Senin, 11 Desember 2017

Mencoba Menilai Positif terhadap Diri Sendiri




[LIVE REPORT] Sekarang adalah hari pertama gue menjalani UAS, tadi matkul yang diujikan itu Ilmu Sosial Dasar. Matkul yang dikenal absurd dosennya, dan rumor yang beredar turun temurun angkatan beliau itu sukanya ngasih nilai random. Tapi sebenarnya gue nggak percaya-percaya amat sih, ya kalik dosen UGM gitu modelnya begitu. Dan kalaupun itu benar adanya, gue akan protes sama akademik kampus untuk ngganti tuh dosen. Ngotot banget sih, Bil?  Ya iyalah, gue aja udah rajin berangkat kelas, ngerjain tugas sunggu-sungguh, belajar UAS juga mati-matian masak mau dikasih nilai yang nggak sebanding sama usaha gue. Wkwk..
Minggu-minggu ujian kali ini terasa cukup berat bagi gue. Selain karena gue belum belajar secara menyeluruh dari jauh-jauh hari, pun juga dikarenakan ibu gue lagi jadi utusan kantornya buat ke Jerman sempai 10 hari kedepan. Iya, Jerman negara tempat idola gue (a.k.a Gitasav) kuliah sekarang! So, gue sekarang menjadi Plt. Ibu Rumah Tangga. Gue dari bangun tidur musti ngerjain tugas-tugas yang biasanya rutin ibu gue lakuin. Mudah-mudahan gue bisa bertahan dengan semua ini dan utamanya gue nggak stress, karena UAS udah cukup membuat gue stress.
***
Baiklah, mari kembali ke tujuan awal gue menulis. Ceritanya sore ini gue lagi rada gabut, bukan karena nggak ada kerjaan justru gue mustinya belajar. Tapi diri gue belum sepenuhnya hendak belajar, jadinya mending gue nulis.
Berdasarkan hasil renungan gue selama beberama menit yang lalu, ternyata gue akhir-akhir ini sering berprasangka buruk. Prasangka itu enggak gue tujukan ke orang lain, tapi ke diri gue sendiri. Gue selalu memandang diri gue itu rendahan, selalu membandingkan diri gue dengan orang lain yang menurut gue lebih beruntung. Padahal who knows di belakang keberuntungan itu, bisa jadi usaha dia emang lebih keras daripada gue, ya kan?
Coba kita tarik waktu ke belakang, di saat gue SMP dan SMA (sebelum kelas 12). Hemm..gue itu orang seperti apa ya? Bisa dibilang gue itu orang yang sangat percaya diri, tapi bukan berarti sombong ya. Tapi lebih kepada pribadi yang yakin akan kemampuan diri sendiri untuk bisa meraih sesuatu yang diinginkan. Gue sejak SMP sampe SMA selalu jadi sekretaris OSIS, dan itu memang impian gue dan gue dapatkan dengan usaha. Bahkan gue juga pernah gagal pas seleksi jadi PH OSIS SMA ketika kelas sepuluh, terus gue nyoba lagi ikut seleksi.. bukan nyoba sih lebih tepatnya disuruh ikut seleksi sama temen gue. Dan pada akhirnya, dengan pengalaman yang udah gue dapetin di kelas sepuluh, gue akhirnya lolos dan berhasil dapet jabatan itu. Mungkin keliatannya gue orang yang gila jabatan kali ya? Tapi jujur, bukan jabatan itu tujuan gue melainkan tantangan di balik jabatan itu. Dari dulu gue kalo ngeliatin orang-orang yang ‘jadi sesuatu’ itu selalu ada perasaan di dalam hati, gimana ya rasanya kalo gue jadi orang yang seperti itu?  Tantangannya kayak apa sih?  Gue bisa belajar apa dengan menjadi seperti itu? Dan dengan keinginan yang kuat itu, ternyata Allah selalu memberikan jalan yang mudah bagi gue untuk mendapatkan apa yang gue mau. Kemudahan itu juga berlaku ketika gue mengincar tempat sekolah, gue selalu mendapatkan apa yang gue mau. Dan hal-hal lainnya pun seperti itu. Itulah Nabilah yang dulu.
Tapi di lain sisi gue juga ngerasa, sebenernya apa sih yang gue dapatkan dari kemudahan-kemudahan itu? Apakah kemudahan itu efeknya baik buat gue? Dan sekarang gue tahu jawabannya, kemudahan yang terus menerus itu akan menjerumus, karena akan membentuk  pribadi yang cenderung ambisius dan kurang bisa bersyukur.
Lah emang sekarang lo orangnya kayak apa, Bil?
Dengan merenungi dan meresapi lagi kehidupan ini, jiah alay! Pertama, gue mengakui ada beberapa hal dalam diri gue yang emang betul mengalami kemunduran yaitu rasa percaya diri. Mungkin gue dari dulu udah terbiasa menjadi yang terbaik, jadi kalo udah nggak di posisi itu gue jadi nggak percaya diri. Kedua, sebenernya gue ingin menuliskan kemajuan yang udah gue capai, tapi gue mikirnya terlalu lama...ataukah mungkin ngggak ada? Hahaha. Ketiga dan terpenting, gue bersyukur bahwa gue masih diberi hati yang selalu percaya akan jalan terbaik Allah bagi setiap hamba-Nya. Dan dari hati yang seperti itu, otak gue bisa berpikir setidaknya seiprit demi seiprit makna kehidupan yang gue jalani.
Oke, akhirnya kegabutan gue diisi dengan pekerjaan yang cukup bermakna. Selanjutnya gue mau melanjutkan aktivitas yang seharusnya gue lakukan. Apa tuh? Nyuci piring, nyapu, masak (lagi), dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar