Kamis, 15 Juni 2017

Lampu dalam Abu-abu



Pagi ini setelah sholat subuh, seperti biasa aku mencuci piring dan menyapu rumah. Setelah itu aku mengaktifkan data seluler pada ponselku, karena memang biasanya sebelum tidur aku matikan. Aku tunggu hingga semua notifikasi masuk, kurang lebih dua menit. Kemudian aku melihat sosial mediaku. WhatsApp, Line, dan Instagram. WhatsApp ngga terlalu rame sih, paling hanya grup Kelas SMP yang isinya nge-share foto semalem pas buka bersama. Line rada parah sih, grup isinya kebanyakan hal yang ngga bermutu. Apalagi grup Gamada Fisipol 2017, isinya orang-orang yang hanya sok kenal di medsos, lihat aja besok pas ketemu, justru yang tadinya tampak akrab di grup ternyata malah pada cuek. Yah gapapalah, biarlah para anak SBM menikmati euforia mereka dengan seperti itu kayak aku dan teman-teman SNM dulu, kelak mereka akan tahu sendiri. Terakhir aku melihat Instargam, kutilik berandaku. Ada satu posyang membuatku tertarik, pos itu diunggah oleh Afnani Rosyida teman SMA-ku. Sebuah video, tapi bukan gambar yang ditonjolkan melainkan suara. Sebuah nyanyian sholawat nabi yang sangat indah, aku tahu Osyik (nama panggilan) memang berbakat nyanyi ngga kayak aku yang suaranya sebelas-duabelas sama kodok ngorek. Caption dari positu adalah arti dari sholawat nabi itu sendiri.
Pos itu aku dengarkan berulang-ulang karena membuat hati damai. Sedikit -sedikit aku ikuti nyanyian itu. Pos itu juga membuatku tersadar akan sesuatu, sesuatu yang lantas membuatku berpikir. Satu hal yang aku sadari adalah temanku ini telah memulai berdakwah dengan sosmed miliknya. Kemudian aku berpikir, ‘Selama ini apa yang telah kuperbuat dengan sosmedku? Sesuatu yang bergunakah atau justru sebaliknya?’
Sosial media memang bukan hal asing lagi bagi manusia modern saat ini, bahkan itu bisa diibaratkan sebagai dunia kedua. Hampir semua hal yang kita lakukan di dunia nyata, sekarang bisa kita lakukan lewat dunia kedua ini. Mulai dari ngobrol, cari rezeki, cari jodoh, cari ojek, cari makan, cari barang, ngartis, bahkan ajang pamer sekalipun bisa. Namun pertanyaannya adalah ‘Apa semua itu mengarah ke kebaikan?’ Kalaupun jawabannya adalah ada yang iya dan ada yang tidak, pertanyaan selanjutnya adalah ‘Diantara kedua itu, banyak yang mana?’
Pertanyaan yang terakhir muncul pagi ini di otakku dan juga aku tujukan untuk diriku sendiri. Lalu kenangan-kenangan di sosmed membuatku malu. Hampir semua yang aku unggah di sosmed ternyata hanya hal-hal yang kurang ada essensinya dan mengarah ke pamer saja. Apalagi di Instagram, astaghfirullah.. Foto-foto yang aku unggah berisi pamer saja, ngga ada yang berbau dakwah apalagi bermanfaat bagi orang lain. Foto-foto atau video itu hanya ingin berkata, ‘Ini lho gue, kalian harus tahu gue’. Ya, dari dulu tiap mengunggah foto/video pasti niatnya hanya itu.
Semoga apa yang aku sadari pagi ini akan terus terkenang setiap mau berbuat apapun di sosmed. Aku juga pengen kayak temenku yang bisa berdakwah dengan bakatnya. Sosmed itu ibarat jalan raya yang sangat padat, tiap pengendaranya punya tujuan sendiri-sendiri bahkan cenderung terburu-buru. Jadi sang pengendara butuh rem untuk mengendalikan gerak kendaraannya. Bayangin aja berkendara kalo tanpa rem, pasti akan saling menabrak bahkan membuat kecelakaan yang fatal. Sama halnya di sosmed, rem itu adalah iman dan takwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar