Kamis, 05 April 2018

Nonton Teman Tapi Menikah



Holaaa My Blog!
Saat ini yang lagi gue rasain adalah LEGA! Why? Because exam have done today. Meskipun gue nggak sepenuhnya lega karena ngerasa nggak maksimal di UTS kali ini. Eh, sebenernya gue nggak pernah maksimal sih di setiap UTS dari semenjak SMA sampe kuliah. Dan gue sadar ini nggak boleh dibenarkan, bobot UTS juga lumayan buat nambah nila coy!
Hari ini UTS diakhiri dengan ujian matkul Metodologi Penelitian Sosial. Selesainya ujian isi otak gue udah nggak karuan, apalagi gue keluar kelas paling akhir dari semua peserta ujian. Bukan karena gue terlampau jenius untuk njawab soal, lebih tepatnya karena gue terlampau lemot mikirnya. Setelah keluar dari ruang ujian hingga dua jam setelahnya isi otak gue masih runyam dan gue hanya diam diantara teman-teman gue yang pada hepi-hepi karena ujian udah berakhir. Runyamnya otak gue adalah karena merasa dari kemarin ujian nggak pernah maksimal ngerjain soal, nggak mampu ngembangin jawaban, dan keluar kelas ujian selalu jadi the last one. Jujur gue lagi merasa di titik terendah ketika teman-teman yang lain sangat optimis dalam ujian. Ah auklah, sekarang gue hanya bisa pasrah sama kehendak dosen yang merupakan perantara kehendak Allah. Gue hanya mampu tawakkal dan berhenti berekspektasi tinggi. Di sisi lain hati gue mencoba menenangkan, ngingetin bahwa hidup nggak hanya soal kuliah dan IPK.
Sebelum berangkat ke kampus gue udah bertekad kalo habis ujian mau ke perpus untuk menenangkan diri, tapi tiba-tiba gue berubah pikiran. Akhirnya gue ngikutin teman-teman yang lain untuk nonton bioskop, sebelumnya kita makan dulu ke Dirty Chicks di Klebengan.
Hari ini gue diajakin nonton film judulnya Teman Tapi Menikah. Gue sebelumnya udah sering denger atau lihat promosi film itu, film yang diadopsi dari sebuah novel karangan Ayudia Bing Slamet sama suaminya Ditto. Ceritanya terinspirasi dari kisah cinta mereka sendiri. Mereka berdua ini dulunya sahabatan terus jadi pasangan suami-istri. Awalnya sih gue nggak tertarik sama kisah cinta mereka, tapi setelah lihat film-nya gue jadi tertarik sama kisah mereka. Menurut gue cerita di film itu nggak alay meskipun tentang percintaan, pemainnya juga lumayan oke dan natural aktingnya. Oh iya pemain utamanya itu Vanesha Priscillia sama Adipati Dolken. Selama pemutaran film itu asli gue baper dan ngerasa pengen banget punya cerita yang sama. Karena pada dasarnya gue nggak suka model ‘pacaran’ tapi lebih suka model ‘teman hidup’ dalam menjalin hubungan dengan calon suami gue kelak. Gue pengen kayak Ayu sama Ditto yang bisa saling nyaman, santai, dan kompak dalam menjalin hubungan. Sayangnya cerita hidup gue jauh dari kisah cinta mereka, kehidupan cinta gue dari SMA sampai saat ini flat! Tapi satu pesan positif yang bisa gue ambil  dari film itu adalah sebelum jodohmu datang maka fokuslah pada pengembangan dirimu sendiri dan terus berusaha memperbaiki diri serta jadikan passion sebagai penggerak menuju kesuksesan. Masalahnya sampai detik ini pun gue nggak tahu passion gue apa? Btw, tadi ada total 17 anak MKP angkatan gue yang ikut nonton dan di teater yang sama lagi.
Selanjutnya habis nonton gue nggak langsung pulang tapi balik lagi ke kampus untuk rapat angkatan 2017 sama (katanya) rapat besar Gamapi. Rapat angkatan kali ini utamanya bahas Public Action yang kesepakatan dari mayoritas yang datang rapat adalah jadi dilaksanakan. Next, gue dan beberapa teman anggota Gamapi yang awalnya mau rapat besar tapi ternyata yang akan kita lakukan adalah Beres-beres Sekretariat. Beuh, sekre awalnya udah kayak gudang apapun barang dimasukin ke sana. Mau nyari apa? Panci ada, spons cuci piring ada, bahkan keluarga tikus pun ada. Beberes bareng-bareng itu asik walaupun awalnya ngrasa kayak berat dengan banyaknya barang-barang yang bingung mau diapain. Akhirnya selesai-selesai aja.  
FYI, sekarang gue lagi sering kepikiran untuk buat usaha online sendiri. Gue lagi butuh duit supaya bisa ngembangin diri gue dan supaya nggak bergantung mulu sama ortu. Rencana lain yang lagi gue pikirkan adalah ikut lomba baca puisi di event Festival Sastra. Barangkalai puisi adalah jodoh gue untuk ngembangin otak kanan. Otak kiri gue udah terlalu sumpek sampe-sampe sering overthingking. So that’s why, gue butuh penyeimbang di bidang seni. Yakali sih, masa iya gue nggak ada sama sekali bakat seninya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar