Sabtu, 03 Maret 2018

Jangan Izinkan Dunia Mengaturmu, Kamulah yang Harus Mengaturnya

Udah lama banget aku nggak nulis blog, padahal rencananya aku ingin jadi blogger. Walaupun tulisan-tulisan ini sebenarnya nggak berfaedah buat para pembaca. Eh lupa, pembacanya kan aku sendiri, Oon..
Tahun baru, semester baru, dan kegiatan baru. Itulah yang sedang mewarnai kehidupanku saat ini. Tahun baru ini aku punya resolusi yaitu ingin menjadi pribadi yang aktif dan positif serta mampu menempatkan diri. Untuk mencapai itu aku harus ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan baik di kampus maupun di luar kampus. Salah satu caranya aku pikir adalah dengan ikut organisasi-organisasi dan kepanitiaan. Sejak awal semester dua ini aku udah mulai daftar-daftar organisasi, ngisi formulir dan melakukan wawancara. Aku ndaftar organisasi GAMAPI yang tingkatannya jurusan dan DEMA yang tingkatannya fakultas. Keduanya adalah organisasi yang sejenis sih menurutku kalo dilihat dari struktur dan program kerjanya, yaitu sejenis organisasi yang kalo di SMA dulu namanya OSIS kali ya. Alhamdulillah aku keterima di kedua organisasi tersebut. Terus kalo kepanitiaan, aku terakhir terlibat di kepanitiaan Public Action yaitu semacam rangkaian acara yang memadukan akademik dengan seni. Selanjutnya mungkin aku akan ndaftar jadi panitia makrab jurusan dan sebuah acara yang cakupannya univ.
Namun di sisi lain kuliah semakin berat, coy! Apalagi sekarang masing-masing matkul bobotnya empat SKS, kecuali matkul Metodologi Penelitian Sosial doang yang tiga SKS. Artinya apa? Beban dalam menjalaninya juga semakin berat. Kuliahnya selama dua jam dan terkadang ada tambahan, herannya ada satu matkul yang tambahannya itu ada setiap minggu jadi matkul itu muncul sebanyak dua kali seminggu dengan durasi yang sama. Karena itu aku ngrasa kalo dosen-dosen jurusaku ini ntah saking semangatnya mengajar atau ada hal lain yang terselubung. Entahlah. Tambah parahnya lagi tugas juga serasa nggak ada kelarnya, ampun dah! Kemunculan mereka inilah yang kadang membuatku emosi setiap hari. Kemudian hal itu semakin kronis tatkala tugas-tugas yang diberikan adalah jenis tugas kelompok. Sumpah itu akan menguras waktu karena harus dikerjakan secara bersama, jangan beranggapan bisa bagi tugas dan tinggal digabung. Itu adalah kesalahan fatal mahasiswa sosial. Dengan hanya cara demikian, dosen akan tahu, ntah kenapa, mungkin mereka punya indra keenam mungkin.
Oke pada intinya gue akan semakin sibuk selanjutnya. Namun satu hal yang perlu aku sadari bahwa semua yang aku lalui atau akan aku kerjakan itu hanyalah sebuah sistem duniawi yang bisa membuatku hanyut di dalamnya. Merasa stres dan jenuh adalah salah satu efek samping sistem tersebut. Jangan sampai kamu hanyut, Nabilah!
Ku pengen cerita banyak nih sebenernya, tapi mata ini sudah tidak sanggup lagi untuk tetap terjaga. Aku hanya ingin tidur dan mimpi indah. Dah ya, bye!

Jumat, 29 Desember 2017

Evaluasi dan Resolusi sebagai Mahasiswa



Pada akhirnya Ujian Akhir Semester udah kelar juga! Sumpah gue legaaaa banget. Setelah melewati hari-hari penuh dengan tekanan, ngerjain soal-soal ujian yang bikin capek otak dan tangan. Gimana nggak capek ada beberapa soal yang syarat jawabannya minimal satu halaman, bahkan ada juga yang suruh membuat esai 500 kata. Gila kan tuh? Tapi sudahlah, lupakan masa-masa sulit itu dan marilah kita rencanakan liburan yang asyik dan menarik lur!
Tapi...sebelum menikmati masa-masa liburan ada baiknya sebagai mahasiswa yang berintegritas kita hendaknya melakukan evaluasi terhadap semester yang telah lalu dan melakukan beberapa resolusi untuk semester yang akan datang. Ya to? Karena manusia berhak berencana, meskipun perencana terbaik adalah Tuhan. Nggaya..nggaya..
Sebenarnya ada berbagai aspek dalam hidup gue yang butuh untuk dievaluasi, tapi kayaknya akan panjang ceritanya kalo gue tuangin semuanya ke dalam tulisan. Jadi, gue hanya akan menuliskan evaluasi dan resolusi yang berkaitan dengan aspek perkuliahan aja lah ya.
Setelah gue renungkan dan pikirkan, kira-kira ini nih evaluasi dan resolusinya :
1.      Selama ini gue kurang persiapan untuk kelas, jarang banget gue baca buku atau belajar tentang materi yang akan dipelajari besok ketika kelas. Dampaknya adalah ketika dosen menyampaikan materi gue sering nggak paham sama alurnya karena gue ibaratnya nggak bawa bekal pokok tentang materi tersebut. Padahal nih ya, temen-temen gue yang lain (terutama yang pinter-pinter) tuh udah pada prepare sebelum kelas, jadi pas kelas mereka tuh bisa ngikutin alur materi dosen terus bisa menyampaikan argumen-argumen mereka tentang materi itu dengan tambahan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Jadi, mulai semester dua besok gue berniat untuk belajar sebelum kelas. Mungkin itu akan gue lakukan di pagi hari sekitar jam tiga, syukur-syukur kalo bisa tahajjud juga.
2.      Selain belajar sebelum kelas, gue rasa belajar setelah kelas juga penting banget. Apalagi untuk seorang gue yang memiliki kapasitas otak terbatas, yang sering banget lemot kalo mikir dan sering lupa sama banyak hal. Nah karena ini sifatnya mengulang materi, gue harus pinter-pinter nyari waktu yang pas buat melakukannya supaya nggak bosen. Mungkin kalo sehari cuman ada dua kelas, gue bisa langsung ngulang di perpustakaan. Tapi kalo seharian full gue ada kelas, akan lebih baik kalo meluangkan waktu untuk tidur dulu baru bangun lagi untuk mengulang materi.
3.      Tugas adalah teman paling setia bagi mahasiswa, dia selalu ada dalam suka maupun duka. Semester lalu, gue masih suka males ngerjain tugas jauh-jauh deadline padahal sejatinya banyak waktu luang. Alhasil, gue ngerjain tugas mepet sama deadline dan hasilnya nggak bikin gue puas karena ngerjainnya juga di bawah tekanan waktu yang tinggal sedikit. Oleh karena itu untuk perkara tugas yang sifatnya individu gue akan lebih disiplin lagi deh, ngerjain ya paling lambat sehari sebelum deadline udah kelar. Untuk tugas yang sifatnya kelompok, bahasnya di hari tugas itu dikasih terus dikerjain dengan cara efektif, dan sebelum deadline harus ada pembahasan bersama lagi. Rencana itu butuh banget komitmen bersama, masalahnya gimana cara memengaruhi orang lain untuk sepemikiran dengan kita?
4.      Semester lalu gue bisa diibaratkan sebagai ‘bawang kotong’ atau istilah lainnya, yang intinya adalah fisiknya doang yang ada tapi rohnya nggak ada. Gue pasif banget di kelas, pernah sih sekali dua kali nyampaiin pertanyaan tapi nggak pernah sekalipun menjawab pertanyaan atau menanggapi suatu presentasi. Sebenernya ada sih sesuatu yang gue pikirin kalo lagi kelas, cuman gue selalu kehilangan kesempatan buat ngomong karena terlalu lama mikirin rangkaian kata dan apa reaksi dosen dan teman-teman lainnya. Padahal mah ya bodo amat, kalo pertanyaan atau argumen gue nggak mutu itu tandanya gue lagi belajar. Yang terpenting adalah berani dulu, lalu bisa, kemudian terbiasa.
5.      I have a big dream. Nah, untuk menggapai mimpi itu gue rasa harus keluar dari zona nyaman. Harus berani mencoba, harus mau mengeksplore kemampuan diri sendiri. Yah, walaupun sampai detik ini gue masih nggak tau apa sih sebenernya bakat yang gue miliki dan patut untuk dibanggakan. Gue sangat sangat mengakui bahwa gue nggak ada bakat sama sekali di ranah seni which is nyanyi, ngelukis, ataupun juga nari. Karena gue ngerasa nggak bakat di bidang seni, di situlah gue sering merasa minder dan nggak gaul. But, gue masih berusaha kok untuk menggali bakat yang mungkin gue miliki. Meskipun gue masih ragu sedalem apa sih bakat gue kok gue menggali tapi nggak nemu-nemu. Yawis, intinya gue ingin menorehkan prestasi di bidang akademik dan non akademik.
6.      Satu hal yang gue sadari di akhir tahun ini adalah bahwa gue kayaknya semakin tidak ramah ke orang-orang. Sebenernya gue pernah ngrasa kayak gini juga dulu pas SMP, terus gue berusaha untuk mengubah perilaku gue itu dan akhirnya gue bisa kok jadi ramah, terbuka dalam bergaul, dan membuat orang cukup nyaman berada di sekitar gue. Padahal harusnya semakin ke sini gue hendaknya menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal bergaul. Banyak orang bilang, pergaulan itu berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang. Caranya, gue janganlah jadi orang yang pasif, yaps gue musti lebih sering ‘say hello’ sama temen-temen gue.
Okelah, cukup sekian dulu kirangnya hal-hal yang perlu gue benahi untuk semester berikutnya. Mudah-mudahan nggak hanya sekadar wacana ya, Bil.
Btw, liburan kali ini gue pengen banget berkunjung ke tempat-tempat wisata di Yogyakarta yang belum pernah gue kunjungin. Sudah sekian lama gue tinggal di sini tapi gue taunya dari dulu cuman tempat itu-ituu aja. Padahal sejatinya Yogyakarta itu surga buat berwisata kan ya, so tinggal nyari temen aja buat berkelana menjelajah Yogyakarta (bukan sekadar Kota Jogja).

Senin, 11 Desember 2017

Mencoba Menilai Positif terhadap Diri Sendiri




[LIVE REPORT] Sekarang adalah hari pertama gue menjalani UAS, tadi matkul yang diujikan itu Ilmu Sosial Dasar. Matkul yang dikenal absurd dosennya, dan rumor yang beredar turun temurun angkatan beliau itu sukanya ngasih nilai random. Tapi sebenarnya gue nggak percaya-percaya amat sih, ya kalik dosen UGM gitu modelnya begitu. Dan kalaupun itu benar adanya, gue akan protes sama akademik kampus untuk ngganti tuh dosen. Ngotot banget sih, Bil?  Ya iyalah, gue aja udah rajin berangkat kelas, ngerjain tugas sunggu-sungguh, belajar UAS juga mati-matian masak mau dikasih nilai yang nggak sebanding sama usaha gue. Wkwk..
Minggu-minggu ujian kali ini terasa cukup berat bagi gue. Selain karena gue belum belajar secara menyeluruh dari jauh-jauh hari, pun juga dikarenakan ibu gue lagi jadi utusan kantornya buat ke Jerman sempai 10 hari kedepan. Iya, Jerman negara tempat idola gue (a.k.a Gitasav) kuliah sekarang! So, gue sekarang menjadi Plt. Ibu Rumah Tangga. Gue dari bangun tidur musti ngerjain tugas-tugas yang biasanya rutin ibu gue lakuin. Mudah-mudahan gue bisa bertahan dengan semua ini dan utamanya gue nggak stress, karena UAS udah cukup membuat gue stress.
***
Baiklah, mari kembali ke tujuan awal gue menulis. Ceritanya sore ini gue lagi rada gabut, bukan karena nggak ada kerjaan justru gue mustinya belajar. Tapi diri gue belum sepenuhnya hendak belajar, jadinya mending gue nulis.
Berdasarkan hasil renungan gue selama beberama menit yang lalu, ternyata gue akhir-akhir ini sering berprasangka buruk. Prasangka itu enggak gue tujukan ke orang lain, tapi ke diri gue sendiri. Gue selalu memandang diri gue itu rendahan, selalu membandingkan diri gue dengan orang lain yang menurut gue lebih beruntung. Padahal who knows di belakang keberuntungan itu, bisa jadi usaha dia emang lebih keras daripada gue, ya kan?
Coba kita tarik waktu ke belakang, di saat gue SMP dan SMA (sebelum kelas 12). Hemm..gue itu orang seperti apa ya? Bisa dibilang gue itu orang yang sangat percaya diri, tapi bukan berarti sombong ya. Tapi lebih kepada pribadi yang yakin akan kemampuan diri sendiri untuk bisa meraih sesuatu yang diinginkan. Gue sejak SMP sampe SMA selalu jadi sekretaris OSIS, dan itu memang impian gue dan gue dapatkan dengan usaha. Bahkan gue juga pernah gagal pas seleksi jadi PH OSIS SMA ketika kelas sepuluh, terus gue nyoba lagi ikut seleksi.. bukan nyoba sih lebih tepatnya disuruh ikut seleksi sama temen gue. Dan pada akhirnya, dengan pengalaman yang udah gue dapetin di kelas sepuluh, gue akhirnya lolos dan berhasil dapet jabatan itu. Mungkin keliatannya gue orang yang gila jabatan kali ya? Tapi jujur, bukan jabatan itu tujuan gue melainkan tantangan di balik jabatan itu. Dari dulu gue kalo ngeliatin orang-orang yang ‘jadi sesuatu’ itu selalu ada perasaan di dalam hati, gimana ya rasanya kalo gue jadi orang yang seperti itu?  Tantangannya kayak apa sih?  Gue bisa belajar apa dengan menjadi seperti itu? Dan dengan keinginan yang kuat itu, ternyata Allah selalu memberikan jalan yang mudah bagi gue untuk mendapatkan apa yang gue mau. Kemudahan itu juga berlaku ketika gue mengincar tempat sekolah, gue selalu mendapatkan apa yang gue mau. Dan hal-hal lainnya pun seperti itu. Itulah Nabilah yang dulu.
Tapi di lain sisi gue juga ngerasa, sebenernya apa sih yang gue dapatkan dari kemudahan-kemudahan itu? Apakah kemudahan itu efeknya baik buat gue? Dan sekarang gue tahu jawabannya, kemudahan yang terus menerus itu akan menjerumus, karena akan membentuk  pribadi yang cenderung ambisius dan kurang bisa bersyukur.
Lah emang sekarang lo orangnya kayak apa, Bil?
Dengan merenungi dan meresapi lagi kehidupan ini, jiah alay! Pertama, gue mengakui ada beberapa hal dalam diri gue yang emang betul mengalami kemunduran yaitu rasa percaya diri. Mungkin gue dari dulu udah terbiasa menjadi yang terbaik, jadi kalo udah nggak di posisi itu gue jadi nggak percaya diri. Kedua, sebenernya gue ingin menuliskan kemajuan yang udah gue capai, tapi gue mikirnya terlalu lama...ataukah mungkin ngggak ada? Hahaha. Ketiga dan terpenting, gue bersyukur bahwa gue masih diberi hati yang selalu percaya akan jalan terbaik Allah bagi setiap hamba-Nya. Dan dari hati yang seperti itu, otak gue bisa berpikir setidaknya seiprit demi seiprit makna kehidupan yang gue jalani.
Oke, akhirnya kegabutan gue diisi dengan pekerjaan yang cukup bermakna. Selanjutnya gue mau melanjutkan aktivitas yang seharusnya gue lakukan. Apa tuh? Nyuci piring, nyapu, masak (lagi), dll.