Minggu, 08 Agustus 2021

Awal Kolaborasi untuk Masyarakat

Daripada terus mengisahkan tentang skripsi yang entah kapan akan selesai, lebih baik aku membagikan kisah lain kehidupanku. Hidupku tentunya bukan hanya tentang kuliah dan skripsi aja, hehe. Walaupun harus aku sadari bahwa menyelesaikan skripsi saat ini menjadi hal yang utama.

Dulu aku pernah berangan-angan ketika udah memasuki semester tua aku ingin mengabdikan diri ke masyarakat setempat tinggal denganku, which is masyarakat di Dusun Bojong, Wonolelo. Keinginan itu muncul ketika awal tahun 2020 saat aku memasuki semester 5, yang selanjutnya pandemi melanda sehingga beberapa angan-angan itu kian luntur seiring waktu. Ditambah lagi sekarang aku mulai kerja freelance sebagai asisten peneliti di PSKK UGM. Pekerjaan itu awalnya aku pikir cukup santai dan tidak terlalu menyita waktu. Ya memang sih begitu, tapi ada kalanya pekerjaan itu juga terasa cukup menuntut dan butuh fokus. Bahkan sampai membuatku terpaksa menyurutkan fokus dalam menyelesaikan skripsi dalam beberapa bulan lalu. Dampaknya ialah, saat ini aku mesti bayar UKT lagi untuk melanjutkan semester 9. Masih berkutat dengan skripsi ketika separuh teman angkatan yang lain sudah lulus dan sedang nyari kerja.

Waktu terus berjalan hingga pada suatu saat aku dapat kesempatan berkenalan dengan seseorang di suatu komunitas. Kami berkenalan secara online dan ngobrol banyak hal, termasuk tentang latar belakang dan kegiatan yang sedang diikuti saat itu. Dia pun mengetahui bahwa aku adalah orang desa dan juga masih cukup aktif berkegiatan di kepemudaan desa. Tidak disangka beberapa bulan kemudian dia dan teman-teman komunitasnya (komunitas lain yang dia ikuti) bermaksud mencari desa untuk dijadikan desa mitra. Dia menanyakan beberapa hal tentang desaku, kemudian aku jawab seadanya, tanpa aku beri pencitraan apapun. Seingatku dulu seperti itu. Pada saat itu mereka masih melakukan survei lapangan ke berbagai calon desa mitra, termasuk desaku. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pengabdian dan menjadikan Desa Wonolelo khususnya Dusun Bojong sebagai dusun mitra pelaksanaan program mereka. Mereka tidak mengambil satu desa karena terlalu luas. Pagi hari tadi mereka melakukan peresmian kemitraan, menghadirkan Pak Lurah, Pak Kasi Kemakmuran Desa, Pak Dukuh, dan sejumlah perwakilan petani serta pelaku UMKM. Resmi sudah kemitraan IAAS LC UGM dengan Dusun Bojong.

Aku merasa cukup bahagia pada momen ini. Mengingat dulu Pak Dukuh seingatku pernah minta tolong aku untuk menghubungkan dengan mahasiswa Pertanian UGM. Dulu Pak Dukuh ingin agar masyarakat dikasih pengetahuan dan wawasan tentang pertanian. Tapi dulu aku tidak berhasil menjadi penghubung, padahal sudah minta tolong temanku anak pertanian beberapa kali. Selain itu momen ini juga menjadi langkah awal atas angan-anganku untuk memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat di lingkungan tempat tinggalku. Aku pikir peristiwa ini bisa terjadi karena sejatinya memang Allah benar-benar mendengar doa hamba-Nya. Allah akan mewujudkan niat baik hamba-Nya. Ketika niat itu selalu tertanam di dalam hati walaupun kadangkala ada saja hal yang menghambat terlaksananya niat, atas izin Allah niat itu akan menjadi kenyataan. Barangkali Allah juga tahu bahwa untuk memberikan kontribusi nyata ke masyarakat Bojong aku tidak bisa memulainya sendiri, maka Allah wujudkan angan-angan itu melalui orang lain untuk memulainya.

Namun di sisi lain aku juga merasa cemas untuk kedepannya. Peresmian kemitraan itu baru merupakan langkah awal untuk memberikan manfaat dan dampak bagi masyarakat. Selanjutnya, untuk menjadikan program kemitraan dengan IAAS LC UGM bisa benar-benar memberikan manfaat ke masyarakat maka ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Hal-hal itu menjadi PR lama yang masih aku pikirkan hingga sekarang dan belum ada tindakan nyata untuk mengatasinya. PR itu sebagai bentuk rancangan untuk mengatasi masalah internal organisasi kepemudaan. PR itu diantaranya tentang re-generasi pemuda, bagaimana menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan bersama pada pemuda, dan menyatukan wadah pemuda yang saat ini masih terkotak-kotakkan. Lalu PR untuk mensosialisasikan program kemitraan IAAS ke berbagai kalangan masyarakat. Kemudian PR untuk segera mengaktifkan kegiatan pemuda dan merancang program baru yang berkelanjutan. Selain itu juga PR untuk mengatasi perintilan masalah koordinasi, yang nyatanya memang tidak semudah itu, semuanya harus jelas dan berurutan. Oh iya hal yang jangan sampai kelewat ialah tentang menumbuhkan kesadaran pemuda akan pentingnya berkolaborasi karena sekarang bukan lagi zamannya persaingan untuk menang tetapi kolaborasi untuk mencapai tujuan. Namun berkolaborasi pun kita enggak boleh tanpa bekal, tetapi kita juga harus bisa membuat percaya orang yang berkolaborasi dengan kita. Dengan cara menunjukkan kesungguhan kita dan komitemen kita untuk mencapai tujuan bersama.  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar