Entah dengan apa gue
musti menggambarkan kehidupan gue yang sekarang ini. Kacau? Nggak jelas? Lagi
suka sensi?
Setiap aspek dalam hidup
gue sekarang lagi nggak baik-baik aja coy, semuanya ada masalah. Mulai dari
segi kuliah yang tugas udah mulai numpuk dan belum gue kerjain sama sekali. Dan
tugas-tugas itu adalah tugas kelompok, gue benci tugas kelompok. Ribet dan ngehabisin
tenaga. Terus tanggung jawab di kepanitiaan yang nggak gue laksanakan
sepenuhnya, apa yang gue harapin nggak berjalan dengan sesuai. Gue lantas loyo
dengan kondiri yang gue alami sekarang.
Kesalahan atas semua ini
mungkin ada pada manajamen gerak gue, yaps bukan manajamen waktu. Karena
sebenernya gue tiap hari udah buat semacam to do list dan disertai juga dengan
keterangan waktu. Tapi semuanya nampak sia-siap ketika gue nggak ada ketegasan
dalam menjalaninya. Gue selalu banyak mikir daripada doing. Sedih gue. Gue tu
selalu tahu apa kesalan gue tapi entah kenapa nggak bisa menghindar dari
kesalahan yang sama, apa gue kurang motivasi?
Selanjutnya masalah
percintaan. Yaelah..
Ini nih yang perlu gue
waspadaain, gue udah mulai terjebak dengan efek ‘punya rasa’. Iya sih dia bukan
pacar gue, kita emang nggak perah sepakat buat pacaran. Tapi dia udah menyeret
gue ke dalam jalan cerita yang berbeda dari sekadar teman. Awalnya semua terasa
menyenangkan untuk dijalani. Semakin kesini, semakin hambar, semakin nggak
jelas. Hambar karena mungkin kita nggak nyambung. Nggak jelas maksudnya adalah dia
bilang ingin deket sama gue, punya rasa. Tapi gue ngerasa nggak ada bedanya gue
dengan cewek lain yang statusnya adalah teman dekatnya. Dia tuh cowok yang
dekat dengan para kaum hawa. Suka usil sama mereka, kaum hawa. Nggal tegas
dengan perasaannya. Akhir-akhir ini sering bikin gue bete sama tingkahnya yang
nggak tegas itu.
Sementara gue adalah
cewek setia. Yang tegas sama perasaan dan perilaku. Apa gue cemburu? Ah sebenarnya
gue juga rada malu untuk mengakui, tapi sepertinya iya. Atau gue yang
menginginkan pengakuan?
Parah sih gue, semuanya
semacam hanya ekspektasi-ekspektasi yang menyakitkan hati. Gue tertekan oleh ekspektasi yang gue buat
sendiri, sementara untuk mewujudkannya gue nggak ada usaha yang maksimal.
Sebenernya gue pengen melakukan usaha yang maksimal, tapi tenaga gue dan
kondisi fisik, psikis, dan otak gue yang nggak mampu. Lantas mau jadi apa lo di
masa depan, Bil? Kalo saat ini lo nggak mau kerja keras bagai quda?!
Baiklah, gue harus gimana
sekarang?
Isi otak gue sekarang
lagi semrawut. Gue musti menjabarkan semuanya dulu, terus gue tentukan mana
yang akan gue lakukan. Initnya adalah ‘manajemen gerak’. Lo harus lebih cerdas
Bil! Yo, bismillah!
Soal doi...
Okelah gue nggak akan
berekspektasi tinggi. Damai ajalah udah sama dia. Toh dia emang sejak awal
nggak ngajak gue buat serius. Mungkin akhir-akhir ini dia ingin mengisyaratkan
untuk ‘udah akhiri saja sampai di sini’. Semakin gue berekspektasi tentang dia,
semakin mengganggu fase kehidupan gue yang sekarang. So thats why, tentang dia akan coba gue hendel dengan santai.
Anggap saja dia teman, seperti yang lain. Tak usahlah berharap dia akan begina
dan begini untukmu, Bil!
OKE, GITU YA!
Satu lagi, gue harus
mbenerin laptop!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar