Daripada terus mengisahkan tentang skripsi yang entah kapan akan selesai, lebih baik aku membagikan kisah lain kehidupanku. Hidupku tentunya bukan hanya tentang kuliah dan skripsi aja, hehe. Walaupun harus aku sadari bahwa menyelesaikan skripsi saat ini menjadi hal yang utama.
Dulu aku pernah berangan-angan ketika udah memasuki
semester tua aku ingin mengabdikan diri ke masyarakat setempat tinggal
denganku, which is masyarakat di Dusun Bojong, Wonolelo. Keinginan itu muncul
ketika awal tahun 2020 saat aku memasuki semester 5, yang selanjutnya pandemi melanda
sehingga beberapa angan-angan itu kian luntur seiring waktu. Ditambah lagi
sekarang aku mulai kerja freelance sebagai asisten peneliti di PSKK UGM.
Pekerjaan itu awalnya aku pikir cukup santai dan tidak terlalu menyita waktu.
Ya memang sih begitu, tapi ada kalanya pekerjaan itu juga terasa cukup menuntut
dan butuh fokus. Bahkan sampai membuatku terpaksa menyurutkan fokus dalam menyelesaikan
skripsi dalam beberapa bulan lalu. Dampaknya ialah, saat ini aku mesti bayar UKT
lagi untuk melanjutkan semester 9. Masih berkutat dengan skripsi ketika separuh
teman angkatan yang lain sudah lulus dan sedang nyari kerja.
Waktu terus berjalan hingga pada suatu saat aku dapat
kesempatan berkenalan dengan seseorang di suatu komunitas. Kami berkenalan
secara online dan ngobrol banyak hal, termasuk tentang latar belakang dan
kegiatan yang sedang diikuti saat itu. Dia pun mengetahui bahwa aku adalah
orang desa dan juga masih cukup aktif berkegiatan di kepemudaan desa. Tidak disangka
beberapa bulan kemudian dia dan teman-teman komunitasnya (komunitas lain yang dia
ikuti) bermaksud mencari desa untuk dijadikan desa mitra. Dia menanyakan
beberapa hal tentang desaku, kemudian aku jawab seadanya, tanpa aku beri
pencitraan apapun. Seingatku dulu seperti itu. Pada saat itu mereka masih melakukan
survei lapangan ke berbagai calon desa mitra, termasuk desaku. Hingga pada akhirnya
mereka memutuskan untuk melakukan pengabdian dan menjadikan Desa Wonolelo
khususnya Dusun Bojong sebagai dusun mitra pelaksanaan program mereka. Mereka
tidak mengambil satu desa karena terlalu luas. Pagi hari tadi mereka melakukan
peresmian kemitraan, menghadirkan Pak Lurah, Pak Kasi Kemakmuran Desa, Pak
Dukuh, dan sejumlah perwakilan petani serta pelaku UMKM. Resmi sudah kemitraan
IAAS LC UGM dengan Dusun Bojong.
Aku merasa cukup bahagia pada momen ini. Mengingat
dulu Pak Dukuh seingatku pernah minta tolong aku untuk menghubungkan dengan
mahasiswa Pertanian UGM. Dulu Pak Dukuh ingin agar masyarakat dikasih
pengetahuan dan wawasan tentang pertanian. Tapi dulu aku tidak berhasil menjadi
penghubung, padahal sudah minta tolong temanku anak pertanian beberapa kali. Selain
itu momen ini juga menjadi langkah awal atas angan-anganku untuk memberikan
kontribusi nyata untuk masyarakat di lingkungan tempat tinggalku. Aku pikir peristiwa
ini bisa terjadi karena sejatinya memang Allah benar-benar mendengar doa hamba-Nya.
Allah akan mewujudkan niat baik hamba-Nya. Ketika niat itu selalu tertanam di
dalam hati walaupun kadangkala ada saja hal yang menghambat terlaksananya niat,
atas izin Allah niat itu akan menjadi kenyataan. Barangkali Allah juga tahu bahwa
untuk memberikan kontribusi nyata ke masyarakat Bojong aku tidak bisa
memulainya sendiri, maka Allah wujudkan angan-angan itu melalui orang lain
untuk memulainya.
Namun di sisi lain aku juga merasa cemas untuk
kedepannya. Peresmian kemitraan itu baru merupakan langkah awal untuk
memberikan manfaat dan dampak bagi masyarakat. Selanjutnya, untuk menjadikan program
kemitraan dengan IAAS LC UGM bisa benar-benar memberikan manfaat ke masyarakat
maka ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Hal-hal itu menjadi PR lama yang
masih aku pikirkan hingga sekarang dan belum ada tindakan nyata untuk mengatasinya.
PR itu sebagai bentuk rancangan untuk mengatasi masalah internal organisasi
kepemudaan. PR itu diantaranya tentang re-generasi pemuda, bagaimana menumbuhkan
rasa tanggung jawab dan kepemilikan bersama pada pemuda, dan menyatukan wadah
pemuda yang saat ini masih terkotak-kotakkan. Lalu PR untuk mensosialisasikan
program kemitraan IAAS ke berbagai kalangan masyarakat. Kemudian PR untuk
segera mengaktifkan kegiatan pemuda dan merancang program baru yang
berkelanjutan. Selain itu juga PR untuk mengatasi perintilan masalah koordinasi,
yang nyatanya memang tidak semudah itu, semuanya harus jelas dan berurutan. Oh
iya hal yang jangan sampai kelewat ialah tentang menumbuhkan kesadaran pemuda
akan pentingnya berkolaborasi karena sekarang bukan lagi zamannya persaingan
untuk menang tetapi kolaborasi untuk mencapai tujuan. Namun berkolaborasi pun
kita enggak boleh tanpa bekal, tetapi kita juga harus bisa membuat percaya
orang yang berkolaborasi dengan kita. Dengan cara menunjukkan kesungguhan kita
dan komitemen kita untuk mencapai tujuan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar