Holaaa
My Blog!
Saat
ini yang lagi gue rasain adalah LEGA! Why? Because
exam have done today. Meskipun gue nggak sepenuhnya lega karena ngerasa
nggak maksimal di UTS kali ini. Eh, sebenernya gue nggak pernah maksimal sih di
setiap UTS dari semenjak SMA sampe kuliah. Dan gue sadar ini nggak boleh
dibenarkan, bobot UTS juga lumayan buat nambah nila coy!
Hari
ini UTS diakhiri dengan ujian matkul Metodologi Penelitian Sosial. Selesainya
ujian isi otak gue udah nggak karuan, apalagi gue keluar kelas paling akhir
dari semua peserta ujian. Bukan karena gue terlampau jenius untuk njawab soal,
lebih tepatnya karena gue terlampau lemot mikirnya. Setelah keluar dari ruang
ujian hingga dua jam setelahnya isi otak gue masih runyam dan gue hanya diam
diantara teman-teman gue yang pada hepi-hepi karena ujian udah berakhir. Runyamnya
otak gue adalah karena merasa dari kemarin ujian nggak pernah maksimal ngerjain
soal, nggak mampu ngembangin jawaban, dan keluar kelas ujian selalu jadi the last one. Jujur gue lagi merasa di
titik terendah ketika teman-teman yang lain sangat optimis dalam ujian. Ah auklah,
sekarang gue hanya bisa pasrah sama kehendak dosen yang merupakan perantara
kehendak Allah. Gue hanya mampu tawakkal dan berhenti berekspektasi tinggi. Di sisi
lain hati gue mencoba menenangkan, ngingetin bahwa hidup nggak hanya soal
kuliah dan IPK.
Sebelum
berangkat ke kampus gue udah bertekad kalo habis ujian mau ke perpus untuk
menenangkan diri, tapi tiba-tiba gue berubah pikiran. Akhirnya gue ngikutin
teman-teman yang lain untuk nonton bioskop, sebelumnya kita makan dulu ke Dirty
Chicks di Klebengan.
Hari
ini gue diajakin nonton film judulnya Teman Tapi Menikah. Gue sebelumnya udah
sering denger atau lihat promosi film itu, film yang diadopsi dari sebuah novel
karangan Ayudia Bing Slamet sama suaminya Ditto. Ceritanya terinspirasi dari kisah
cinta mereka sendiri. Mereka berdua ini dulunya sahabatan terus jadi pasangan suami-istri.
Awalnya sih gue nggak tertarik sama kisah cinta mereka, tapi setelah lihat
film-nya gue jadi tertarik sama kisah mereka. Menurut gue cerita di film itu
nggak alay meskipun tentang percintaan, pemainnya juga lumayan oke dan natural
aktingnya. Oh iya pemain utamanya itu Vanesha Priscillia sama Adipati Dolken. Selama
pemutaran film itu asli gue baper dan ngerasa pengen banget punya cerita yang
sama. Karena pada dasarnya gue nggak suka model ‘pacaran’ tapi lebih suka model
‘teman hidup’ dalam menjalin hubungan dengan calon suami gue kelak. Gue pengen
kayak Ayu sama Ditto yang bisa saling nyaman, santai, dan kompak dalam menjalin
hubungan. Sayangnya cerita hidup gue jauh dari kisah cinta mereka, kehidupan
cinta gue dari SMA sampai saat ini flat! Tapi satu pesan positif yang bisa gue
ambil dari film itu adalah sebelum
jodohmu datang maka fokuslah pada pengembangan dirimu sendiri dan terus
berusaha memperbaiki diri serta jadikan passion sebagai penggerak menuju
kesuksesan. Masalahnya sampai detik ini pun gue nggak tahu passion gue apa? Btw, tadi ada total 17 anak MKP angkatan
gue yang ikut nonton dan di teater yang sama lagi.
Selanjutnya
habis nonton gue nggak langsung pulang tapi balik lagi ke kampus untuk rapat
angkatan 2017 sama (katanya) rapat besar Gamapi. Rapat angkatan kali ini utamanya
bahas Public Action yang kesepakatan dari mayoritas yang datang rapat adalah jadi
dilaksanakan. Next, gue dan beberapa
teman anggota Gamapi yang awalnya mau rapat besar tapi ternyata yang akan kita
lakukan adalah Beres-beres Sekretariat. Beuh,
sekre awalnya udah kayak gudang apapun barang dimasukin ke sana. Mau nyari apa?
Panci ada, spons cuci piring ada, bahkan keluarga tikus pun ada. Beberes bareng-bareng
itu asik walaupun awalnya ngrasa kayak berat dengan banyaknya barang-barang
yang bingung mau diapain. Akhirnya selesai-selesai aja.
FYI, sekarang gue lagi sering kepikiran untuk
buat usaha online sendiri. Gue lagi butuh duit supaya bisa ngembangin diri gue
dan supaya nggak bergantung mulu sama ortu. Rencana lain yang lagi gue pikirkan
adalah ikut lomba baca puisi di event Festival Sastra. Barangkalai puisi adalah
jodoh gue untuk ngembangin otak kanan. Otak kiri gue udah terlalu sumpek
sampe-sampe sering overthingking. So that’s why, gue butuh penyeimbang di
bidang seni. Yakali sih, masa iya gue nggak ada sama sekali bakat seninya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar