Rabu, 23 Januari 2019

Hal Random



Hari ini gue bingung mau ngapain. Meskipun sebenernya ada sih yang harus dikerjain. Semestinya gue melanjutkan nyusun paper lomba. Iya paper lomba, akhirnya setelah sekian lama kuliah ada juga keinginan ikutan lomba. Walaupun ikutannya juga karena diajakin temen. Heran juga kenapa Fina ngajak gue yang notabene bukan anak lomba banget. Tapi nggak ada salahnya sih buat nerima ajakannya, toh gue emang ada kepengenan buat ikut lomba.

Namun masalahnya adalah gue males ngelanjutin nyusun papernya. Padahal juga tinggal nyari-nyari data, kerangkanya udah disusun. Apakah lo ikut lomba ini sebenernya karena terpaksa? Ntahlah, gue nggak ngerti sebenernya gue pengennya apaan. Katanya lo pengen ikutan lomba? Iya, gue kepengen. Lantas kenapa lo malah nggak berusaha? Nggak tahu, lagi nggak ada semangat ngerjain. Motivasi lo ikutan lomba apaan sih? Karena gue merasa cukup selo, ingin mencoba hal baru, ingin mengunjungi tempat-tempat baru, dan mumpung masih jadi mahasiswa banyak kesempatan yang bisa diambil untuk mengembangkan diri. Woy sadar, tujuan lo ikut lomba apaan? Yang jelas gue nggak berharap untuk menang, nggak kepikiran punya tujuan apapun. Agaknya gue ini adalah sejenis manusia yang tidak punya tekad kuat. Semoga kekurangan ini bisa gue perbaiki sesegera mungkin.

Ngomong-ngomong gue habis kelar jadi panitia Simultan nih. Cukup lega setelah menuntaskan satu amanah. Apa yang bisa lo pelajari dari event Simultan? Pertama, tentang koordinasi yang santai tapi berjalan. Gue kan masuk divisi Publikasi Ticketing yak, nah koordnya cowok. Dia ini punya pribadi yang unik sih, orangnya apa adanya bahkan nggak berusaha menutupi kekurangannya samsek. Artinya dia bukan orang yang mudah dikendalikan oleh status atau jabatan. Sebagai koord dia santai banget padahal nggak pernah ikut njaga ticket box dan selalu dateng terlambat. Tapi entah gimana, gue dan temen-temen Publitik lainnya tetep respek ke dia dan kami tetep komit buat menjalankan tugas masing-masing. Apa karena faktor selo juga kali yak, jadi daripada nganggur di rumah mending ngelakoni tugas Publitik. Kedua, gue jadi tahu kalo anak teknik adalah mahasiswa sabar dan suka tantangan. Pas hari H Simultan tugas gue adalah jadi pembantu  fasilitator. Gue ngebantu Maelani, dia anak teknik geodesi. Kami ngobrol banyak hal selama nunggu peserta ngerjain soal. Kalimat yang terngiang di ingatan gue adalah ketika Mae bilang, “Aku suka e jadi fasilitator, ngerasa diri tertantang gitu buat public speaking”. Dalam hati gue bilang, “Dia yang anak teknik aja ada keinginan belajar mbacot, gue juga pengen tapi nggak disertai aksi nyata buat belajar”. Tandanya, gue adalah orang yang tidak mempunyai tekad kuat. Ketiga, gue belajar evaluasi yang cukup efektif. Setelah acara Simultan berakhir panita pada evaluasi yang dipimpin sama Ketua dan Wakil. Alurnya, pertama mengapresiasi kinerja seluruh panitia dan kinerja per divisi. Lalu menyampaikan kekurangan secara garis besar dan per divisi. Selanjutnya, koord per divisi menyampaikan apresiasi, kritik, dan masukkan. Terakhir masukkan kedepan dan follow-up hal lainnya.

Setelah gue renungkan, gue sebenernya nggak mendapat banyak manfaat dari jadi panitia event. Karena gue udah sering jadi panitia alhasil gue udah apal pola-pola kerja kepanitiaan. Atas dasar itu, gue memutuskan untuk mencukupkan gabung kepanitiaan. Gue ingin berkembang, jadi buat apa gue melakukan hal yang polanya sama terus-menerus.

Beralih ke topik lain. Gue kepengen jadi anak rantau. Entah kelak gue kuliah atau kerja di luar kota atau bahkah luar negeri. Kepengen ngerasain ngurus hidup ini sendiri.

Selasa, 08 Januari 2019

Pulang Dulu




Ada suatu masa dimana seseorang merasa kehilangan arah, entah arah untuk pulang atau arah untuk pergi. Pada kondisi seperti itu sebaiknya menetapkan keputusan untuk pulang terlebih dahulu dibanding melanjutkan untuk pergi. Setidaknya jalan pulang lebih mudah dicari dan diingat. Mungkin kehilangan arah tersebut adalah pertanda bahwa seseorang memang belum siap untuk pergi.

Saat ini gue lagi liburan, lebih tepatnya sedang mengalami masa liburan semester ganjil. Kali ini waktu liburan cukup panjang yaitu lebih dari sebulan terhitung dari 21 Desember 2018 sampai 10 Februari 2019. Gue punya banyak banget waktu senggang karena selama liburan nggak ada tanggungan apapun yang mendesak. Enggak kayak beberapa temen gue, mereka ada yang magang di Pemda, kerja part-time, ke kampung inggris Pare, dll. Sementara gue, sebagian besar waktu hanya di rumah. Meskipun di rumah juga sebenernya kalo mau bisa sih enggak selo, gue bisa beres-beres dan ngerapiin rumah atau baca-baca buku. Tapi kadang ngerasa bosen juga kalo di rumah mulu. Jadi gue udah merencanakan mau pergi ke beberapa tempat, semoga aja bisa terealisasi.

Kembali ke topik yakni tentang pulang dan pergi. Jujur aja ya gue sejak setahun belakangan sedang dilanda kebingungan. Bingung menentukan tujuan hidup, asli. Padahal tujuan hidup itu bagi sebagian besar orang adalah dasar dari setiap usaha yang dijalani dan sebagai motivasi ketika dilanda keterpurukan. Apakah setiap orang harus tahu tujuan hidupnya? Entahlah, tapi menurut gue orang yang punya tujuan hidup itu lebih bersemangat dan bergairah dalam menjalani hidup dan tentunya enggak ngehabisin waktu hanya untuk merasa kebingungan.

Hidup adalah suatu perjalanan, di dalamnya ada waktu untuk pergi, singgah, dan pulang. Untuk pergi orang memerlukan tujuan, kalo nggak ada tujuan lebih baik pulang dulu. Pulang adalah waktu untuk bertemu orang yang berarti, istirahat, menetapkan tujuan, dan mempersiapkan kepergian.

Lantas kemana kita harus pulang?

Bagi gue pulang yang terbaik adalah kepada Sang Pencipta. Dalam kondisi tidak tahu arah gue butuh petunjuk. Apakah petunjuk akan datang dengan sendirinya? Tidak, melainkan harus dicari. Dalam beberapa firman-Nya mengatakan bahwa “Allah tidak akan memeberikan petunjuk bagi orang-orang yang zalim”. Siapa orang yang zalim? Yaitu orang-orang yang tidak melakukan tindakan atas apa yang dia ketahui. Salah satu yang paling gue sadari adalah terkait dengan syariat, dimana gue tahu bahwa sebagai perempuan muslim diwajibkan untuk menutup aurat dan mengenakan jilbab hingga menutup dada. Tapi apa yang gue lakukan selama ini? Gue tahu syariat itu sejak lama, tapi gue nggak menjalankan. Artinya dalam hal menutup aurat gue udah jadi orang yang zalim. Bukan maksud berprasangka negatif sama Allah, tapi lebih pada rasa sadar diri. Mungkin petunjuk tentang arah hidup gue nggak kunjung gue dapat karena gue selama ini masih menjadi orang yang zalim. Astaghfirullah..

Atas dasar renungan itulah gue memutuskan untuk memperbaiki gaya berjilbab. Sebagai satu upaya dari gue untuk selangkah lebih dekat dengan-Nya. Sebagai upaya gue untuk mendapat petunjuk-Nya. Sebagai upaya gue untuk tahu tujuan hidup. Sebagai upaya gue untuk kelak bisa memberikan barokah bagi sekitar.

Jumat, 04 Januari 2019

Ke Klaten Hari 1



Lo pengen tahu apa yang gue rasakan sekarang? LEGA DAN BAHAGIA....

Alhamdulillah, gue udah melewati masa-masa semester 3. Semester kemarin adalah yang paling berkesan daripada dua semester sebelumnya. Ada gembira, bucin, kesal, pusing, marah, bahagia, tangis, tawa, dan beraneka rasa lainnya. Dan yang terpenting adalah gue belajar banyak terutama tentang kehidupan yang emang nyata banyak masalah dalam setiap aspeknya.

Emangnya semester 3 ini gue udah ngapain aja sih?
Pertama, gue jadi koordinator divisi publikasi Public Action 2018. Sebenernya nggak nyangka dikasih amanat itu, tapi gue udah berusaha meskipun jujur gue merasa kurang puas, ehehe. Kedua, gue disuruh jadi sekretaris makrab yang bagi gue senang di awal dan sedih di akhir, hemm. Ketiga, gue ngapain yaaa, ah tau deh gue lupa. Dan ada beberapa momen di semester 3 yang emang sengaja untuk gue lupakan tapi akan selalu gue kenang pelajarannya.

Meskipun semester 3 ini gue merasa berat banget, tapi pada akhirnya Allah ngasih kesempatan gue untuk bahagia. Yuhuuu gue dan beberapa temen-temen gue liburan dong...

Kemarin Jumat 21 Desember adalah hari terakhir UAS yang cuman ngumpul paper doang. Tapi perjuangan buat paper itu nggak main-main karena dosen matkul yang satu ini istimewa. Bapak Subando Agus Margono, beliaulah dosen istimewa pengampu matkul Public Governance. Suatu mata kuliah yang dari awal nyampe akhir gue nggak ngerti apa-apa. Semoga aja paper yang gue kerjain dengan mekanisme Bantul Bandowoso itu bisa diterima oleh Bapak Dosen. Hari Jumat tanggal 21 kemarin gue capek banget, bayangin aja dari Kamis siang gue ngerjain paper dan cuman tidur 1 jam doang dari jam 12 malem nyampe jam 1 pagi. Kala itu gue udah lupa makan, minum, dan hanya di kamar nge-paper sampe mabok. Paper gue selesai jam 9.01 WIB, padahal deadline jam setengah 11. Posisi gue belum ngapa-ngapapin, dan setelah itu langsung mandi bebek, nggak dandan cuman pake pelembab, baju alakadar karena nggak sempat nyetrika, nggak sempat sarapan juga, mampir ngeprint terus ngebut ke kampus. Syukurlah masih ada waktu buat ngumpulin, gue kira bakal jadi yang terakhir ternyata masih ada yang belum ngumpulin. Setelah itu gue sama temen-temen ngambil sarapan gratis dari Fisipol yaitu nasi bungkus sama susu.

Sebenernya gue udah tahu kalo nanti sore bakal ke Klaten, jadi rencana awalnya gue emang mau pulang dulu. Tapi...berhubung gue capek banget dan waktu janjian kumpulnya tinggal 1,5 jam jadinya gue memutuskan nggak pulang. Pikir gue, okelah terima aja konsekuensinya. Lalu gue ke kosnya Alifah, selang beberapa lama Almira sama Farrah dateng dang ternyata habis beli kado dong buat gue. Ya ampuun mereka ini, bikin gue seneng aja deh.

Sewajarnya orang Indonesia bahwa ngaret adalah suatu keniscayaan. Janjian awal jam 1 maka ngumpulnya jam setengah 4. Main kali ini kita ber-11, gue, Farrah, Alifah, Andin, Novi, Fadhillah, Almira, Fian, Hermawan, Febrian, dan Satriya. Kita berbondong-bondong naik motor ke Klaten. Gue boncengan sama Alifah pake motor dia, karena motor gue belum di-service.

Sebelum ke Klaten kita mampir dulu ke Candi Plaosan, karena si tuan rumah alias Almira berangkatnya nggak bareng kita. Lebih lambat soalnya bareng kakaknya. Di Candi Plaosan kita cuman foto-foto doang sih. Foto-foto gue di candi jelek banget, rupa gue udah kayak arca. Gimana enggak, lah orang pake baju warnanya coklat abis gitu nggak riasan apa-apa orang tadi keburu ngumpul paper. Candi Plaosan tutup jam lima, ada satpam yang tugasnya ngusirin wisatawan kalo udah jam tutup. Termasuk gue dkk yang ikut diusir juga.

Setelah ke candi gue dkk laper, mampirlah kita ke Warung Kopi Prambanan. Tempatnya bagus, bangunannya khas jawa banget lengkap dengan interior dan disediain baju adat jawa juga. Meskipun namanya warung kopi tapi di sini juga nyediain menu makanan khas jawa. Pas lihat buku menu menurut gue harganya nggak mahal, abis itu gue pesen minum terus ngampil makanan dong. Di sini modelnya prasmanan gitu, jadi ngambil lalu ditunjukkin ke kasir. Nah, pas nyampe kasir nih gue ketipu. Coy, ternyata harga ‘aneka sayur’ 12K, gue udah ngambil satu jenis sayur. Si embak kasir nyuruh gue ngambil lagi dua jenis sayur, maksa banget nggak sih. Dikira sini kambing makan sayur banyak-banyak. Alhasil gue habis 33K makan di sini.

Selepas maghrib gue dkk melanjutkan perjalanan menuju Klaten. Sebenernya gue udah ngerasa nggak kuat buat ngendarain motor, ngantuk dan badan pegel-pegel rasanya pengen rebahan di kasur. Tapi gue nggak berani kalo suruh diboncengin Alifah. Perjalanan ternyata masih cukup panjang, gue berkali-kali ngangkat pantat gegara udah pedes. Kurang lebih 45 menit kita nyampe di rumah Almira.

Rumah keluarga Almira bisa dibilang bangunan tua, pekarangannya luas. Barusan nyampe gue dkk disambut dengan hangat sama keluarganya, mereka ramah kayak Almira. Setelah itu dianter ke kamar penginapan yaitu kamarnya Almira dan kakak adeknya di bangunan rumah sebelah barat. Cewek tidur di kamar Almira dan para cowok di kamar kakaknya Almira, kamarnya sebelahan. Meskipun badan ini rasanya udah capek banget temen-temen gue masih pengen main uno, jadilah kita main uno nyampe larut malem. Tapi seru banget asli.

Kayaknya tulisan ini udah cukup panjang, Klaten hari kedua gue lanjut kapan-kapan aja yak.