Kosong, mungkin itu kata yang paling tepat
untuk mendeskripsikan hidup gue sekarang. Udah sekitar empat bulan gue hidup
sebagai mahasiswa di universitas yang katanya terbaik se-Indonesia, tapi entah
kenapa gue merasa kehidupan gue bukan tambah berwarna justru malah biasa aja.
Gue akan kasih tau kenapa biasa aja. Sebagai
mahasiswa jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP) Fisispol UGM, gue dalam
seminggu cuman kuliah tiga hari yaitu dari Senin sampai Rabu. Meskipun terkadang
dosen minta ada jam tambahan di hari lain, biasanya make hari Kamis dan Jumat.
Jam tambahan diadakan kalo mendekati ujian-ujian kayak UTS dan UAS.
Gue bangun tidur jam setengah lima, dibangunin
sama Ibuk denga cara diteriakin. Sebenernya gue udah masang alarm di HP bahkan
sebanyak tiga kali supaya gue bisa bangun jam tiga-an. Sayangnya itu semua jarang
banget berhasil, faktanya gue tetep bangun jam setengah lima lebih dengan cara
diteriakin sama Ibuk. Sampe sekarang gue juga masih penasaran kenapa bisa
seperti itu ya?
Setelah bangun gue langsung ambil air wudlu
habis itu shalat subuh sendiri. Selanjutnya gue ngelakuin hal yang nggak jelas
selama 10 menit di kamar. Lalu gue mandi dan dandan biasanya selesai jam enam.
Terus gue sarapan baru habis itu berangkat jam 6.20 naik motor. Rumah gue ke
kampus jaraknya jauh, sekitar 20 km dan biasanya gue tempuh selama 45 menit asalkan
nggak macet. Begitulah rutinitas gue di pagi hari.
Hari Senin gue kuliah full dari pagi sampe
sore jam setengah lima-an. Terus gue langsung pulang kalo nggak ada kegiatan apapun.
Sampe rumah gue mandi, makan, dan beres-beres rumah. Nyuci piring dan nyapu
rumah adalah bagian kontribusi gue untuk kebersihan rumah. Karena di rumah gue
nggak ada pembantu, sementara semua anggota keluarga gue kerja dan sekolah jadi
nggak ada yang bisa dijagain buat beres-beres rumah. Alhasil rumah gue nggak
pernah rapi, selalu berantakan, jadi harap maklum aja.
Kalo udah adzan maghrib aturan di rumah gue
adalah TV nggak boleh dinyalain dan jangan sekali-sekali mainan HP, kalo berani
melanggar siap-siap aja diomelin sama Ibuk. Terkadang kami se-keluarga shalat
maghrib berjamaah, setelah itu gue berusaha meluangkan waktu untuk ‘mengkaji Al
Quran’. Membacanya sebanyak satu ruku’ lalu baca juga terjemahnya. Selanjutnya gue
membaca buku tentang agama. Membaca buku agama sebenarnya belum lama gue
lakukan, baru selama sebulan ini dan itupun nggak bisa konsisten setiap hari.
Alasan gue melakukan itu karena gue udah nggak lagi madrasah di pondok dan di
kampus juga belum ada pelajaran agama. Gue meyakini agama adalah pegangan hidup
dan petunjuk. Sebagai pegangan hidup, tentunya gue harus mau mendekati agama
gue sendiri. Dan sebagai petunjuk itu nggak akan terpenuhi kalo kita hanya
sekadar membaca huruf arab dari Al Quran aja, kita butuh untuk membaca terjemah
bahkan tafsirnya. Dan untuk lebih paham lagi dengan agama, kita juga butuh baca
buku-buku tentang agama. Yups, gue lagi berusaha untuk itu semua.
Setelah itu, gue shalat isya. Habis itu
mainan HP dulu sampe jam delapan baru gue mulai me-review pelajaran yang gue
dapet di hari itu. Entah itu mencatat ulang maupaun baca buku yang berkaitan
dengan matkul hari berikutnya. Namun, sayangnya kegiatan itu sering berkahir
sebagai wacana belaka karena gue udah terlanjur tepar dan selepas isya gue
langsung tidur. Kalo tidur awal gue kadang terbangun di tengah malem, tapi lebih
sering terbangun di pagi hari. Oleh karena itu, semisal ada tugas kuliah yang
dikumpulin hari Selasa gue nggak berani ngerjain di hari Senin malem, karena gue
takut bakal tepar dan tugas tersebut nggak gue kerjain. Jadinya, gue kadang make
malem Minggu atau hari Minggu gue untuk nugas. Sementara malem Minggu yang
berarti malam santai, gue geser ke malam Kamis atau malam Sabtu.
Itulah gambaran keseharian gue selama
seminggu, untuk hari Selasa dan Rabu cuman ada dua matkul jadi jelas lebih banyak
waktu luang yang gue punya.
Sejujurnya, gue merasa bahwa waktu luang
itu nggak lantas membuat gue senang. Sebaliknya malah membuat gue sedih akan
diri gue sendiri. Gue ngerasa nggak punya eksistensi di dunia ini. Namun di
lain sisi, gue merasa belum siap untuk mulai kesibukan. Gue merasa masih perlu
waktu untuk berbenah, menata hidup, mikirin tujuan kuliah, prinsip-prinsip
hidup, dan mikirin gue mau jadi mahasiswa yang seperti apa nantinya.
Untuk saat ini tanggung jawab gue diluar
kuliah cuman sedikit, yaitu magang di Divisi Humas HMJ, panitia Sie Publikasi
event HMJ, dan Sekretaris di organisasi pemuda dusun gue. Tapi kalo
dipikir-pikir gue juga belum bekerja maksimal untuk ketiga tanggung jawab gue
tersebut.
Kenapa
gue baru kepikiran sekarang, setelah gue menulis tulisan ini?
Seharusnya gue tuntaskan dulu tanggung
jawab gue tersebut, baru gue mikirin gue mau ikut apa selanjutnya. Ibarat ingin
melihat semut di ujung lautan, sementara gajah di depan mata tak tampak. Gue
juga kayaknya terlalu sibuk melihat orang lain dengan segala kesenangannya dan sibuk
juga membandingkan hidup gue dengan mereka. Merasa hidup gue kosong padahal
sejatinya gue sendiri subjeknya, gue sendiri yang bisa mengubah hidup gue jadi
berwarna. Iya bener, gue lupa bahwa selama ini gue hanya memperlakukan diri gue
sebagai objek yang menunggu warna-warna itu.
Gue menyesal selama ini gue terlalu sibuk berpikir
dan menerawang aja tanpa menulis. Terlalu membuang-buang waktu. Baiklah, mulai
sekarang gue akan lebih sering untuk menuliskan pikiran-pikiran gue. Karena di
tengah-tengah menulis, kita bisa menemukan solusi untuk permasalahan kita
sendiri. Seperti yang sedang gue lakukan
sekarang. Asal lo tau aja, gue jarang banget cerita masalah yang lagi gue
hadepin dengan orang lain. Karena gue kesusahan untuk bercerita dan orang lain
nggak paham akhirnya nggak ada solusi. Gue lebih suka berdoa atau menulis untuk
menjlentrehkan masalah gue, lalu gue merumuskannya dan akhirnya nemu solusinya
sendiri.
Asal lo tau lagi, gue hari ini seharusnya
ada kuliah karena ini hari Rabu. Gue izin ke temen gue dengan alasan sakit. Emang
bener gue sakit, tapi sebenernya masih kuat sih kalo untuk kuliah. Disamping sakit,
gue takut gagal presentasi karena belum prepare
semalem. Gue terlalu cemas dengan kegagalan, lalu berpikir untuk menghindarinya.
Pengecut banget deh gue sekarang ini. Harusnya semakin dewasa gue harus lebih bisa
menghadapi hal-hal yang nggak terduga, apapun itu bentuknya. Harusnya gue juga
mikir, betapa beruntungnya gue bisa kuliah sementara temen-temen di dusun gue
sekarang sedang susah kerja nyari duit. Lah gue duit udah dicariin orangtua,
tapi malah jadi pengecut kayak gini. Gue sering ngerasa bersalah sama orangtua
kalo nggak bisa maksimal dalam pendidikan. Lantas apa yang lagi gue lakukan
sekarang?
Gue nyesel,
gue janji nggak akan gini lagi!
Terimakasih sudah berbagi 🙂
BalasHapusSama-sama :))
Hapus