[LIVE
REPORT] Sekarang adalah hari pertama gue menjalani UAS, tadi matkul yang
diujikan itu Ilmu Sosial Dasar. Matkul yang dikenal absurd dosennya, dan rumor
yang beredar turun temurun angkatan beliau itu sukanya ngasih nilai random. Tapi
sebenarnya gue nggak percaya-percaya amat sih, ya kalik dosen UGM gitu modelnya
begitu. Dan kalaupun itu benar adanya, gue akan protes sama akademik kampus
untuk ngganti tuh dosen. Ngotot banget
sih, Bil? Ya iyalah, gue aja udah
rajin berangkat kelas, ngerjain tugas sunggu-sungguh, belajar UAS juga
mati-matian masak mau dikasih nilai yang nggak sebanding sama usaha gue. Wkwk..
Minggu-minggu
ujian kali ini terasa cukup berat bagi gue. Selain karena gue belum belajar
secara menyeluruh dari jauh-jauh hari, pun juga dikarenakan ibu gue lagi jadi
utusan kantornya buat ke Jerman sempai 10 hari kedepan. Iya, Jerman negara
tempat idola gue (a.k.a Gitasav) kuliah sekarang! So, gue sekarang menjadi Plt.
Ibu Rumah Tangga. Gue dari bangun tidur musti ngerjain tugas-tugas yang
biasanya rutin ibu gue lakuin. Mudah-mudahan gue bisa bertahan dengan semua ini
dan utamanya gue nggak stress, karena UAS udah cukup membuat gue stress.
***
Baiklah,
mari kembali ke tujuan awal gue menulis. Ceritanya sore ini gue lagi rada
gabut, bukan karena nggak ada kerjaan justru gue mustinya belajar. Tapi diri
gue belum sepenuhnya hendak belajar, jadinya mending gue nulis.
Berdasarkan
hasil renungan gue selama beberama menit yang lalu, ternyata gue akhir-akhir
ini sering berprasangka buruk. Prasangka itu enggak gue tujukan ke orang lain,
tapi ke diri gue sendiri. Gue selalu memandang diri gue itu rendahan, selalu
membandingkan diri gue dengan orang lain yang menurut gue lebih beruntung. Padahal
who knows di belakang keberuntungan
itu, bisa jadi usaha dia emang lebih keras daripada gue, ya kan?
Coba
kita tarik waktu ke belakang, di saat gue SMP dan SMA (sebelum kelas 12). Hemm..gue itu orang seperti apa ya? Bisa
dibilang gue itu orang yang sangat percaya diri, tapi bukan berarti sombong ya.
Tapi lebih kepada pribadi yang yakin akan kemampuan diri sendiri untuk bisa
meraih sesuatu yang diinginkan. Gue sejak SMP sampe SMA selalu jadi sekretaris OSIS,
dan itu memang impian gue dan gue dapatkan dengan usaha. Bahkan gue juga pernah
gagal pas seleksi jadi PH OSIS SMA ketika kelas sepuluh, terus gue nyoba lagi
ikut seleksi.. bukan nyoba sih lebih tepatnya disuruh ikut seleksi sama temen
gue. Dan pada akhirnya, dengan pengalaman yang udah gue dapetin di kelas
sepuluh, gue akhirnya lolos dan berhasil dapet jabatan itu. Mungkin keliatannya
gue orang yang gila jabatan kali ya? Tapi jujur, bukan jabatan itu tujuan gue
melainkan tantangan di balik jabatan itu. Dari dulu gue kalo ngeliatin
orang-orang yang ‘jadi sesuatu’ itu selalu ada perasaan di dalam hati, gimana ya rasanya kalo gue jadi orang yang seperti
itu? Tantangannya kayak apa sih? Gue bisa belajar apa dengan menjadi seperti
itu? Dan dengan keinginan yang kuat itu, ternyata Allah selalu memberikan
jalan yang mudah bagi gue untuk mendapatkan apa yang gue mau. Kemudahan itu
juga berlaku ketika gue mengincar tempat sekolah, gue selalu mendapatkan apa
yang gue mau. Dan hal-hal lainnya pun seperti itu. Itulah Nabilah yang dulu.
Tapi
di lain sisi gue juga ngerasa, sebenernya apa sih yang gue dapatkan dari
kemudahan-kemudahan itu? Apakah kemudahan itu efeknya baik buat gue? Dan sekarang
gue tahu jawabannya, kemudahan yang terus menerus itu akan menjerumus, karena
akan membentuk pribadi yang cenderung
ambisius dan kurang bisa bersyukur.
Lah
emang sekarang lo orangnya kayak apa, Bil?
Dengan
merenungi dan meresapi lagi kehidupan ini, jiah
alay! Pertama, gue mengakui ada beberapa hal dalam diri gue yang emang
betul mengalami kemunduran yaitu rasa percaya diri. Mungkin gue dari dulu udah
terbiasa menjadi yang terbaik, jadi kalo udah nggak di posisi itu gue jadi
nggak percaya diri. Kedua, sebenernya gue ingin menuliskan kemajuan yang udah
gue capai, tapi gue mikirnya terlalu lama...ataukah mungkin ngggak ada? Hahaha.
Ketiga dan terpenting, gue bersyukur bahwa gue masih diberi hati yang selalu percaya
akan jalan terbaik Allah bagi setiap hamba-Nya. Dan dari hati yang seperti itu,
otak gue bisa berpikir setidaknya seiprit demi seiprit makna kehidupan yang gue
jalani.
Oke,
akhirnya kegabutan gue diisi dengan pekerjaan yang cukup bermakna. Selanjutnya gue
mau melanjutkan aktivitas yang seharusnya gue lakukan. Apa tuh? Nyuci piring, nyapu, masak (lagi), dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar