Sejak
madrasah diniyah di salah satu pondok pesantren deket rumah aku mulai dekat dengan
dua orang teman yaitu Maya dan Tyas. Kami bertiga satu SD tapi beda angkatan,
aku angkatan paling tua, disusul Tyas lalu Maya. Lucunya di madrasah kami juga
beda angkatan, tapi kebalikan dari angkatan SD di madrasah justru Maya yang
paling tua, lalu Tyas barulah aku. Hingga sekarang kami bertiga masih menjalin
pertemanan walaupun jarang ketemu. Biasanya kami ketemu kalo salah satu dari
kami ada yang ulang tahun.
Tanggal
2 Januari kemarin kami janjian untuk main bareng ke Kopi Merapi. Sebelumnya aku
nggak pernah ke sana dan nggak ada kepikiran untuk ke sana. Namun kata Maya
tempat itu menarik untuk dikunjungi, ngobrol santai sambil foto-foto. Jarak
dari rumah kami ke Kopi Merapi jauh, iyalah jauh kan emang berada di lereng
Gunung Merapi sedangkan rumah kami ada di Bantul pojok timur. Kami bertiga ke
sana naik motor. Pas berangkat dari rumah cuaca masih mendukung alias nggak hujan,
perjalanan kami kurang lebih satu jam. Jalanannya berubah agak terjal ketika
hendak mendekati tujuan. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan jeep-jeep
yang membawa wisatawan. Sesampainya di Warung Kopi Merapi aku baru ngeh
ternyata lokasinya ada di Kalibiru. Dulu aku sama keluargaku pernah melewati tempat
ini pas liburan naik jeep.
Warung
Kopi Merapi letaknya jauh dari permukiman warga. Dari arsitekturnya warung ini
cukup menarik. Bangunan warung ini jauh dari kata mewah, seolah kesannya hanya
asal dibangun. Ketika masuk pertama kali, interior dari warung ini hanyalah
seperti warung pada umumnya tapi suasananya sangat ramai. Namun setelah masuk
lebih dalam lagi, barulah aku menemukan sesuatu yang unik. Bagian belakang dari
warung ini menyediakan tempat duduk dan meja yang terbuat dari batu berukuran
besar-besar. Konsepnya semacam di zaman purba. Selain itu, furnitur-furnitur
yang ada adalah barang bekas seperti jendela dan pintu. Orang-orang yang datang
ke sini biasanya mereka datang rame-rame bareng keluarga atau teman. Ada juga
sih yang bareng pasangan. Semakin ke belakang dari warung ini, ada pemandangan
alam Gunung Merapi yang indah. Ternyata warung ini sebenarnya berlokasi di
samping sungai. Kami bertiga pun akhirnya berfoto-foto di jembatan dengan
berlatar belakang Gunung Merapi. Foto di spot ini perlu hati-hati karena banyak
jeep yang berlalu lalang.
Makanan
dan minuman di warung ini sebenarnya sekilas tidak begitu istimewa. Mereka
menyediakan makanan seperti gorengan dan mie instan. Sementara minumnannya ada aneka
macam kopi, susu, dan teh. Aku ingin memesan sesuatu yang khas warung ini,
akhirnya aku pun beli kopi arabica susu dan makanan sejuta umat yaitu mie
instan kuah. Minuman lain yang kami pesan yaitu kopi robusta susu dan wedang
gedang. Pesanan kami datangnya sangat lama, ada sekitar satu setengah jam kami
menunggu. Sebalnya lagi, ruangan di warung ini tidak ada pembagian smoking
area. Jadi pas kami nunggu, sebelah kami ada yang ngerokok dan itu sangat
mengganggu.
Selama
menunggu kami bertiga ngobrol tentang cukup banyak hal. Tentang kuliah dan
teman-teman SD kami yang sekarang sudah banyak yang bekerja dan menikah. Dari obrolan
itu aku sebenarnya bisa membaca masalah-masalah yang dihadapi teman-temanku, mulai
dari masalah pendidikan dan pekerjaan. Dalam hatiku terdalam aku merasa iba
kepada mereka yang menghadapi masalah-masalah tersebut. Sementara diriku ini
harusnya banyak bersyukur karena beruntung sekali atas apa yang aku punya.
Lalu, aku berpikir bagaimana caranya agar apa yang aku miliki sekarang nantinya
juga bisa memberikan manfaat bagi mereka. Aku yang titelnya mahasiswa, bisa apa
aku?
Setelah
menunggu lama, makanan dan minuman pesanan kami akhirnya datang. Kopi arabica
susu yang aku pesan rasanya enak juga, agak sepet tapi juga cukup manis. Kopi
robusta juga enak, tapi wedhang gedang rasanya agak aneh. Setelah aku baca dari
internet ternyata kopi di sini memang khas. Ditanam di lahan vulkanik dan
dibuat dengan cara tradisional.
Waktu
sudah sukup sore, sekitar pukul setengah tiga. Lalu kami memutuskan untuk
pulang. Sayangnya ketika mau pulang, hujan deras pun turun. Kami tetap memaksa
pulang dengan memakai mantol. Sesampainya di bawah sekitar kampus UGM, hujan
sudah reda dan cuaca mulai panas. Kami memutuskan untuk melepas mantol. Selanjutnya
aku berpisah dengan mereka karena hendak ke warnet dulu buat nyetock film.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar