Minggu, 02 Februari 2020

Sok jadi Traveler ke Semarang


Salah satu keinginanku di tahun yang baru adalah mulai menjadi traveler dan belajar sejarah tentang kota-kota atau daerah-daerah yang ada di Indonesia. Mengunjungi ibukota provinsi adalah yang paling aku utamakan.
Awalnya Farrah ngajakin liburan dengan nginep di hotel yang ada di Jogja. Lah aku mikir dong, ya kali orang Jogja kuliah di Jogja terus liburannya juga di Jogja. Titel udah mahasiswa e, ya kali nggak mau main agak jauhan. Apalagi cuman mau nginep di hotel, yang ada diketawain Nyi Roro Kidul. Di samping itu hari Jumat minggu lalu aku juga sedang letih-letihnya ngerjain tugas magang. Rasanya pengen refreshing dengan berkunjung ke tempat-tempat baru pas weekend. Jumat malemnya aku Farrah sama Almira rembukan, intinya kita mau piknik ke Semarang. Lalu long story dan emang bener-bener panjang cerita karena kami sebagai traveler newbie masih suka bingung buat memutuskan sesuatu seperti tempat nginep dan objek wisata. Akhirnya, terpilih salah satu hotel yang harganya murah, letaknya di tengah kota deket sama objek-objek wisata, lalu kami pesan malam itu juga.
Sabtu siang akhirnya aku gas berangkat dengan penuh semangat walaupun sebenarnya ortuku agak melarang. Tapi ya sudahlah, kalo nggak ngeyel dikit aku pikir akan sulit untuk mengeksplore hal-hal baru yang memang sudah saatnya dilakukan olehku yang notabene generasi baru. Bingung yak? Intinya gitu deh, aku pengen keluar dari pikiran-pikiran baku ortuku yang di zaman sekarang sudah kadaluarsa. Pasalnya ortuku ini emang tipikal ortu yang jarang piknik, kalo semisal libur ya cuman dirumah doang. Bosen kan?
Aku Farrah dan Almira ke Semarang naik bus dari terminal Jombor. Waktu di terminal kami asal nanya sama orang mana bus yang menuju ke Semarang. Lalu ditunjukin salah satu bus ‘ekonomi’ yang hendak berangkat. Tanpa pikir panjang kita lantas naik bus tersebut. Pas dimintain duit tiket, aku sempat heran kenapa bayarnya murah cuman 13 ribu ternyata bus yang kami tumpangi musti transit dulu di Magelang. Lucunya kami bertiga nggak tahu, jadi pas semua orang pada turun kita tetep stay di bus sambil bingung. Lalu di bapak kondekturnya bilang ke kami kalo musti turun dari bus dan pindah ke bus lain. Padahal kami bertiga udah seneng gitu karena awalnya kepisah tempat duduknya, lalu karena pada turun jadi bisa duduk jejer bertiga eh malah disuruh turun. Yaudah deh, daripada nggak nyampe ke Semarang jadi kita pindah bus dan disuruh bayar lagi 25 ribu. Perjalanan bisa dibilang lama karena sampe 4 jam lebih hingga tiba di Semarang. Nggak nyaman pula karena walaupun bus ber-AC tapi banyak pengamen.
Sesampinya di Semarang kami turun di dekat salah satu halte bus Trans Jateng. Selanjutnya kami naik Trans Jateng. Wajah kami sumringah dan kelihatan banget ndesonya karena jarang banget naik transportasi umum sejenis ini. Meskipun di Jogja juga ada Trans Jogja, tapi kami nggak pernah pake sebab banyak faktor yang akan puanjang jika dituliskan dan dikhawatirkan justru tulisan ini akan menjadi esai ilmiah. Ternyata penumpang Trans Jateng banyak, aku ramal mereka adalah pegawai-pegawai yang pulang kerja. Hari Sabtu aja cukup penuh, apalagi kalo weekdays ketambah anak-anak sekolah. Sebelumnya kami memutuskan untuk langsung ke Sam Poo Kong. Jadi kami turun di halte terdekar Sam Poo Kong yaitu Halte Sukun dan melanjutkan perjalanan naik Go-car.



Aku kira Sam Poo Kong adalah semacam klenteng biasa yang punya sejarah berkaitan dengan Konghuchu, tapi ternyata klenteng ini punya sejarah berkaitan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho yang pernah singgah di tanah Semarang. Setelah puas berfoto ria di Sam Poo Kong kami bertiga menuju hotel. Ketika itu sedang hujan deras, jarak yang kami tempuh juga cukup jauh. Hotel tempat kami singgah harganya sangat ramah sobat misqueen. Satu kamar 148 ribu, fasilitasnya lengkap dan kamar mandi dalam. Kasur twin disatukan biar muat tidur bertiga. Situasi kepepet emang bikin jenius. Malam itu juga sempat ke Pasar Semawis padahal udah pada berberes penjual-penjualnya. Niatnya mau nyari nasi, tapi nggak nemu dan akhirnya beli pisang plenet sama corndog. Buat memenuhi hasrat makan nasi, kami go-food nasi goreng yang dikemas lucu ala-ala rice box. Tidak terduga ternyata rasanya wenak lur!
Pagi harinya kami bergegas berangkat menuju destinasi wisata selanjutnya yaitu Kota Lama. Kami jalan kaki sekitar setengah kilo. Bangunan-bangunan di Kota Lama ini menarik banget untuk difoto dan dijadikan background foto. Hampir setiap sudut bangunan di sana aku fotoin. Setelah cukup puas berkeliling, kami bertiga makan bubur ayam di tengah taman sembari menikmati suasana yang rasanya damai banget. Ada orang silver juga yang cukup menghibur tapi kami enggan berfoto bersama mereka karena harus bayar.


Objek selanjutnya adalah Lawang Sewu. Dari Kota Lama jaraknya lebih dari sekilo, jadi kami pake gocar. Lawang Sewu ternyata tidak genap punya 1000 pintu, tapi hanya 924 pintu. Gedung demi gedung kami masuki, berfoto-foto. Aku membayangkan bagaimana dulu bangunan ini dijadikan kantor perusahaan kereta api dengan banyak pegawai. Ada pertunjukkan musik di halaman tengah yang cukup menghidupkan suasana. Lucunya juga ada sekuternya grab yang disewakan untuk muter-muter halaman. Puas menikmati Lawang Sewu aku dan teman-teman bergegas balik ke hotel karena kami harus check out jam 12.


Sesampainya di hotel kami sebenernya masih ingin goler-goleran, menikmati kasur hotel yang empuk. Enggan untuk pulang.
Selanjutnya kami berniat ke Gedong Songo, bahkan kami juga udah menaiki angkot hingga tiba ke Bandungan. Sampai sana sudah cukup sore, kami khawatir jika memaksanakn lanjut nanti ujungnya malah nggak dapet kendaraan buat pulang ke Jogja. Episode mau ke Gedong Songo ini sih sebenernya yang paling drama hingga melibatkan sopir angkot, abang ojol, ibu-ibu yang habis belanja di pasar juga. Hahaha, sekarang aku bahagia mengenang episode itu. Akhirnya kami memutuskan pulang saja, setibanya di terminal Bawen kebetulan sekali ada bus yang mau berangkat ke Jogja. Langsung kami naik, duduk secara terpisah. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak mendengarkan musik dari headset, bahkan orang yang duduk di sampingku pun sama sekali tidak aku ajak bicara. Malas. Aku lelah. Hanya ingin menikmati musik sambil mengenang momen dan pembelajaran yang aku peroleh dari Semarang bersama sahabat-sahabat tersayang. Uwuwuww.

Sabtu, 18 Januari 2020

Warung Kopi Merapi



Sejak madrasah diniyah di salah satu pondok pesantren deket rumah aku mulai dekat dengan dua orang teman yaitu Maya dan Tyas. Kami bertiga satu SD tapi beda angkatan, aku angkatan paling tua, disusul Tyas lalu Maya. Lucunya di madrasah kami juga beda angkatan, tapi kebalikan dari angkatan SD di madrasah justru Maya yang paling tua, lalu Tyas barulah aku. Hingga sekarang kami bertiga masih menjalin pertemanan walaupun jarang ketemu. Biasanya kami ketemu kalo salah satu dari kami ada yang ulang tahun.
Tanggal 2 Januari kemarin kami janjian untuk main bareng ke Kopi Merapi. Sebelumnya aku nggak pernah ke sana dan nggak ada kepikiran untuk ke sana. Namun kata Maya tempat itu menarik untuk dikunjungi, ngobrol santai sambil foto-foto. Jarak dari rumah kami ke Kopi Merapi jauh, iyalah jauh kan emang berada di lereng Gunung Merapi sedangkan rumah kami ada di Bantul pojok timur. Kami bertiga ke sana naik motor. Pas berangkat dari rumah cuaca masih mendukung alias nggak hujan, perjalanan kami kurang lebih satu jam. Jalanannya berubah agak terjal ketika hendak mendekati tujuan. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan jeep-jeep yang membawa wisatawan. Sesampainya di Warung Kopi Merapi aku baru ngeh ternyata lokasinya ada di Kalibiru. Dulu aku sama keluargaku pernah melewati tempat ini pas liburan naik jeep.







Warung Kopi Merapi letaknya jauh dari permukiman warga. Dari arsitekturnya warung ini cukup menarik. Bangunan warung ini jauh dari kata mewah, seolah kesannya hanya asal dibangun. Ketika masuk pertama kali, interior dari warung ini hanyalah seperti warung pada umumnya tapi suasananya sangat ramai. Namun setelah masuk lebih dalam lagi, barulah aku menemukan sesuatu yang unik. Bagian belakang dari warung ini menyediakan tempat duduk dan meja yang terbuat dari batu berukuran besar-besar. Konsepnya semacam di zaman purba. Selain itu, furnitur-furnitur yang ada adalah barang bekas seperti jendela dan pintu. Orang-orang yang datang ke sini biasanya mereka datang rame-rame bareng keluarga atau teman. Ada juga sih yang bareng pasangan. Semakin ke belakang dari warung ini, ada pemandangan alam Gunung Merapi yang indah. Ternyata warung ini sebenarnya berlokasi di samping sungai. Kami bertiga pun akhirnya berfoto-foto di jembatan dengan berlatar belakang Gunung Merapi. Foto di spot ini perlu hati-hati karena banyak jeep yang berlalu lalang.
Makanan dan minuman di warung ini sebenarnya sekilas tidak begitu istimewa. Mereka menyediakan makanan seperti gorengan dan mie instan. Sementara minumnannya ada aneka macam kopi, susu, dan teh. Aku ingin memesan sesuatu yang khas warung ini, akhirnya aku pun beli kopi arabica susu dan makanan sejuta umat yaitu mie instan kuah. Minuman lain yang kami pesan yaitu kopi robusta susu dan wedang gedang. Pesanan kami datangnya sangat lama, ada sekitar satu setengah jam kami menunggu. Sebalnya lagi, ruangan di warung ini tidak ada pembagian smoking area. Jadi pas kami nunggu, sebelah kami ada yang ngerokok dan itu sangat mengganggu.
Selama menunggu kami bertiga ngobrol tentang cukup banyak hal. Tentang kuliah dan teman-teman SD kami yang sekarang sudah banyak yang bekerja dan menikah. Dari obrolan itu aku sebenarnya bisa membaca masalah-masalah yang dihadapi teman-temanku, mulai dari masalah pendidikan dan pekerjaan. Dalam hatiku terdalam aku merasa iba kepada mereka yang menghadapi masalah-masalah tersebut. Sementara diriku ini harusnya banyak bersyukur karena beruntung sekali atas apa yang aku punya. Lalu, aku berpikir bagaimana caranya agar apa yang aku miliki sekarang nantinya juga bisa memberikan manfaat bagi mereka. Aku yang titelnya mahasiswa, bisa apa aku?


Setelah menunggu lama, makanan dan minuman pesanan kami akhirnya datang. Kopi arabica susu yang aku pesan rasanya enak juga, agak sepet tapi juga cukup manis. Kopi robusta juga enak, tapi wedhang gedang rasanya agak aneh. Setelah aku baca dari internet ternyata kopi di sini memang khas. Ditanam di lahan vulkanik dan dibuat dengan cara tradisional.
Waktu sudah sukup sore, sekitar pukul setengah tiga. Lalu kami memutuskan untuk pulang. Sayangnya ketika mau pulang, hujan deras pun turun. Kami tetap memaksa pulang dengan memakai mantol. Sesampainya di bawah sekitar kampus UGM, hujan sudah reda dan cuaca mulai panas. Kami memutuskan untuk melepas mantol. Selanjutnya aku berpisah dengan mereka karena hendak ke warnet dulu buat nyetock film.

Produktivitas Saat Liburan


Hari ini sama besok aku akan benar-benar menikati weekend dengan tenang karena nggak ada kerjaan yang terlalu mendesak. Namun, aku pikir akan sia-sia kalo setiap waktu selo aku hanya menuruti hasrat untuk rebahan sambil nonton drama atau film doang. Aku perlu melakukan sesuatu yang produktif. Kayaknya aku kena pengaruh videonya Anggie Marthin deh jadi bawaannya pengen produktif mulu.
Aku kepikiran untuk nulis karena beberapa hari lalu ditanya sama seorang temen tentang kegiatan apa aja yang aku lakuin selama liburan. Jadi selama liburan ini dua minggu pertama aku cuman seneng-seneng doang, main ke Kopi Merapi bareng Maya dan Tyas. Setelah dua minggu berlalu, tibalah masa magangku di PSKK bareng Indah. Selain itu aku juga sambil ngurus berkas-berkas buat KKN. Hal yang berkesan selanjutnya adalah aku main ke Semarang bareng Farrah sama Almira. Alhamdulillah, banyak kegiatan bermanfaat yang aku lakukan.
Cerita tentang Kopi Merapi, Semarang, dan Magang kayaknya akan aku tulis menjadi cerita sendiri-sendiri. Selama liburan ini aku akan mencoba untuk menulis, salah satu atau mungkin satu-satunya hobi produktif yang kupunya dan mungkin suatu saat bisa aku kembangkan.

Selasa, 19 November 2019

20 Tahun

Momen ulang tahun adalah waktu yang tepat untuk seseorang merefleksikan kehidupannya. Apa yang sudah dilaluinya selama ini, perubahan apa yang telah dicapai, apa kontribusi yang telah diberikan untuk orang lain, dan apa apa yang lain. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke-20. 

Sulit rasanya menuliskan pencapaian dan pelajaran hidup yang telah kuraih selama ini. Pada intinya, aku bersyukur kepada Allah telah memberikan banyak sekali nikmat yang bahkan kerap sekali tidak kusadari. Terima kasih kepada Bapak, Ibuk, dan Adek kalian adalah motivasiku. Makasih para sahabat dan teman-teman. Banyak hal yang perlu aku evaluasi. Kedepan aku ingin menjadi pribadi yang lebih bersyukur. 

Jumat, 04 Oktober 2019

BOSAN


Sekarang udah siang sebenernya, gue lagi di Digilib Fisipol. Tadi pagi sebelum ngampus sebenernya mau ngepost tulisan ini tapi tiba-tiba mati listrik dan nggak ada sinyal. Berikut tulisannya....
 ***

Kemarin seharian gue nugas di kampus, dari jam 9 pagi nyampe jam setengah 7 sore. Hanya demi satu UTS takehome. Niatnya emang kemarin mau fokus dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah, tapi cuman satu doang yang kelar. Sesampainya di rumah gue langsung tidur sampai jam 5 pagi. Jadinya hari ini masih ada beberapa tugas kuliah yang menanti, pastinya tugasnya kelompokkan.

Pagi ini suasananya enak banget, matahari masih ketutup awan dan angin berhembus sepoi-sepoi. Gue yang nggak tahu mau ngapain dulu pagi ini langsung buka laptop untuk nulis curhatan yang mungkin kurang berfaedah ini.

Kalo dipikir-pikir membosankan banget ya hidup gue, bangun tidur yang teringat tugas kuliah. Aktivitas gue seolah hanya berkutat pada satu tugas kuliah ke tugas kuliah yang lain. Ada sih selingan, kerjaan rumah seperti nyapu, ngepel, dan nyuci. Udah, ternyata gitu doang cara kamu menghabiskan waktu mudamu Bil.

Ah lo terlalu hiperbola Bil, kan emang saat ini lagi masa-masa UTS ya wajarlah kalo kerjaannya nugas melulu.
Bisa jadi, tapi intinya gue bosan.

Rasanya gue pengen melakukan sesuatu diluar nugas kuliah, yang menantang, yang membuat gue kesusahan, yang mengasah daya pikir, yang menguji ketahanan fisik, yang bermanfaat bagi gue dan orang lain, yang membuat diri ini berkembang.

Belum lama ini, sahabat gue bilang kalo dia di masa depan pengen punya yayasan sosial. Gue terkejut dia bilang gitu, karena dia biasanya nggak visioner. Lantas gue langsung bertanya dengan diri gue, apa yang udah lo rencanain buat masa depan?
Nggak ada.

Dulu pas SMA gue ada keinginan buat kuliah di luar negeri. Sekarang keinginan itu lama-kelamaan kian memudar, tergantikan oleh realitas yang membuat gue nggak pede. Apalah gue yang di kampus ini bukan jadi siapa-siapa, yang nggak lebih pinter dari kawan yang lain, yang masih terbata-bata kalo ngomong. STOP!

Mungkin di usia menjelang 20 tahun seseorang sedang merasa jadi hakim paling pandai untuk menilai kelemahan diri sendiri. Namun, kurang bisa bersikap adil pada kelebihan atau potensi yang dimiliki. Itulah gue saat ini.

Ironis memang, di awal gue pengen melakukan hal-hal yang menantang tapi perasaan negatif selalu membuntuti. Astaghfirullah.. setan apa yang lagi merasukiku, entah apaa.. (lirik lagu yang lagi viral)

Sudahlah, gue nggak mau terlalu minderan. Minder itu bibit seseorang untuk nggak bisa bergerak maju dan sulit meraih kesuksesan. Nggak mau kan Bil lo yang udah berjalan sejauh ini kelak bermuara pada kegagalan? Namun ingat juga, bahwa standar sukses dan gagal setiap orang itu beda-beda.

PR bagi gue sekarang adalah merumuskan rencana masa depan, biar gue ada semangat melakukan hal-hal baru dan hidup gue nggak membosankan. Deadline : 20 November 2019 tepat ketika usia gue 20 tahun.

Jumat, 12 April 2019

Curhatan Gado-Gado



Ada banyak hal yang lagi gue rasakan dan pikirkan saat ini, tapi bingung mau mulai dari mana dulu. Gue baru sadar bahwa sebenernya gue ini nggak sering curhat terlalu blak-blakan sama orang. Ternyata gue lebih sering mendem sendiri apa yang sebenernya gue rasakan dan gue pikirkan, menurut gue itu lebih aman dan lebih damai. Kenapa damai? Karena orang lain nggak akan mencampuri urusan gue. Curhat dengan diri sendiri melalui tulisan adalah cara terbaik. Meskipun akhirnya gue jadi ngerasa kesepian. Kata seorang penulis buku, menulis adalah salah satu terapi melawan stress yang  baik.

Ngomong-ngomong, gue lagi kepikiran buat jadi penulis suatu saat nanti. Bukan penulis novel sih ya, tapi lebih kayak penulis berita atau wartawan. Kadang gue juga ingin jadi reporter. Kadang gue juga kepikiran buat jadi dosen. Suatu saat juga kepikiran pengen jadi wiraswasta dan kerja di rumah sambil ngurus anak-suami. Terakhir pengen jadi perencana kebijakan pembangunan alias kerja di Bappeda/Bappenas. Entahlah sebenernya gue pengennya apaan, apa yang cocok, apa yang emang jadi pasion, masa depan gue masih blur.

Oh iya, sekarang lagi masa UTS nih dan gue masih harus ngumpulin satu proposal penelitian kelompok. Aneh nggak sih ketika UTS dikerjain secara berkelompok? Dosennya emang aneh dan sulit dimengerti. Lebih keselnya gue jadi males ngerjain tugas UTS karena nggak srek sama anggota kelompoknya. Semoga semua ini segera terselesaikan. Terus minggu depan udah mulai kuliah. Gue nggak tahu harus merasa senang atau sedih karena mulai minggu depan kuliah gue cuman dua hari yaitu hari Senin dan Selasa doang. Mantab jaya nggak tuh! Berhubung ada beberapa matkul yang dosennya berubah. Salah satu dosen yang gelarnya udah profesor ini sibuk banget jadi harus menyesuaikan jadwalnya. Kuliah berasa jadi pengangguran. So, gue bakalan bikin rutinitas sendiri deh kayaknya untuk mengisi kegabutan di hari Rabu sampe Sabtu. Minggu saatnya istirahat.

Semakin bertambah usia belum tentu seseorang bertambah dewasa. Bahkan gue juga kadang merasakan begitu untuk beberapa hal, misalnya ketika udah capek gue nggak bisa memaksakan diri untuk bertahan sama suatu kerjaan. Gue akan seenak jidat mengistirahatkan diri, nggak peduli apapun.

Oi, point-nya bukan diri gue! Gue mau ngomongin tentang model pertemanan di kampus, khususnya di kelas gue. Gue rasa meskipun kami ini udah menyandang status mahasiswa tapi model pertemanannya kayak bocah. Kelas gue ini isinya kan 60 orang yak, nggak mungkin dong kalo setiap main harus ngajak ke-60 orang itu? Nah, ketika ada beberapa anak yang main bareng hal itu akan menimbulkan kecemburuan beberapa anak lainnya. Mereka yang cemburu lantas mengadu di sosmed, merasa diri mereka tersingkirkan dan tak dianggap. Narasi menjadi hiperbola ketika kami anak-anak yang main bareng disebut sebagai kaum mayoritas sementara mereka menyebut diri mereka kaum minoritas. Sungguh kekanak-kanakan sekali. Sekarang gue juga udah mulai paham bahwa semakin dewasa sebenernya ‘teman’ kita akan semakin sedikit, maksudnya bukan secara kuantitas melainkan secara kualitas. Kita akan menjadi orang yang lebih pilih-pilih dalam berteman dekat yang nyaman dan dapat dipercaya. Nyatanya memang sebagai manusia normal kita nggak bisa klop sama semua orang. Konsep pertemanan setiap orang juga beda-beda. Ada yang menganggap pertemanan itu adalah yang saling memasang muka ceria, foto bareng, updet status lagi bareng, saling memuji meskipun sebenernya bohong, pokoknya harus kelihatan bahagia terus kalo lagi bersama. Helo??? Pertemanan menurut gue beda. Teman yang  sebenarnya adalah yang mau menerima segenap sifat, kondisi emosional, dan yang mau bersikap jujur pada diri kita. Pertemanan yang tulus tanpa rekayasa. Gue lebih senang dijelek-jelekin temen sendiri secara langsung daripada diomongin di belakang.

Baiklah, tulisan kali ini memang sangat random karena isi otak gue juga lagi acak-acakan. Sekian.


Jumat, 08 Februari 2019

Ketika Dakwah Dijadikan Tumbal


Dua hari lagi gue akan masuk kuliah di semester baru yaitu semester empat. Semoga kedepan gue bisa menjadi mahasiswa yang lebih berilmu. Hari ini gue nggak melakukan banyak hal, malahan tadi pagi gue tidur lagi nyampe jam 10. Pas tidur gue mimpi aneh banget yang ending-nya cowok idola gue berubah jadi setan. Terus habis dzuhur nganterin Budhe Sipon layat ke kampung sebelah. Sorenya gue ngobrol sama Budhe Sipon tentang pilihan pemilu. Dari situlah gue mulai merasa geram dengan realita politik yang ada sekarang.

Dari dulu gue bukanlah tipe orang yang suka ikut-ikutan. Orangtua selalu memberi kesempatan gue untuk memilih pilihan yang ada dalam hidup gue, terutama tentang pendidikan dan organisasi. Dulu ketika gue pindah ke Jogja orangtua ngasih pilihan mau lanjut SD dimana, kebanyakan temen-temen masuk SD yang lokasinya di deket rumah sementara gue milih SD yang ada di dusun lain. Padahal jarang banget anak dari dusun gue yang sekolah di sana, bahkan cuman gue doang. Selanjutnya tempat mengaji gue juga lebih milih madrasah diniyah yang notabene itu tempat ngajinya orang-orang NU. Padahal orang-orang di dusun gue kebanyakan alirannya Muhammadiyah, bahkan bapak gue juga pengurus ranting Muhammadiyah. Mulai bertambah dewasa gue udah berhenti madrasah dari tempat ngaji orang NU, selanjutnya gue ikutan organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah yang merupakan salah satu bentuk organisasi gerakan Muhammadiyah.

Dalam menentukan pilihan gue selalu berpatokkan pada mana yang lebih baik dan sebisa mungkin nggak cuman ikut-ikutan orang lain. Gue bukan orang yang mudah dipengaruhi karena gue orang yang nggak mudah percaya juga sama orang lain. Gue harus membuktikan sendiri apa yang dikatain orang lain, setelah gue bener-bener paham situasinya barulah gue berani bertindak. Bukan karena takut salah sehingga gue melakukan hal seperti itu, melainkan sudah sepantasnya kita melalukan usaha pertimbangan yang optimal biar kita bisa mengurangi penyesalan yang akan datang kemudian hari.

Well, saat ini lagi jaman-jamannya kampanye politik buat pemilu 2019. Tahun ini gue juga baru pertama kalinya milih, tapi gue nggak mau asal coba-coba. Gue harus yakin sama pilihan gue nanti. Kadangkala gue tanya sana-sini buat tahu pilihan orang. Namun sedihnya jawaban tentang alasan mereka menentukan pilihan nggak memuaskan buat gue. Ada yang alasannya biar naik gaji, suka sama keramahan sang calon, dan nggak jarang juga mereka milih dengan alasan yang nggak masuk akal. Bilang kalo nggak ganti presidennya kelak eksistensi umat Islam akan terancam, azdan nggak diperbolehkan, KUA akan dibubarkan, dan Indonesia akan jadi negara yang lemah. Jawaban yang nggak masuk akal itu gue dengar dari Budhe Sipon sore tadi.
Sengaja memang gue berlagak nggak paham sama pemilu supaya gue bisa mendengar banyak hal dari persepsi Budhe Sipon yang notabene adalah pemilih tua yang terbatas dalam mengakses informasi. Beliau sebenarnya hanya menceritakan ulang apa yang disampaikan oleh beberapa ‘orang pintar’ saat bicara pada suatu forum, jangan kaget bahwa forum-forum tersebut dibalut rapi dengan bungkus yang dinamakan pengajian. Mungkin sudah barang lumrah kampanye politik dilakukan dengan embel-embel pengajian, gue nggak kaget dong tentunya. Namun di satu sisi gue merasa miris karena forum-forum yang seharusnya digunakan untuk berdakwah dan menyampaikan kebenaran, malahan disisipi dengan konten yang mengancam umat. Ancaman yang sejatinya tidak berdasar pada fakta. Gue rasa ancaman seperti itu akan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya bagi umat. Dengan ancaman itu harapannya umat akan menjatuhkan pilihan pada sisi lain yang tidak mengancam. Padahal sisi lain itu belum tentu tidak memberikan ancaman sama sekali.

Apakah kemenangan harus didapat dengan saling menjelek-jelekan? Mengapa tidak dengan saling adu gagasan yang berkualitas? Toh jika memang harus saling mengejek bisakah porsinya jauh lebih sedikit daripada saling adu gagasan positif? Buatlah rakyat/umat punya imajinasi yang Indah terhadap nasib Indonesia kedepan, bukan pada imajinasi terhadap kehancuran.
Di sinilah gue merasa nggak tahu harus gimana. Asli gue bingung. Ingin gue meluruskan apa yang nggak bener tapi konsekuensinya adalah gue dianggap ‘orang lain’ yang ‘menyimpang’. Sejujurnya gue nggak pengen memberikan pengaruh ke orang-orang supaya sama pilihan politik. Gue cuman pengen umat menjadi cerdas, setidaknya umat dari kalangan gue (pemilih pemula). Gue sangat resah ketika orang-orang Islam justru semakin jauh meninggalkan nilai-nilai agamanya sendiri. Sadarkah bahwa itu hanya akan merugikan bagi umat Islam sendiri?