Malam ini,
daripada beranjak untuk tidur aku memilih untuk nulis. Sebenernya aku nggak
tahu mau nulis apa malam ini. Ada banyak hal yang aku pikirkan dan coba aku
renungi hari ini. Akan aku coba ingat dan tulis satu-satu. Jadi, mohon maaf
kalo tulisan ini nantinya akan kurang fokus dan menjalar kemana-mana. Untukku tidak
mengapa, toh aku memang sedang belajar menulis.
Hari ini aku
merasa lebih bahagia dari hari sebelumnya, rasanya hari ini aku lebih
produktif. Walaupun produktivitasku tidak bisa dibandingkan dengan
produktivitas orang lain. Tadi pagi seperti biasa aku bangun jam lima, shalat,
lalu tidur lagi dengan kondisi masih pake mukena. Suara ibulah yang kemudian
membangunkanku kembali, menandakan aku harus segera bangun untuk membantunya.
Aku tidak benci untuk bangun pagi, justru aku ingin bangun sebelum subuh supaya
bisa menjalankan shalat tahajjud. Namun ntah setan apa yang merasukiku, alarm
yang aku set jam setengah empat tidak pernah berhasil membangunkanku.
Perintah ibu
terkadang tidak bisa dinegosiasi, jadi kalo dia menyuruhku bangun maka aku
harus bangun. Jangan dikira bangun hanya sekadar perintah untuk membuka mata.
Makna dari perintah bangun dari ibuku adalah aku harus segera memegang sapu
atau ke dapur untuk mengurus piring-piring kotor. Kali ini aku beruntung karena
piring kotor sejak semalam sudah dicuci oleh ibu, lantas aku pun bergegas
megang sapu. Menyapu aku lakukan dari kamar orang tuaku, dalam kondisi masih
ingin tidur aku tergoda dengan pesona kasur empuk nan lebar di kamar ortu. Aku
tidak kuasa untuk menolak hawa nafsu tidur di atasnya, lalu aku lakukan. Ya,
begitulah kiranya ukuran keimananku, cetek bukan? Nikmatnya tidur...
Hei, bukankah
kamu harusnya bercerita tentang produktivitas hari ini?
Sabar, itu tadi
adalah cerita di episode pagi dengan durasi yang singkat. Kenikmatan tidur itu
lantas sirna dengan panggilan ibu. Lalu aku melanjutkan nyapu hingga selesai.
Keluargaku
terbiasa membuat teh di pagi dan sore hari, kebiasaan yang nampaknya akan
menular padaku. Sejak awal 2020, kalo di pagi hari aku ada waktu luang maka aku
selalu menyempatkan menikmati secangkir teh sambil menulis rencanaku dalam sehari.
Nah, setelah diberlakukan Study at Home
maka aku semakin rutin menjalani kebiasaan nge-teh tersebut.
Setelah
menikmati teh dan merencanakan kegiatan hari ini (yang tentunya di rumah aja),
aku membuka sosmed-sosmedku. Hei, ada yang menarik dong. Si Arva - temenku
sejak SMA dan sekarang juga jadi temen sejurusanku – mengirimi challenge di grup kelas. Menariknya adalah challenge tersebut berupa main skipping, olahraga yang aku sukai. Jadi, yang mau ikut challenge tersebut kudu main skipping 100x tanpa jeda. Bukannya
sombong, bagi aku yang emang dari kecil hobi main lompat tali itu adalah
tantangan yang mudah, wkwk. Jadilah pagi sampai siang hariku yang harusnya aku
peruntukkan mikirin topik skripsi malah aku pake main challenge. Tapi aku nggak menyesal sih, karena aku jadi bisa dapet
voucher gopay dan buat konten story di WA dan IG. Lalu siang sampe sore aku
nyoba masak bahan-bahan yang ada di kulkas sambil buat konten juga. Pokoknya
kegiatan olahraga dan memasakku tadi semua aku buat story. Dasar generasi penuh
pencitraan. Namun nyatanya ada rasa yang cukup puas ketika story-story itu
mendapat respon yang baik dan banyak dari temen-temen, hehe.
Pada akhirnya
aku jadi bisa lebih tahu apa yang aku suka dan ingin aku bagikan ke orang lain.
Setidaknya ada hal-hal yang layak aku pertontonkan ke orang lain dan semoga
bisa menginspirasi orang untuk ikutan olahraga atau masak. Jadi, selama di
rumah aja nggak hanya rebahan aja. Namun, hal yang aku sedikit sayangkan juga
adalah bahwa rencana kegiatanku tidak berjalan sesuai rundown. Untuk kegiatan ngeblog ini aja deh, harusnya aku kerjain
tadi sore selepas ashar eh malah baru sekarang jam 00.32 baru kelar. Tidak
mengapa, pada akhirnya aku sedikit paham bahwa hal-hal yang di luar rencana
terkadang juga bisa ngasih kita pemahaman baru tentang diri sendiri. Kegiatan
yang kita susun (bukan hal yang mendesak) juga bisa dikerjakan di penghujung
hari, asalkan kita mau sedikit memaksa diri untuk mengerjakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar