Pagi ini
setelah sholat subuh, seperti biasa aku mencuci piring dan menyapu rumah. Setelah
itu aku mengaktifkan data seluler pada ponselku, karena memang biasanya sebelum
tidur aku matikan. Aku tunggu hingga semua notifikasi masuk, kurang lebih dua
menit. Kemudian aku melihat sosial mediaku. WhatsApp, Line, dan Instagram. WhatsApp
ngga terlalu rame sih, paling hanya grup Kelas SMP yang isinya nge-share foto
semalem pas buka bersama. Line rada parah sih, grup isinya kebanyakan hal yang
ngga bermutu. Apalagi grup Gamada Fisipol 2017, isinya orang-orang yang hanya
sok kenal di medsos, lihat aja besok pas ketemu, justru yang tadinya tampak
akrab di grup ternyata malah pada cuek. Yah gapapalah, biarlah para anak SBM
menikmati euforia mereka dengan seperti itu kayak aku dan teman-teman SNM dulu,
kelak mereka akan tahu sendiri. Terakhir aku melihat Instargam, kutilik
berandaku. Ada satu posyang membuatku tertarik, pos itu diunggah oleh Afnani
Rosyida teman SMA-ku. Sebuah video, tapi bukan gambar yang ditonjolkan
melainkan suara. Sebuah nyanyian sholawat nabi yang sangat indah, aku tahu
Osyik (nama panggilan) memang berbakat nyanyi ngga kayak aku yang suaranya
sebelas-duabelas sama kodok ngorek. Caption dari positu adalah arti dari
sholawat nabi itu sendiri.
Pos itu aku
dengarkan berulang-ulang karena membuat hati damai. Sedikit -sedikit aku ikuti
nyanyian itu. Pos itu juga membuatku tersadar akan sesuatu, sesuatu yang lantas
membuatku berpikir. Satu hal yang aku sadari adalah temanku ini telah memulai
berdakwah dengan sosmed miliknya. Kemudian aku berpikir, ‘Selama ini apa yang
telah kuperbuat dengan sosmedku? Sesuatu yang bergunakah atau justru
sebaliknya?’
Sosial media
memang bukan hal asing lagi bagi manusia modern saat ini, bahkan itu bisa diibaratkan
sebagai dunia kedua. Hampir semua hal yang kita lakukan di dunia nyata,
sekarang bisa kita lakukan lewat dunia kedua ini. Mulai dari ngobrol, cari
rezeki, cari jodoh, cari ojek, cari makan, cari barang, ngartis, bahkan ajang
pamer sekalipun bisa. Namun pertanyaannya adalah ‘Apa semua itu mengarah ke
kebaikan?’ Kalaupun jawabannya adalah ada yang iya dan ada yang tidak, pertanyaan
selanjutnya adalah ‘Diantara kedua itu, banyak yang mana?’
Pertanyaan yang
terakhir muncul pagi ini di otakku dan juga aku tujukan untuk diriku sendiri. Lalu
kenangan-kenangan di sosmed membuatku malu. Hampir semua yang aku unggah di
sosmed ternyata hanya hal-hal yang kurang ada essensinya dan mengarah ke pamer
saja. Apalagi di Instagram, astaghfirullah..
Foto-foto yang aku unggah berisi pamer saja, ngga ada yang berbau dakwah
apalagi bermanfaat bagi orang lain. Foto-foto atau video itu hanya ingin
berkata, ‘Ini lho gue, kalian harus tahu gue’. Ya, dari dulu tiap mengunggah
foto/video pasti niatnya hanya itu.
Semoga apa
yang aku sadari pagi ini akan terus terkenang setiap mau berbuat apapun di
sosmed. Aku juga pengen kayak temenku yang bisa berdakwah dengan bakatnya. Sosmed
itu ibarat jalan raya yang sangat padat, tiap pengendaranya punya tujuan
sendiri-sendiri bahkan cenderung terburu-buru. Jadi sang pengendara butuh rem
untuk mengendalikan gerak kendaraannya. Bayangin aja berkendara kalo tanpa rem,
pasti akan saling menabrak bahkan membuat kecelakaan yang fatal. Sama halnya di
sosmed, rem itu adalah iman dan takwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar