Rabu, 16 Juni 2021
Belajar dari Drama Korea
Senin, 14 Desember 2020
Lagi-lagi Sambat Kuliah, Astaghfirullah...
Gue tahu, sebenernya nggak baik kebanyakan sambat. Apalagi yang dipersambatkan ialah masalah kuliah yang mana bagi banyak orang kuliah itu suatu yang istimewa (privelege). Namun, bagi orang biasa seperti gue sambat itu upaya untuk melepas stress. Diawali dengan sambat kemudian dilanjutkan dengan refleksi diri, memahami kondisi diri sendiri, dan mencoba ngumpulin semangat lagi buat melakukan suatu pekerjaan. Mungkin sebagian orang menilai bahwa sambat merupakan bentuk dari rasa tidak bersyukur. Iya, gue tahu, nggak sepenuhnya salah kok. Tapi nggak sepenuhnya juga dalam kehidupan manusia itu selalu merasakan emosi yang menunjukkan 'baik-baik saja' karena ada kalanya manusia merasakan emosi yang dikonotasikan negatif. Salah satunya merasa mentok, nggak ngerti kudu berbuat apa sama masalah yang ada di depan mata, lalu diekspresikan dengan sambat. Itu wajar to?
Perkara sambat gue malam ini dikarenakan skripsi. Sebenernya bukan masalah yang berat banget sih, cuman emang lagi mentok mikir aja dan kurang mood untuk membaca artikel berbahasa Inggris. Btw, ukuran berat dan ringan suatu masalah itu sangat bergantung pada kepribadian masing-masing orang lho ya, jadi jangan disamaratakan. Gue peling benci kalo denger orang meremehkan hal-hal yang dipermasalahkan orang lain. "Alah gitu doang aja sambat". Hadeh, kalo udah begitu emang dasar orangnya yang kagak paham.
Rupanya malam hari bukan waktu produktif bagi gue untuk mengerjakan skripsi. Gue udah mencoba baca progress revisi bab dua, niatnya nih mau coba merangkai kalimat-kalimat penghubung yang bernuansa kritis. Lalu sambil membaca artikel lainnya untuk menambahkan kutipan dan menguatkan asumsi. Namun, apalah daya pikiran ini udah nggak begitu fokus. Ditambah ini tenggorokan gue rasanya gatel dan sedikit batuk, jadi nggak oke banget dah buat berprogress skripsi.
Lantas kenapa lo malah nulis blog, Bil?
Ya gapapa. Ini adalah salah satu bentuk sambat yang sekaligus juga produktif. Setidaknya sambatan gue ada outputnya yaitu tulisan ini, hehehe. Mungkin kelak akan gue baca lagi untuk mengenang perjuangan gue ngerjain skripsi. Selain itu, gue juga lagi bertekad untuk belajar menulis. Berawal dari nulis sambatan pribadi barangkali bisa berkembang jadi penulis kolom opini, hahah!
Oke, gue rasa cukup sekian selingan persambatan kali ini. Selanjutnya gue mau persiapan tidur karena besok gue pengen bangun pagi. Semoga dengan bangun pagi akan lebih banyak aktivitas produktif yang bisa gue lakukan.
Senin, 26 Oktober 2020
Orang yang Mempengaruhi Mimpi
Semalem gue nonton drakor judulnya “Start-Up”, drakor yang masih on-going di Netflix. Satu hal yang menarik adalah ketika para tokoh menulis alasan mereka untuk membangun start-up, rata-rata alasan itu dilatarbelakangi oleh pengalaman si tokoh dengan orang lain. Kemudian latar belakang itulah yang menjadi pijakan kuat para tokoh untuk mengikuti mimpinya. Kemarin aku juga nonton film “Sang Pemimpi”, sekuel film “Laskar Pelangi” yang tidak kalah bagusnya pesan moral yang disampaikan. Film itu juga menceritakan tentang pencapaian mimpi, yang dalam proses pencapaian itu diiringi dengan semangat menggebu-gebu. Ya, intinya mimpi membuat setiap orang menjadi semangat dalam menjalani hari-harinya. Membuat setiap rintangan menjadi mungkin untuk ditaklukan.
Sebenernya gue tipikal
orang yang cenderung realistis ketimbang hobi bermimpi. Namun kondisi gue saat
ini membuat gue berpikir, haruskah gue punya mimpi? Pentingkah? Sekarang kondisi
gue sedang baik-baik saja, ekonomi cukup, fisik alhamdulillah sehat, intinya
boleh dikatakan tentram wabil damai. Lama sekali gue merasakan masa-masa ini,
hingga akhirnya gue pun bosan, sangat sangat bosan. Diri ini juga rasanya tidak
berkembang kemana-mana.
Saking nggak ada pencapaian
apapun dari hidup gue, sampe-sampe di Instagram ketika orang-orang pada post pencapaian-pencapaian
hidupnya gue hanya post foto segelas jus mangga dengan caption yang boleh
dikata ngelantur sih. Tapi, selang beberapa menit gue post itu siapa sangka seseorang
yang tak terduga menaruh komentar, jadi yang pertama mengkomentari lagi. Gue langsung
‘mak deeg’ berkali-kali nge-refresh profil IG, takut barangkali notifikasi
yang barusan gue lihat cuman ilusi. Ternyata enggak woy! Wuaaa...asli gue
seneng banget langsung jingkrak-jingkrak. Ekspresif dulu, berpikir kemudian,
itu adalah aku. Yaps, setelah puas mengekspresikan diri barulah aku membaca dan
memahami konten komentar si laki-laki satu ini. Dia kasih komentar yang intinya
menyebut gue lagi berada di insecure moment. Padahal caption gue aja
menunjukkan gue bersyukur loh. Bisa-bisanya dia komentar begitu. Tapi setelah gue
renungi lagi, dia bener sih, bukannya awal mula gue nge-post itu emang lagi insecure
yak?
Alasan gue seneng
banget orang ini komentar di post Instagram gue adalah karena gue emang seneng
sama orangnya, hahahah. Dia memang layak sih jadi laki-laki yang digemari para
perempuan, gue hanya satu dari ribuan orang yang suka sama dia. Tapi andaikata
para penggemarnya ini bikin layaknya idol grup, gue adalah member senior di
grup itu. Karena gue suka dia selama almost a decade!
Oke, kembali ke
perbincangan tentang mimpi. Entah kenapa komentar dia mendorong gue
untuk punya mimpi. Gue tahu, itu cuman komentar. Tapi gue nggak tahu pasti apa alasan
dia berkomentar. Mungkin gue sotoy sih, tapi setau gue dia jarang banget
komentarin postingan cewek. Jadi izinkan gue pede sedikit, gue termasuk yang dia notice kan? Hahah.
Lalu konten komentar dia, gue rasa itu masuk kategori komentar cukup menohok. Komentar
yang cenderung bernilai negatif meskipun nyata adanya. Apa motif dia komentar
kayak gitu? Apakah dia sedang ingin menunjukkan bahwa dia sedang berada di secure
moment? Okelah kalo dilihat dari postingan Instagram, memang dia luar biasa.
Gue akui dia berhasil berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari dulu
pertama kali gue kenal dia. Dulu dia memang keren, sekarang dia jauh lebih
keren.
So, mimpi gue
kali ini simpel aja. Gue juga pengen jadi perempuan keren dengan cara gue
sendiri. Gue nggak mau kalah sama dia, teman yang sudah hampir satu dekade gue
kenal dan gue kagumi. Soal gue yang suka sama dia, biarkan aja perasaan itu
tetap ada sebagai bahan bakar alternatif dalam gue mencapai mimpi gue
sesungguhnya.
Kemarin sempat
ditanya sama temen, “Gimana jika akhirnya lo berjodoh sama dia?”. Gue
jawab aja, “Absolutely I’ll be grateful”. Namanya juga perasaan suka,
itu muncul dari hati, nggak bisa dengan mudah dihilangkan begitu aja. Apalagi
oleh gue si tipe cewek setia, hahah. Gue mengakui perasaan gue ke dia, tapi tenang
aja dia nggak perlu khawatir karena gue nggak akan membuat dia terganggu dengan
perasaan gue. Mari kita tunggu lima hingga tujuh tahun kedepan, gue akan fokus
pada mimpi gue. Perkara gue akan berjodoh dengan siapa, itu takdir Tuhan. Gue
serahkan sepenuhnya. Walaupun kata Ustad Quraish Shihab kita boleh berdoa minta
jodoh bahkan boleh menyebut nama spesifik orang yang ingin menjadi jodoh kita.
Namun, terkabulnya doa juga dipengaruhi dengan seberapa dekat kita dengan Tuhan.
Jadi, perlulah aku sadar diri bahwa belum begitu dekat aku pada Tuhan. Oleh karenanya, jikalau aku berdoa mohon dijodohkan dengannya sekalipun, entahlah berapa persen
itu akan terwujud.
Minggu, 11 Oktober 2020
Kehidupan Semester 7
Barusan gue habis nonton
videonya Mbak Gita tentang Belajar Bahasa Inggris. Dalam belajar bahasa Inggris
ternyata kita perlu menyeimbangkan antara input dengan output. Maksudnya selain
belajar dengan cara banyak-banyak mendengar dan membaca bahasa Inggris, kita
juga perlu banyak-banyak menulis dan berbicara dengan bahasa Inggris. Diluar
konteks tentang belajar bahasa Inggris, pada dasarnya gue suka belajar banyak
hal. Tapi rasa-rasanya gue nggak mengalami perkembangan yang signifikan dalam belajar.
Nah, dari video itu gue jadi tahu bahwa ternyata gue emang kurang aktif dalam
belajar. Gue masih kurang dalam menantang diri untuk ngomong dan nulis coy,
dalam segala hal yang sedang gue pelajari. Sementara nih, kalo gue liat-liat
sekarang nih banyak temen-temen gue yang udah menjadi pembelajar aktif. Entah
itu mereka bikin video lalu dipost di Youtube atau sekadar bikin story. Sementara
gue nih, masih ragu gitu lho dalam berekspresi dan sharing pengetahuan yang gue
punya. Bukan karena gue nggak mau, tapi gue merasa bahwa apa yang gue tahu itu
bukan apa-apa bagi orang lain. Kadang gue juga masih malu dan takut dalam
memberikan opini pribadi. Kalo bikin IG story paling sering resend
postingan akun lain. Bikin status WA sekadar hal-hal sepele atau gambar yang
nge-save dari twitter. Sementara di twitter lebih sering ngelike dan ngeretweet.
Haduh... ya wajar aja sih ya kalo gue jadi kerdil gini. Padahal nih, zaman
sekarang berpengetahuan aja nggak cukup karena yang lebih powerful adalah
ketika kita bisa sharing information dan berani untuk speak-up. Jadi, gue sekarang harus berani speak-up.
Hei liat aja idola-idolamu Bil, bukankah mereka adalah wanita-wanita yang
berani speak-up? Gitasav, Najwa Shihab, Zaskia Mecca, dan Maudy Ayunda. Yuk
dong diteladani! Nggak usah takut salah, bilamana salah ya tinggal belajar dari
kesalahan itu bukan?
Oiya, pendahuluan life update
ini kok malah jadi panjang banget yak, hehe. Oke, lanjut ke topik utama. Udah
lama gue nggak posting blog, karena memang lagi nggak mood dan nggak ada ide
nulis. Walaupun sebenernya blog gue ini mah emang dibuat dengan tujuan untuk
sharing cerita-cerita pribadi gue aja sih.
Setelah KKN berakhir, gue
cukup sering main sama temen-temen lama. Setelah itu gue sempat gabut, walaupun
harusnya gue menyusun skripsi. Namun, gue baru bener-bener ngerjain setelah
dikasih deadline selama sebulan sama dosen buat ngumpulin proposal. Haduh dasarnya
aku yang males kerja kalo nggak dikasih deadline. Minggu ketiga dalam
pengerjaan skripsi itu, gue dapet panggilan kerja. Ceilah panggilan kerja. Ya
pada intinya gue dipanggil sama salah satu peneliti PSKK buat bantuin input
data selama dua minggu. Berhubung cuman dua minggu jadi gue terima aja dong,
lumayan kan dapet gaji. Selama kerja itu gue kenalan sama dua teman baru, gue
seneng sih bisa kenalan sama mereka karena membuat gue termotivasi buat lebih giat
belajar. Sebenernya pekerjaan di PSKK ini bisa gue lanjutin, tapi gue memutuskan
untuk fokus ngerjain skripsi dan karena alasan masih ngambil dua matkul. Kerja
di PSKK bagi gue cukup melelahkan dan menyita waktu sih, gue takut nggak bisa
menunaikan ibadah skripsi dengan tenang. Sekarang kegiatan muda-mudi di kampung
juga udah dimulai lagi, ada projek yang memerlukan waktu khusus juga untuk
ngerjainnya. Udah saatnya berkontribusi lebih buat kampung sendiri ye kan. Sama
sekarang ini gue juga lagi jadi timses paslon pilkada, walau masih santai sih
kerjaannya. Kegiatan gue sekarang mau fokus ke akademik dulu aja deh, lalu
kontribusi buat masyarakat, sama kepikiran juga buat menantang diri ikutan lomba
tau konferensi gitu lho.
Disamping itu, gue juga lagi
sedih banget karena sahabat gue lagi dalam masalah. Dua anggota keluarganya
kena corona, lalu dia juga kudu tes swab. Dia juga lagi kesulitan buat urusan
akademiknya, banyak pikiran, dan jadi nggak ngegubris media sosial. Gue selalu
berdoa buat kesembuhan dan keselamatan dia dan keluarganya. Semoga semua lekas
pulih dan gue bisa ketemu sama dia.
Btw, gue juga sedih kalo
ngomongin tentang negara ini. Corona belum menunjukkan penurunan, orang udah abai,
pemerintah kerjanya nggak bener. Demo pecah gegara Omnibus Law. Rakyat dianiaya
sama aparat. Suara rakyat dianggap hoax. Bikin undang-undang nggak transparan
dan nggak partisipatif. Negara ini udah kayak milik segelintir orang aja yang
seenak jidat memarginalkan rakyat. Hadeh, gundah, gelisah, galau, merana cuy!
Minggu, 16 Agustus 2020
KETEMU TEMAN SMA
Malem ini gue
capek tapi pengen banget menuliskan cerita gue hari ini. Mumpung malem minggu,
tapi besok responsi KKN! Bodo amat, hehe
Selama corona gue
udah lupa cara bersosialisasi dengan orang karena saking jarangnya keluar rumah
dan ngobrol langsung sama orang lain. Kerjaan tiap hari cuman ngadep laptop
nggawe tetek bengek kuliah dan KKN online. Hingga momen baik akhirnya tiba,
Martak temen deket gue pas SMA pulang kampung ke Jogja. Udah sejak 14 hari yang
lalu dan gue sama Farrah belum sempat ketemu sama dia gegara musti nyelesaiin
output KKN.
Hari ini gue dan
temen-temen akhirnya bisa ngumpul. Kita janjian jam 9 di rumah Rima, tapi
gegara gue bangun kesiangan dan musti melakukan ini itu dulu jadinya gue baru
bisa siap berangkat sekitar jam 9.45. Pas manasin motor gue sempatin buka grup
angkatan SMA, ternyata ada kabar duka dari keluarga salah satu teman. Gue
sempat kaget dan ngucapin ikut berduka juga. Berhubung udah ditungguin gue pun
akhirnya tancap gas ke rumah Rima. Sepanjang perjalanan gue dilanda dilema,
antara mau layat atau enggak ke rumah temen gue.
Sampai di rumah
Rima teman-teman gue ternyata udah lengkap ada Farrah, Martak, dan Erika.
Mereka udah siap buat berangkat. Maap ye cuy, kali ini gue yang jadi penyebab
kemoloran ini, hehe. Gue udah nyuruh mereka duluan, tapi ternyata mereka masih
nunggu gue, uww terharu deh setia banget mereka mau nunggu gue yang super lama.
Gue sempat memastikan temen-temen gue ini udah tahu ada kabar duka dan ternyata
mereka udah tahu. Tapi berhubung mereka nggak begitu kenal sama si teman yang
ayahnya meninggal ini jadi mereka nggak ada niat buat melayat. Jarak antara rumah
Rima sampe kafe tujuan kita cukup jauh, gue mikir-mikir lagi mau layat atau
enggak. Pasalnya gue bukan temen sekelasnya tapi kenal dan pernah terlibat di suatu
kepanitiaan yang sama serta ngerasa perlu layat karena si temen gue ini
memberikan kesan yang baik gitu ke gue walau sebenarnya nggak akrab-akrab
banget. Selain itu gue pikir lokasi rumah duka nggak jauh dari kafe tempat
nongki nanti.
Sesampainya di
kafe gue merasa cukup lega karena lokasinya ternyata sepi, ya iya sih wajar aja
kan jam 11 masih baru buka. Tak lupa sebelum masuk kafe kami cuci tangan dan
cek suhu tubuh, aman. Layaknya kawan yang lama tak jumpa, kami berfoto-foto dan
bercerita tentang kabar masing-masing. Selagi bercerita itu gue sambil masih
mikir ikut layat atau enggak. Akhirnya hati gue pun bertekad untuk ikut dan
langsung gue menghubungi beberapa teman SMA yang kiranya mau layat. Jam 12 gue
OTW layat. Sementara temen-temen gue ini masih stay di kafe, katanya mau
nungguin gue.
Oke saatnya
tancap gas lagi, Bismillah gue niatin untuk layat walau sempat ragu akan
beberapa hal. Eh ternyata jarak rumah duka cukup jauh juga cuy sekitar 9,2 KM.
Sebelumnya gue chatingan juga sama salah satu temen cewek yang mau layat juga,
dia bilang udah OTW dari 15 menit yang lalu. Sesampainya gue di dekat rumah
duka, gue berhenti dulu buat ngechat temen gue dan ternyata dia baru mau
bener-bener OTW naik taksi online bertiga. Owalah..cuy kirain udah mau sampe.
Pada akhirnya gue ngechat salah satu temen cowok, dikabarinlah kalo temen-temen
cowok lagi mampir shalat di masjid terdekat. Gue langsung nyusulin. Sebenernya
gue ngerasa cukup malu sih cewek sendiri, tapi ya gimana lagi. Berhubung
temen-temen cewek masih lama sampenya akhirnya gue mbuntut temen-temen cowok.
Bodo amat yang penting jadi layat.
Selesai layat gue
balik lagi ke kafe. Padahal layatnya lamaaa banget coy, dari jam 12 sampe mau
ashar. Dan temen-temen gue pun masih setia nunggu gue di kafe yang tadi.
Bener-bener bikin makin sayang ke mereka. Lalu kita lanjut makan mie dan
ngobrol banyak hal di kamar Rima. Sebenernya masih pengen ngobrol banyak tapi
udah malem. Bagi gue ketemu teman SMA emang selalu nyenengin sih, nyaman cerita tentang masa lalu, sekarang, dan mengkhayal tentang masa depan. Ahamdulillah, Allah berikan aku teman-teman baik dan luar biasa.