Jumat, 18 Agustus 2017

Nabilah Berubahlah!



Akhir-akhir ini ada banyak hal tentang diriku sendiri yang sedang aku renungi. Terutama kehidupanku yang udah berjalan selama lebih dari tujuh belas tahun ini. Apa yang sudah aku dapatkan selama ini dan apa yang sudah aku beri selama ini? Kemana arah hidupku? Apa maksud Tuhan menempatkanku di lingkungan yang (menurutku) sebaik ini?
Renungan-renungan itu muncul setelah aku lulus dari SMA, selama aku menunggu masuk kuliah. Bahkan sampai saat ini pun aku masih menunggu waktu masuk kuliah yaitu besok Senin, padahal fakultas lain udah masuk sejak Senin kemarin. Fakultasku emang selalu beda sendiri deh perasaan, bahkan dalam hal KRS yang tak perlu disetujui dosen. Aku merasa Tuhan udah baik banget, aku yang bodoh ini bisa masuk ke universitas terbaik se-Indonesia yaitu Universitas Gadjah Mada melalui jalur istimewa tanpa tes (SNMPTN) dan masuknya juga Alhamdulillah ke jurusan yang emang aku inginkan. Ya, universitas terbaik menurut Menristekdikti tahun ini. Perasaanku mungkin beda dengan mahasiswa lainnya yang gembira dan bangga tahu informasi tersebut, karena aku malah merasa takut dan khawatir besok kalo udah mulai kuliah ngga mampu untuk megikutinya dan bakal jadi mahasiswa yang bego sendiri di kelas. Amit-amit deh ya.
Semakin tinggi pendidikan yang aku tempuh, tapi malah aku merasa semakin turun kemampuan yang aku punya. Aku merasa kemampuan yang aku miliki ngga ada apa-apanya dibandingkan teman-teman di sekitarku saat ini yang punya pemikiran kritis dan cerdas. Kayaknya susah banget gitu buat aku untuk berpikiran seperti itu, selayaknya seorang mahasiswa. Kalo dianalogikan nih, perbedaan aku dan temanku dalam melihat kodok malem-malem pas lagi naik motor. Aku melihat kodok ya biasa aja gitu, ngga ada hal yang perlu untuk dipertanyakan atau dipermasalahkan. Namun beda sama temanku, mungkin kalo dia lihat kodok dia bakal mikir kok bisa ya banyak kodok di malem hari, kenapa kodok itu malah seakan mendekati motor emang dia mau cepet-cepet mati ditabrak motor kali ya, dan pertanyaan beruntun lainnya.
Kebodohanku semakin terbukti ketika mengikuti PPSMB yaitu semacam ospek gitu sih, tapi tanpa kekerasan dan kegiatannya lumayan menyenangkan bagi orang yang senang. PPSMB ini kegiatannya macem-macem sih kayak diskusi, debat, FGD, bahkan demo coy! Melalui kegiatan-kegiatan itu ketajaman cara berpikir mahasiswa baru semakin terasah dan dibuktikan dengan penyampaian pendapat yang kebanyakan secara lisan. Bagi aku jangankan diasah, lah mikir aja ngga bisa. PPSMB ini ada 3 jenis, yaitu universitas, fakultas/jurusan, dan soft skill. Ada banyak teman yang aku temui selama kegiatan tersebut, dan hampir semuanya adalah orang yang pinter meskipun kelihatannya biasa aja. Seketika itu aku baru sadar kalo ternyata aku masuk ke universitas terbaik se-Indonesia bro!
Oke kan sekarang aku udah sadar nih kalo bego padahal lingkunganku menuntut aku untuk jadi orang pintar, kalo engga pintar ngga usah berani-berani deh kuliah di sini gitu ibaratnya. Jadi, mau ngga mau aku harus belajar dan bertekad jadi orang yang pintar nan cerdas. Namun aku harus ada yang nolong untuk mewujudkan itu, please bantu aku eh aku pengen nangis. Mulai saat ini di setiap do’aku harus ada permintaan untuk bisa menikmati proses dan bisa lulus ngga di DO dari kampus ini. Semoga hal-hal buruk yang aku pikirkan kedepan ngga terjadi ya Tuhaan, Aamiin.
Aku pernah baca tapi lupa di mana, katanya “Rugi masuk UGM kalo hanya jadi mahasiswa biasa”. Itulah kalimat pendek yang berefek bagiku sangat dalam tapi masih bingung sama maksudnya dan cara mewujudkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar