Rabu, 15 November 2017

Hari-hari yang Kosong



Kosong, mungkin itu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan hidup gue sekarang. Udah sekitar empat bulan gue hidup sebagai mahasiswa di universitas yang katanya terbaik se-Indonesia, tapi entah kenapa gue merasa kehidupan gue bukan tambah berwarna justru malah biasa aja.
Gue akan kasih tau kenapa biasa aja. Sebagai mahasiswa jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP) Fisispol UGM, gue dalam seminggu cuman kuliah tiga hari yaitu dari Senin sampai Rabu. Meskipun terkadang dosen minta ada jam tambahan di hari lain, biasanya make hari Kamis dan Jumat. Jam tambahan diadakan kalo mendekati ujian-ujian kayak UTS dan UAS.
Gue bangun tidur jam setengah lima, dibangunin sama Ibuk denga cara diteriakin. Sebenernya gue udah masang alarm di HP bahkan sebanyak tiga kali supaya gue bisa bangun jam tiga-an. Sayangnya itu semua jarang banget berhasil, faktanya gue tetep bangun jam setengah lima lebih dengan cara diteriakin sama Ibuk. Sampe sekarang gue juga masih penasaran kenapa bisa seperti itu ya?
Setelah bangun gue langsung ambil air wudlu habis itu shalat subuh sendiri. Selanjutnya gue ngelakuin hal yang nggak jelas selama 10 menit di kamar. Lalu gue mandi dan dandan biasanya selesai jam enam. Terus gue sarapan baru habis itu berangkat jam 6.20 naik motor. Rumah gue ke kampus jaraknya jauh, sekitar 20 km dan biasanya gue tempuh selama 45 menit asalkan nggak macet. Begitulah rutinitas gue di pagi hari.
Hari Senin gue kuliah full dari pagi sampe sore jam setengah lima-an. Terus gue langsung pulang kalo nggak ada kegiatan apapun. Sampe rumah gue mandi, makan, dan beres-beres rumah. Nyuci piring dan nyapu rumah adalah bagian kontribusi gue untuk kebersihan rumah. Karena di rumah gue nggak ada pembantu, sementara semua anggota keluarga gue kerja dan sekolah jadi nggak ada yang bisa dijagain buat beres-beres rumah. Alhasil rumah gue nggak pernah rapi, selalu berantakan, jadi harap maklum aja.
Kalo udah adzan maghrib aturan di rumah gue adalah TV nggak boleh dinyalain dan jangan sekali-sekali mainan HP, kalo berani melanggar siap-siap aja diomelin sama Ibuk. Terkadang kami se-keluarga shalat maghrib berjamaah, setelah itu gue berusaha meluangkan waktu untuk ‘mengkaji Al Quran’. Membacanya sebanyak satu ruku’ lalu baca juga terjemahnya. Selanjutnya gue membaca buku tentang agama. Membaca buku agama sebenarnya belum lama gue lakukan, baru selama sebulan ini dan itupun nggak bisa konsisten setiap hari. Alasan gue melakukan itu karena gue udah nggak lagi madrasah di pondok dan di kampus juga belum ada pelajaran agama. Gue meyakini agama adalah pegangan hidup dan petunjuk. Sebagai pegangan hidup, tentunya gue harus mau mendekati agama gue sendiri. Dan sebagai petunjuk itu nggak akan terpenuhi kalo kita hanya sekadar membaca huruf arab dari Al Quran aja, kita butuh untuk membaca terjemah bahkan tafsirnya. Dan untuk lebih paham lagi dengan agama, kita juga butuh baca buku-buku tentang agama. Yups, gue lagi berusaha untuk itu semua.
Setelah itu, gue shalat isya. Habis itu mainan HP dulu sampe jam delapan baru gue mulai me-review pelajaran yang gue dapet di hari itu. Entah itu mencatat ulang maupaun baca buku yang berkaitan dengan matkul hari berikutnya. Namun, sayangnya kegiatan itu sering berkahir sebagai wacana belaka karena gue udah terlanjur tepar dan selepas isya gue langsung tidur. Kalo tidur awal gue kadang terbangun di tengah malem, tapi lebih sering terbangun di pagi hari. Oleh karena itu, semisal ada tugas kuliah yang dikumpulin hari Selasa gue nggak berani ngerjain di hari Senin malem, karena gue takut bakal tepar dan tugas tersebut nggak gue kerjain. Jadinya, gue kadang make malem Minggu atau hari Minggu gue untuk nugas. Sementara malem Minggu yang berarti malam santai, gue geser ke malam Kamis atau malam Sabtu.
Itulah gambaran keseharian gue selama seminggu, untuk hari Selasa dan Rabu cuman ada dua matkul jadi jelas lebih banyak waktu luang yang gue punya.
Sejujurnya, gue merasa bahwa waktu luang itu nggak lantas membuat gue senang. Sebaliknya malah membuat gue sedih akan diri gue sendiri. Gue ngerasa nggak punya eksistensi di dunia ini. Namun di lain sisi, gue merasa belum siap untuk mulai kesibukan. Gue merasa masih perlu waktu untuk berbenah, menata hidup, mikirin tujuan kuliah, prinsip-prinsip hidup, dan mikirin gue mau jadi mahasiswa yang seperti apa nantinya.
Untuk saat ini tanggung jawab gue diluar kuliah cuman sedikit, yaitu magang di Divisi Humas HMJ, panitia Sie Publikasi event HMJ, dan Sekretaris di organisasi pemuda dusun gue. Tapi kalo dipikir-pikir gue juga belum bekerja maksimal untuk ketiga tanggung jawab gue tersebut.
Kenapa gue baru kepikiran sekarang, setelah gue menulis tulisan ini?
Seharusnya gue tuntaskan dulu tanggung jawab gue tersebut, baru gue mikirin gue mau ikut apa selanjutnya. Ibarat ingin melihat semut di ujung lautan, sementara gajah di depan mata tak tampak. Gue juga kayaknya terlalu sibuk melihat orang lain dengan segala kesenangannya dan sibuk juga membandingkan hidup gue dengan mereka. Merasa hidup gue kosong padahal sejatinya gue sendiri subjeknya, gue sendiri yang bisa mengubah hidup gue jadi berwarna. Iya bener, gue lupa bahwa selama ini gue hanya memperlakukan diri gue sebagai objek yang menunggu warna-warna itu.
Gue menyesal selama ini gue terlalu sibuk berpikir dan menerawang aja tanpa menulis. Terlalu membuang-buang waktu. Baiklah, mulai sekarang gue akan lebih sering untuk menuliskan pikiran-pikiran gue. Karena di tengah-tengah menulis, kita bisa menemukan solusi untuk permasalahan kita sendiri.  Seperti yang sedang gue lakukan sekarang. Asal lo tau aja, gue jarang banget cerita masalah yang lagi gue hadepin dengan orang lain. Karena gue kesusahan untuk bercerita dan orang lain nggak paham akhirnya nggak ada solusi. Gue lebih suka berdoa atau menulis untuk menjlentrehkan masalah gue, lalu gue merumuskannya dan akhirnya nemu solusinya sendiri.
Asal lo tau lagi, gue hari ini seharusnya ada kuliah karena ini hari Rabu. Gue izin ke temen gue dengan alasan sakit. Emang bener gue sakit, tapi sebenernya masih kuat sih kalo untuk kuliah. Disamping sakit, gue takut gagal presentasi karena belum prepare semalem. Gue terlalu cemas dengan kegagalan, lalu berpikir untuk menghindarinya. Pengecut banget deh gue sekarang ini. Harusnya semakin dewasa gue harus lebih bisa menghadapi hal-hal yang nggak terduga, apapun itu bentuknya. Harusnya gue juga mikir, betapa beruntungnya gue bisa kuliah sementara temen-temen di dusun gue sekarang sedang susah kerja nyari duit. Lah gue duit udah dicariin orangtua, tapi malah jadi pengecut kayak gini. Gue sering ngerasa bersalah sama orangtua kalo nggak bisa maksimal dalam pendidikan. Lantas apa yang lagi gue lakukan sekarang?
Gue nyesel, gue janji nggak akan gini lagi!

2 komentar: