Minggu, 05 Juli 2020

Mengenang Kesempatan

Hari ini aku cukup gabut, lalu aku scroll down chat di WA untuk ngehapus chat lama atau grup yg udah nggak aktif. Aku nemuin satu chat sama seseorang, jujur aku lupa pernah dichat sama orang ini. Chat itu di tahun 2018, itungannya masih maba dong ya. Isi chatnya adalah minta  aku jadi sekretaris Divisi Kajian Strategis di suatu organisasi mahasiswa se-DIY. Saat itu aku inget lagi sibuk-sibuknya jadi Koor Divisi Publikasi acara Public Action 2018. Jadi aku menolak tawaran itu. Nggak hanya tawaran itu, dulu ada beberapa kesempatan lain yang juga aku tolak. Aku lebih memilih fokus dengan satu amanah atau ikut hal-hal lain yang mana aku justru perlu menawarkan diri. 
Saat ini aku merenungi keputusanku menolak kesempatan-kesempatan itu. Walaupun di setiap keputusan itu aku punya alasan yang cukup masuk akal tampaknya ada aspek lain yang luput aku pertimbangkan. Aspek yang aku luput adalah tentang jenjang kemampuan di suatu circle. Ketika ada orang yang menawariku kesempatan artinya orang itu udah tau kompetensiku, kalo aku menerima kesempatan itu aku bisa meningkatkan kompetensiku. Sayangnya aku justru memilih meluaskan circle tanpa meningkatkan kompetensi. 
Sekarang aku sadar orang lain yang terus meningkatkan kompetensinya justru lebih punya branding yang kuat. Dengan sendirinya circle dia juga akan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu menawarkan diri udah banyak yang nawarin kesempatan buat dia. Sementara aku saat ini walau malu harus mengaku bahwa kompetensiku stuck dan brandingku nol. 
Walaupun di sisi lain aku juga mendapat manfaat seperti semakin luas punya koneksi. Tapi koneksi kalo nggak dibarengi dengan komunikasi yang intens juga nggak menghasilkan apapun. Aku musti membangun semangat untuk mencari kesempatan meningkatkan kompetensi. Satu hal penting yang harus aku bangun juga adalah passion. Ya! 
Passion itu adalah dasar dari terwujudnya impian. Dengan adanya passion kita bisa lebih semangat menikmati proses meningkatkan kompetensi diri. 

Kamis, 09 April 2020

Cerita tentang Hari Ini


Malam ini, daripada beranjak untuk tidur aku memilih untuk nulis. Sebenernya aku nggak tahu mau nulis apa malam ini. Ada banyak hal yang aku pikirkan dan coba aku renungi hari ini. Akan aku coba ingat dan tulis satu-satu. Jadi, mohon maaf kalo tulisan ini nantinya akan kurang fokus dan menjalar kemana-mana. Untukku tidak mengapa, toh aku memang sedang belajar menulis.
Hari ini aku merasa lebih bahagia dari hari sebelumnya, rasanya hari ini aku lebih produktif. Walaupun produktivitasku tidak bisa dibandingkan dengan produktivitas orang lain. Tadi pagi seperti biasa aku bangun jam lima, shalat, lalu tidur lagi dengan kondisi masih pake mukena. Suara ibulah yang kemudian membangunkanku kembali, menandakan aku harus segera bangun untuk membantunya. Aku tidak benci untuk bangun pagi, justru aku ingin bangun sebelum subuh supaya bisa menjalankan shalat tahajjud. Namun ntah setan apa yang merasukiku, alarm yang aku set jam setengah empat tidak pernah berhasil membangunkanku.
Perintah ibu terkadang tidak bisa dinegosiasi, jadi kalo dia menyuruhku bangun maka aku harus bangun. Jangan dikira bangun hanya sekadar perintah untuk membuka mata. Makna dari perintah bangun dari ibuku adalah aku harus segera memegang sapu atau ke dapur untuk mengurus piring-piring kotor. Kali ini aku beruntung karena piring kotor sejak semalam sudah dicuci oleh ibu, lantas aku pun bergegas megang sapu. Menyapu aku lakukan dari kamar orang tuaku, dalam kondisi masih ingin tidur aku tergoda dengan pesona kasur empuk nan lebar di kamar ortu. Aku tidak kuasa untuk menolak hawa nafsu tidur di atasnya, lalu aku lakukan. Ya, begitulah kiranya ukuran keimananku, cetek bukan? Nikmatnya tidur...
Hei, bukankah kamu harusnya bercerita tentang produktivitas hari ini?
Sabar, itu tadi adalah cerita di episode pagi dengan durasi yang singkat. Kenikmatan tidur itu lantas sirna dengan panggilan ibu. Lalu aku melanjutkan nyapu hingga selesai.
Keluargaku terbiasa membuat teh di pagi dan sore hari, kebiasaan yang nampaknya akan menular padaku. Sejak awal 2020, kalo di pagi hari aku ada waktu luang maka aku selalu menyempatkan menikmati secangkir teh sambil menulis rencanaku dalam sehari. Nah, setelah diberlakukan Study at Home maka aku semakin rutin menjalani kebiasaan nge-teh tersebut.
Setelah menikmati teh dan merencanakan kegiatan hari ini (yang tentunya di rumah aja), aku membuka sosmed-sosmedku. Hei, ada yang menarik dong. Si Arva - temenku sejak SMA dan sekarang juga jadi temen sejurusanku – mengirimi challenge  di grup kelas. Menariknya adalah challenge tersebut berupa main skipping, olahraga yang aku sukai.  Jadi, yang mau ikut challenge tersebut kudu main skipping 100x tanpa jeda. Bukannya sombong, bagi aku yang emang dari kecil hobi main lompat tali itu adalah tantangan yang mudah, wkwk. Jadilah pagi sampai siang hariku yang harusnya aku peruntukkan mikirin topik skripsi malah aku pake main challenge. Tapi aku nggak menyesal sih, karena aku jadi bisa dapet voucher gopay dan buat konten story di WA dan IG. Lalu siang sampe sore aku nyoba masak bahan-bahan yang ada di kulkas sambil buat konten juga. Pokoknya kegiatan olahraga dan memasakku tadi semua aku buat story. Dasar generasi penuh pencitraan. Namun nyatanya ada rasa yang cukup puas ketika story-story itu mendapat respon yang baik dan banyak dari temen-temen, hehe.
Pada akhirnya aku jadi bisa lebih tahu apa yang aku suka dan ingin aku bagikan ke orang lain. Setidaknya ada hal-hal yang layak aku pertontonkan ke orang lain dan semoga bisa menginspirasi orang untuk ikutan olahraga atau masak. Jadi, selama di rumah aja nggak hanya rebahan aja. Namun, hal yang aku sedikit sayangkan juga adalah bahwa rencana kegiatanku tidak berjalan sesuai rundown. Untuk kegiatan ngeblog ini aja deh, harusnya aku kerjain tadi sore selepas ashar eh malah baru sekarang jam 00.32 baru kelar. Tidak mengapa, pada akhirnya aku sedikit paham bahwa hal-hal yang di luar rencana terkadang juga bisa ngasih kita pemahaman baru tentang diri sendiri. Kegiatan yang kita susun (bukan hal yang mendesak) juga bisa dikerjakan di penghujung hari, asalkan kita mau sedikit memaksa diri untuk mengerjakannya.



Selasa, 31 Maret 2020

Di Rumah Aja


Halo, selamat pagi. Hari masih pagi ketika aku memutuskan menulis kembali. Iya, menulis kembali. Sudah lama aku tidak menuliskan kisahku yang mungkin akan dirindukan. Bukan oleh orang lain, oleh diriku sendiri. Menulis bagiku adalah suatu terapi, membuat segala yang di pikiran menjadi lebih tenang, hati menjadi lebih lapang, dan setidaknya merasa bangga bisa menulis. Sudah aku putuskan bahwasanya aku akan menulis di blog ini minimal seminggu sekali. Semoga saja bisa konsisten ya!
Mulai tanggal 15 Maret yang lalu kampusku udah memutuskan untuk meniadakan kuliah tatap muka karena wabah virus corona (covid-19) yang semakin meluas. Semenjak saat itu, beberapa kelas diadakan secara online dan tugas-tugas mulai berdatangan tiada henti. Minggu pertama ‘belajar di rumah’ membuatku merasa kesepian. Kampusku memang pionir dalam pengambilan keputusan, salah satunya terkait tindakan-tindakan responsif terhadap virus corona. Keluarga saat itu masih berkegiatan normal. Sebenernya aku di rumah nggak sendiri banget sih, ada budhe dan simbahku. Teman-temanku beberapa ada yang masih ke kampus buat nugas dan ngurus ini itu. Sementara aku, sejak minggu pertama udah benar-benar di rumah aja, pergi kalo hanya mau beli pulsa atau bensin. Sedihnya kala itu, aku merasa dicampakkan sama beberapa temen yang nggak bales chatku padahal aku cuman pengen tahu aja kabar mereka kayak gimana.
Tanggal 22 Maret aku melakukan sertifikasi TTL E-Voting Pilkades Sleman di Stadion Maguwoharjo. Acara itu mau nggak mau harus aku ikuti, walaupun situasi udah semakin mencekam. Setidaknya sedikit tenang soalnya di stadion itu ada protokol kesehatan kayak cuci tangan, cek suhu tubuh, dikasih masker dan vitamin. Stadionnya juga katanya udah disemprot disinfektan. Sertifikasiku berjalan lancar, aku pulang lebih cepat daripada lainnya. Namun, beberapa hari kemudian ada kebijakan bahwa penyelenggaraan Pilkades serentak ditunda. Kebijakan itu yang sebenarnya aku dan teman-temanku dambakan.
Sekarang udah tanggal 31 Maret, pemerintah Indonesia sendiri belum memberlakukan kebijakan yang tegas buat menangani virus menakutkan ini. Lockdown engga test massal juga belum optimal. Himbauan buat social distancing dan physical distancing juga mana mempan buat beberapa masyarakat Indo yang punya hobi kumpul-kumpul dan melakukan segala halnya itu gerudukan. Orang-orang udah pada tahu tentang himbauan itu, tapi sebagian dari mereka masih ngeyel dengan alasan gotong-royong buat melawan corona.
Iya aku ngerti gotong-royong itu baik banget. Mengerahkan banyak orang untuk melakukan suatu hal yang bermanfaat itu keren. Tapi dalam kondisi yang kayak gini tolong dong digunain otaknya buat mikir adanya risiko. Kalian ini udah saking pedenya bahwa kalo kalian orang asli sini artinya kalian sehat-sehat aja. Padahal kalian tau nggak sih, kalo orang sehat itu juga bisa jadi pembawa virus dan bahaya kalo nular ke orang lain yang daya imunnya lemah. Faktanya ketika kalian melakukan gotong royong itu, ada beberapa orang yang engga menjaga etika bersin malah seakan bersin itu dipamerin. Gila itu, saking pedenya kalian. Mengerahkan orang banyak pun sebenernya nggak efisien banget kok, nyatanya ketika gotong-royong banyak yang gabut. Udah tahu kayak gitu, masih aja dilakukan lagi. Hobi banget yak ngumpulin banyak orang dengan dalih kekompakkan untuk suatu hal yang bermanfaat, tapi nggak mempertimbangkan risiko dan efisiensi kerja. Mbok ya ngerahin orang itu seperlunya aja demi mengurangi risiko penularan virus. Sekali lagi, filosofi gugur gunung itu bangus tapi perlu dilakukan dengan pemikiran yang matang. Simpelnya nih, suatu pekerjaan yang bisa dikerjain 5 orang tuh nggak perlu mengerahkan 50 orang.
Namun di sisi lain aku juga mikir, ketika mereka bisa kontributif dengan cara yang kurang tepat begitu, lantas apa yang bisa aku lakukan untuk turut berkontribusi juga? Aku mau berdonasi aja nggak punya duit. Mau ikut jadi relawan nggak tau mau ikut ngapain. Mirikin suatu kebijakan yang efektif juga urung aku lakukan.
Ya begitulah ironisnya, diriku yang bisa mengkritik kontribusi orang lain dengan hanya rebahan di rumah aja.

Minggu, 02 Februari 2020

Sok jadi Traveler ke Semarang


Salah satu keinginanku di tahun yang baru adalah mulai menjadi traveler dan belajar sejarah tentang kota-kota atau daerah-daerah yang ada di Indonesia. Mengunjungi ibukota provinsi adalah yang paling aku utamakan.
Awalnya Farrah ngajakin liburan dengan nginep di hotel yang ada di Jogja. Lah aku mikir dong, ya kali orang Jogja kuliah di Jogja terus liburannya juga di Jogja. Titel udah mahasiswa e, ya kali nggak mau main agak jauhan. Apalagi cuman mau nginep di hotel, yang ada diketawain Nyi Roro Kidul. Di samping itu hari Jumat minggu lalu aku juga sedang letih-letihnya ngerjain tugas magang. Rasanya pengen refreshing dengan berkunjung ke tempat-tempat baru pas weekend. Jumat malemnya aku Farrah sama Almira rembukan, intinya kita mau piknik ke Semarang. Lalu long story dan emang bener-bener panjang cerita karena kami sebagai traveler newbie masih suka bingung buat memutuskan sesuatu seperti tempat nginep dan objek wisata. Akhirnya, terpilih salah satu hotel yang harganya murah, letaknya di tengah kota deket sama objek-objek wisata, lalu kami pesan malam itu juga.
Sabtu siang akhirnya aku gas berangkat dengan penuh semangat walaupun sebenarnya ortuku agak melarang. Tapi ya sudahlah, kalo nggak ngeyel dikit aku pikir akan sulit untuk mengeksplore hal-hal baru yang memang sudah saatnya dilakukan olehku yang notabene generasi baru. Bingung yak? Intinya gitu deh, aku pengen keluar dari pikiran-pikiran baku ortuku yang di zaman sekarang sudah kadaluarsa. Pasalnya ortuku ini emang tipikal ortu yang jarang piknik, kalo semisal libur ya cuman dirumah doang. Bosen kan?
Aku Farrah dan Almira ke Semarang naik bus dari terminal Jombor. Waktu di terminal kami asal nanya sama orang mana bus yang menuju ke Semarang. Lalu ditunjukin salah satu bus ‘ekonomi’ yang hendak berangkat. Tanpa pikir panjang kita lantas naik bus tersebut. Pas dimintain duit tiket, aku sempat heran kenapa bayarnya murah cuman 13 ribu ternyata bus yang kami tumpangi musti transit dulu di Magelang. Lucunya kami bertiga nggak tahu, jadi pas semua orang pada turun kita tetep stay di bus sambil bingung. Lalu di bapak kondekturnya bilang ke kami kalo musti turun dari bus dan pindah ke bus lain. Padahal kami bertiga udah seneng gitu karena awalnya kepisah tempat duduknya, lalu karena pada turun jadi bisa duduk jejer bertiga eh malah disuruh turun. Yaudah deh, daripada nggak nyampe ke Semarang jadi kita pindah bus dan disuruh bayar lagi 25 ribu. Perjalanan bisa dibilang lama karena sampe 4 jam lebih hingga tiba di Semarang. Nggak nyaman pula karena walaupun bus ber-AC tapi banyak pengamen.
Sesampinya di Semarang kami turun di dekat salah satu halte bus Trans Jateng. Selanjutnya kami naik Trans Jateng. Wajah kami sumringah dan kelihatan banget ndesonya karena jarang banget naik transportasi umum sejenis ini. Meskipun di Jogja juga ada Trans Jogja, tapi kami nggak pernah pake sebab banyak faktor yang akan puanjang jika dituliskan dan dikhawatirkan justru tulisan ini akan menjadi esai ilmiah. Ternyata penumpang Trans Jateng banyak, aku ramal mereka adalah pegawai-pegawai yang pulang kerja. Hari Sabtu aja cukup penuh, apalagi kalo weekdays ketambah anak-anak sekolah. Sebelumnya kami memutuskan untuk langsung ke Sam Poo Kong. Jadi kami turun di halte terdekar Sam Poo Kong yaitu Halte Sukun dan melanjutkan perjalanan naik Go-car.



Aku kira Sam Poo Kong adalah semacam klenteng biasa yang punya sejarah berkaitan dengan Konghuchu, tapi ternyata klenteng ini punya sejarah berkaitan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho yang pernah singgah di tanah Semarang. Setelah puas berfoto ria di Sam Poo Kong kami bertiga menuju hotel. Ketika itu sedang hujan deras, jarak yang kami tempuh juga cukup jauh. Hotel tempat kami singgah harganya sangat ramah sobat misqueen. Satu kamar 148 ribu, fasilitasnya lengkap dan kamar mandi dalam. Kasur twin disatukan biar muat tidur bertiga. Situasi kepepet emang bikin jenius. Malam itu juga sempat ke Pasar Semawis padahal udah pada berberes penjual-penjualnya. Niatnya mau nyari nasi, tapi nggak nemu dan akhirnya beli pisang plenet sama corndog. Buat memenuhi hasrat makan nasi, kami go-food nasi goreng yang dikemas lucu ala-ala rice box. Tidak terduga ternyata rasanya wenak lur!
Pagi harinya kami bergegas berangkat menuju destinasi wisata selanjutnya yaitu Kota Lama. Kami jalan kaki sekitar setengah kilo. Bangunan-bangunan di Kota Lama ini menarik banget untuk difoto dan dijadikan background foto. Hampir setiap sudut bangunan di sana aku fotoin. Setelah cukup puas berkeliling, kami bertiga makan bubur ayam di tengah taman sembari menikmati suasana yang rasanya damai banget. Ada orang silver juga yang cukup menghibur tapi kami enggan berfoto bersama mereka karena harus bayar.


Objek selanjutnya adalah Lawang Sewu. Dari Kota Lama jaraknya lebih dari sekilo, jadi kami pake gocar. Lawang Sewu ternyata tidak genap punya 1000 pintu, tapi hanya 924 pintu. Gedung demi gedung kami masuki, berfoto-foto. Aku membayangkan bagaimana dulu bangunan ini dijadikan kantor perusahaan kereta api dengan banyak pegawai. Ada pertunjukkan musik di halaman tengah yang cukup menghidupkan suasana. Lucunya juga ada sekuternya grab yang disewakan untuk muter-muter halaman. Puas menikmati Lawang Sewu aku dan teman-teman bergegas balik ke hotel karena kami harus check out jam 12.


Sesampainya di hotel kami sebenernya masih ingin goler-goleran, menikmati kasur hotel yang empuk. Enggan untuk pulang.
Selanjutnya kami berniat ke Gedong Songo, bahkan kami juga udah menaiki angkot hingga tiba ke Bandungan. Sampai sana sudah cukup sore, kami khawatir jika memaksanakn lanjut nanti ujungnya malah nggak dapet kendaraan buat pulang ke Jogja. Episode mau ke Gedong Songo ini sih sebenernya yang paling drama hingga melibatkan sopir angkot, abang ojol, ibu-ibu yang habis belanja di pasar juga. Hahaha, sekarang aku bahagia mengenang episode itu. Akhirnya kami memutuskan pulang saja, setibanya di terminal Bawen kebetulan sekali ada bus yang mau berangkat ke Jogja. Langsung kami naik, duduk secara terpisah. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak mendengarkan musik dari headset, bahkan orang yang duduk di sampingku pun sama sekali tidak aku ajak bicara. Malas. Aku lelah. Hanya ingin menikmati musik sambil mengenang momen dan pembelajaran yang aku peroleh dari Semarang bersama sahabat-sahabat tersayang. Uwuwuww.

Sabtu, 18 Januari 2020

Warung Kopi Merapi



Sejak madrasah diniyah di salah satu pondok pesantren deket rumah aku mulai dekat dengan dua orang teman yaitu Maya dan Tyas. Kami bertiga satu SD tapi beda angkatan, aku angkatan paling tua, disusul Tyas lalu Maya. Lucunya di madrasah kami juga beda angkatan, tapi kebalikan dari angkatan SD di madrasah justru Maya yang paling tua, lalu Tyas barulah aku. Hingga sekarang kami bertiga masih menjalin pertemanan walaupun jarang ketemu. Biasanya kami ketemu kalo salah satu dari kami ada yang ulang tahun.
Tanggal 2 Januari kemarin kami janjian untuk main bareng ke Kopi Merapi. Sebelumnya aku nggak pernah ke sana dan nggak ada kepikiran untuk ke sana. Namun kata Maya tempat itu menarik untuk dikunjungi, ngobrol santai sambil foto-foto. Jarak dari rumah kami ke Kopi Merapi jauh, iyalah jauh kan emang berada di lereng Gunung Merapi sedangkan rumah kami ada di Bantul pojok timur. Kami bertiga ke sana naik motor. Pas berangkat dari rumah cuaca masih mendukung alias nggak hujan, perjalanan kami kurang lebih satu jam. Jalanannya berubah agak terjal ketika hendak mendekati tujuan. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan jeep-jeep yang membawa wisatawan. Sesampainya di Warung Kopi Merapi aku baru ngeh ternyata lokasinya ada di Kalibiru. Dulu aku sama keluargaku pernah melewati tempat ini pas liburan naik jeep.







Warung Kopi Merapi letaknya jauh dari permukiman warga. Dari arsitekturnya warung ini cukup menarik. Bangunan warung ini jauh dari kata mewah, seolah kesannya hanya asal dibangun. Ketika masuk pertama kali, interior dari warung ini hanyalah seperti warung pada umumnya tapi suasananya sangat ramai. Namun setelah masuk lebih dalam lagi, barulah aku menemukan sesuatu yang unik. Bagian belakang dari warung ini menyediakan tempat duduk dan meja yang terbuat dari batu berukuran besar-besar. Konsepnya semacam di zaman purba. Selain itu, furnitur-furnitur yang ada adalah barang bekas seperti jendela dan pintu. Orang-orang yang datang ke sini biasanya mereka datang rame-rame bareng keluarga atau teman. Ada juga sih yang bareng pasangan. Semakin ke belakang dari warung ini, ada pemandangan alam Gunung Merapi yang indah. Ternyata warung ini sebenarnya berlokasi di samping sungai. Kami bertiga pun akhirnya berfoto-foto di jembatan dengan berlatar belakang Gunung Merapi. Foto di spot ini perlu hati-hati karena banyak jeep yang berlalu lalang.
Makanan dan minuman di warung ini sebenarnya sekilas tidak begitu istimewa. Mereka menyediakan makanan seperti gorengan dan mie instan. Sementara minumnannya ada aneka macam kopi, susu, dan teh. Aku ingin memesan sesuatu yang khas warung ini, akhirnya aku pun beli kopi arabica susu dan makanan sejuta umat yaitu mie instan kuah. Minuman lain yang kami pesan yaitu kopi robusta susu dan wedang gedang. Pesanan kami datangnya sangat lama, ada sekitar satu setengah jam kami menunggu. Sebalnya lagi, ruangan di warung ini tidak ada pembagian smoking area. Jadi pas kami nunggu, sebelah kami ada yang ngerokok dan itu sangat mengganggu.
Selama menunggu kami bertiga ngobrol tentang cukup banyak hal. Tentang kuliah dan teman-teman SD kami yang sekarang sudah banyak yang bekerja dan menikah. Dari obrolan itu aku sebenarnya bisa membaca masalah-masalah yang dihadapi teman-temanku, mulai dari masalah pendidikan dan pekerjaan. Dalam hatiku terdalam aku merasa iba kepada mereka yang menghadapi masalah-masalah tersebut. Sementara diriku ini harusnya banyak bersyukur karena beruntung sekali atas apa yang aku punya. Lalu, aku berpikir bagaimana caranya agar apa yang aku miliki sekarang nantinya juga bisa memberikan manfaat bagi mereka. Aku yang titelnya mahasiswa, bisa apa aku?


Setelah menunggu lama, makanan dan minuman pesanan kami akhirnya datang. Kopi arabica susu yang aku pesan rasanya enak juga, agak sepet tapi juga cukup manis. Kopi robusta juga enak, tapi wedhang gedang rasanya agak aneh. Setelah aku baca dari internet ternyata kopi di sini memang khas. Ditanam di lahan vulkanik dan dibuat dengan cara tradisional.
Waktu sudah sukup sore, sekitar pukul setengah tiga. Lalu kami memutuskan untuk pulang. Sayangnya ketika mau pulang, hujan deras pun turun. Kami tetap memaksa pulang dengan memakai mantol. Sesampainya di bawah sekitar kampus UGM, hujan sudah reda dan cuaca mulai panas. Kami memutuskan untuk melepas mantol. Selanjutnya aku berpisah dengan mereka karena hendak ke warnet dulu buat nyetock film.

Produktivitas Saat Liburan


Hari ini sama besok aku akan benar-benar menikati weekend dengan tenang karena nggak ada kerjaan yang terlalu mendesak. Namun, aku pikir akan sia-sia kalo setiap waktu selo aku hanya menuruti hasrat untuk rebahan sambil nonton drama atau film doang. Aku perlu melakukan sesuatu yang produktif. Kayaknya aku kena pengaruh videonya Anggie Marthin deh jadi bawaannya pengen produktif mulu.
Aku kepikiran untuk nulis karena beberapa hari lalu ditanya sama seorang temen tentang kegiatan apa aja yang aku lakuin selama liburan. Jadi selama liburan ini dua minggu pertama aku cuman seneng-seneng doang, main ke Kopi Merapi bareng Maya dan Tyas. Setelah dua minggu berlalu, tibalah masa magangku di PSKK bareng Indah. Selain itu aku juga sambil ngurus berkas-berkas buat KKN. Hal yang berkesan selanjutnya adalah aku main ke Semarang bareng Farrah sama Almira. Alhamdulillah, banyak kegiatan bermanfaat yang aku lakukan.
Cerita tentang Kopi Merapi, Semarang, dan Magang kayaknya akan aku tulis menjadi cerita sendiri-sendiri. Selama liburan ini aku akan mencoba untuk menulis, salah satu atau mungkin satu-satunya hobi produktif yang kupunya dan mungkin suatu saat bisa aku kembangkan.

Selasa, 19 November 2019

20 Tahun

Momen ulang tahun adalah waktu yang tepat untuk seseorang merefleksikan kehidupannya. Apa yang sudah dilaluinya selama ini, perubahan apa yang telah dicapai, apa kontribusi yang telah diberikan untuk orang lain, dan apa apa yang lain. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke-20. 

Sulit rasanya menuliskan pencapaian dan pelajaran hidup yang telah kuraih selama ini. Pada intinya, aku bersyukur kepada Allah telah memberikan banyak sekali nikmat yang bahkan kerap sekali tidak kusadari. Terima kasih kepada Bapak, Ibuk, dan Adek kalian adalah motivasiku. Makasih para sahabat dan teman-teman. Banyak hal yang perlu aku evaluasi. Kedepan aku ingin menjadi pribadi yang lebih bersyukur.