya tapi suasananya sangat ramai. Namun setelah masuk lebih dalam lagi, barulah aku menemukan sesuatu yang unik. Bagian belakang dari warung ini menyediakan tempat duduk dan meja yang terbuat dari batu berukuran besar-besar. Konsepnya semacam di zaman purba. Selain itu, furnitur-furnitur yang ada adalah barang bekas seperti jendela dan pintu. Orang-orang yang datang ke sini biasanya mereka datang rame-rame bareng keluarga atau teman. Ada juga sih yang bareng pasangan. Semakin ke belakang dari warung ini, ada pemandangan alam Gunung Merapi yang indah. Ternyata warung ini sebenarnya berlokasi di samping sungai. Kami bertiga pun akhirnya berfoto-foto di jembatan dengan berlatar belakang Gunung Merapi. Foto di spot ini perlu hati-hati karena banyak jeep yang berlalu lalang.
Makanan dan minuman di warung ini sebenarnya sekilas tidak begitu istimewa. Mereka menyediakan makanan seperti gorengan dan mie instan. Sementara minumnannya ada aneka macam kopi, susu, dan teh. Aku ingin memesan sesuatu yang khas warung ini, akhirnya aku pun beli kopi arabica susu dan makanan sejuta umat yaitu mie instan kuah. Minuman lain yang kami pesan yaitu kopi robusta susu dan wedang gedang. Pesanan kami datangnya sangat lama, ada sekitar satu setengah jam kami menunggu. Sebalnya lagi, ruangan di warung ini tidak ada pembagian smoking area. Jadi pas kami nunggu, sebelah kami ada yang ngerokok dan itu sangat mengganggu.
Selama menunggu kami bertiga ngobrol tentang cukup banyak hal. Tentang kuliah dan teman-teman SD kami yang sekarang sudah banyak yang bekerja dan menikah. Dari obrolan itu aku sebenarnya bisa membaca masalah-masalah yang dihadapi teman-temanku, mulai dari masalah pendidikan dan pekerjaan. Dalam hatiku terdalam aku merasa iba kepada mereka yang menghadapi masalah-masalah tersebut. Sementara diriku ini harusnya banyak bersyukur karena beruntung sekali atas apa yang aku punya. Lalu, aku berpikir bagaimana caranya agar apa yang aku miliki sekarang nantinya juga bisa memberikan manfaat bagi mereka. Aku yang titelnya mahasiswa, bisa apa aku?


Setelah menunggu lama, makanan dan minuman pesanan kami akhirnya datang. Kopi arabica susu yang aku pesan rasanya enak juga, agak sepet tapi juga cukup manis. Kopi robusta juga enak, tapi wedhang gedang rasanya agak aneh. Setelah aku baca dari internet ternyata kopi di sini memang khas. Ditanam di lahan vulkanik dan dibuat dengan cara tradisional.
Waktu sudah sukup sore, sekitar pukul setengah tiga. Lalu kami memutuskan untuk pulang. Sayangnya ketika mau pulang, hujan deras pun turun. Kami tetap memaksa pulang dengan memakai mantol. Sesampainya di bawah sekitar kampus UGM, hujan sudah reda dan cuaca mulai panas. Kami memutuskan untuk melepas mantol. Selanjutnya aku berpisah dengan mereka karena hendak ke warnet dulu buat nyetock film.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar