Kamis, 18 November 2021

Not Easy But Worth It!

Halo, lama nggak nulis. Sekarang aku lagi di rumah, lagi nyuci sprei pake mesin cuci dan sekarang nungguin mesin cucinya yang sebenernya udah saatnya pensiun. Setiap kali mau dipake pasti rewel, ya ga mau muterlah, ya alarm error-nya bunyi terus, dan kadang pas udah bisa muter tiba-tiba berhenti sendiri. Walaupun ngeselin, itu mesin cuci emang udah berjasa banget bagi kehidupan rumah tangga 'omah ijo' ini selama hampir 10 tahun. Jadi selama nunggu, aku memutuskan untuk nulis aja, nulis yang tidak terencanakan dan tidak terkonsep. Btw, aku juga lagi sambil dengerin musik. Aku lagi dengerin OST-nya Teman Tapi Menikah, kayaknya kalau ditanya orang "Apa genre musik favoritmu?", aku akan jawab "OST film atau series yang pernah aku tonton". Selain lagunya Petra Sihombing yang 'Mine', aku pikir enggak ada lagi lagu yang bener-bener berkesan sampe ke hati. 

Apa kabar aku?

'Apa kabar' adalah pertanyaan yang sulit kujawab akhir-akhir ini. Entahlah, mungkin karena pada kenyataannya aku sedang tidak baik-baik saja. Udah di pertengahan November dan aku belum sidang skripsi. Bahkan progres skripsi yang menurutku masih sangat tidak layak itu baru aku kirim ke dosen pembimbing kemarin. Oleh sang dosen, chat-ku hanya dibaca, belum dijawab. Yah, namanya juga dosen pastinya beliau sibuk. Walau misalnya dibalas dengan "Oke, nanti saya review" aja kayaknya akan lebih melegakan. 

Setelah ngirim progres skripsi, aku jadi deg-degan dan overthinking semalaman. Jadi nggak mood ngapa-ngapain. Padahal seharusnya semalam aku ada kegiatan rutin mingguan belajar bahasa inggris bareng teman-teman. Kami emang jadi ketemu via g-meet, tapi enggak jadi diskusi gara-gara aku jawab pertanyaan "How's life guys?" dengan jawaban "I'm not in a good condition, i mean myself". Lalu teman-temanku yang udah lulus itu memberi semangat dan beragam kata-kata manis nan menenangkan. Dalam hati aku merasa bersalah, seharusnya aku belajar untuk nampak tidak apa-apa dan diskusi berjalan sesuai rencana. Sayang sekali aku tidak pandai berbohong teman, padahal minggu lalu kami juga sudah menunda diskusinya. Yah, begitulah aku yang sejatinya manusia rapuh ini. 


Pengalamanku dalam mengerjakan skripsi ini akan menjadi pelajaran hidup yang enggak akan terlupa. Pelajaran tentang gimana seharusnya kita mengelola prioritas hidup, mengelola waktu, mengelola tenaga, dan menentukan keputusan atas suatu kesempatan. Aku juga sedang berusaha mensyukuri apapun yang ada dan terjadi pada diriku. Walau sesekali masih coba membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Rasanya saat ini fase hidupku berjalan begitu lamban, lama sekali aku berada di suatu titik dan tak kunjung bergerak ke titik yang lain. Sementara orang lain barangkali telah melangkah begitu jauh. 

Temanku bilang "sometimes we are win, but in other time we're possible to lose. But the rest, we could learn. So actually there is no lose." Hem.. ya. 

But then, i feel better right now. Selain karena kata-kata mutiara dari teman-temanku semalam. Barusan tadi aku juga habis nonton videonya Mbak Analisa. Mbak Ana ngutip kalimat dari suatu buku gitu, "its not going to be easy, but its going to be worth it.


Minggu, 08 Agustus 2021

Awal Kolaborasi untuk Masyarakat

Daripada terus mengisahkan tentang skripsi yang entah kapan akan selesai, lebih baik aku membagikan kisah lain kehidupanku. Hidupku tentunya bukan hanya tentang kuliah dan skripsi aja, hehe. Walaupun harus aku sadari bahwa menyelesaikan skripsi saat ini menjadi hal yang utama.

Dulu aku pernah berangan-angan ketika udah memasuki semester tua aku ingin mengabdikan diri ke masyarakat setempat tinggal denganku, which is masyarakat di Dusun Bojong, Wonolelo. Keinginan itu muncul ketika awal tahun 2020 saat aku memasuki semester 5, yang selanjutnya pandemi melanda sehingga beberapa angan-angan itu kian luntur seiring waktu. Ditambah lagi sekarang aku mulai kerja freelance sebagai asisten peneliti di PSKK UGM. Pekerjaan itu awalnya aku pikir cukup santai dan tidak terlalu menyita waktu. Ya memang sih begitu, tapi ada kalanya pekerjaan itu juga terasa cukup menuntut dan butuh fokus. Bahkan sampai membuatku terpaksa menyurutkan fokus dalam menyelesaikan skripsi dalam beberapa bulan lalu. Dampaknya ialah, saat ini aku mesti bayar UKT lagi untuk melanjutkan semester 9. Masih berkutat dengan skripsi ketika separuh teman angkatan yang lain sudah lulus dan sedang nyari kerja.

Waktu terus berjalan hingga pada suatu saat aku dapat kesempatan berkenalan dengan seseorang di suatu komunitas. Kami berkenalan secara online dan ngobrol banyak hal, termasuk tentang latar belakang dan kegiatan yang sedang diikuti saat itu. Dia pun mengetahui bahwa aku adalah orang desa dan juga masih cukup aktif berkegiatan di kepemudaan desa. Tidak disangka beberapa bulan kemudian dia dan teman-teman komunitasnya (komunitas lain yang dia ikuti) bermaksud mencari desa untuk dijadikan desa mitra. Dia menanyakan beberapa hal tentang desaku, kemudian aku jawab seadanya, tanpa aku beri pencitraan apapun. Seingatku dulu seperti itu. Pada saat itu mereka masih melakukan survei lapangan ke berbagai calon desa mitra, termasuk desaku. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pengabdian dan menjadikan Desa Wonolelo khususnya Dusun Bojong sebagai dusun mitra pelaksanaan program mereka. Mereka tidak mengambil satu desa karena terlalu luas. Pagi hari tadi mereka melakukan peresmian kemitraan, menghadirkan Pak Lurah, Pak Kasi Kemakmuran Desa, Pak Dukuh, dan sejumlah perwakilan petani serta pelaku UMKM. Resmi sudah kemitraan IAAS LC UGM dengan Dusun Bojong.

Aku merasa cukup bahagia pada momen ini. Mengingat dulu Pak Dukuh seingatku pernah minta tolong aku untuk menghubungkan dengan mahasiswa Pertanian UGM. Dulu Pak Dukuh ingin agar masyarakat dikasih pengetahuan dan wawasan tentang pertanian. Tapi dulu aku tidak berhasil menjadi penghubung, padahal sudah minta tolong temanku anak pertanian beberapa kali. Selain itu momen ini juga menjadi langkah awal atas angan-anganku untuk memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat di lingkungan tempat tinggalku. Aku pikir peristiwa ini bisa terjadi karena sejatinya memang Allah benar-benar mendengar doa hamba-Nya. Allah akan mewujudkan niat baik hamba-Nya. Ketika niat itu selalu tertanam di dalam hati walaupun kadangkala ada saja hal yang menghambat terlaksananya niat, atas izin Allah niat itu akan menjadi kenyataan. Barangkali Allah juga tahu bahwa untuk memberikan kontribusi nyata ke masyarakat Bojong aku tidak bisa memulainya sendiri, maka Allah wujudkan angan-angan itu melalui orang lain untuk memulainya.

Namun di sisi lain aku juga merasa cemas untuk kedepannya. Peresmian kemitraan itu baru merupakan langkah awal untuk memberikan manfaat dan dampak bagi masyarakat. Selanjutnya, untuk menjadikan program kemitraan dengan IAAS LC UGM bisa benar-benar memberikan manfaat ke masyarakat maka ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Hal-hal itu menjadi PR lama yang masih aku pikirkan hingga sekarang dan belum ada tindakan nyata untuk mengatasinya. PR itu sebagai bentuk rancangan untuk mengatasi masalah internal organisasi kepemudaan. PR itu diantaranya tentang re-generasi pemuda, bagaimana menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan bersama pada pemuda, dan menyatukan wadah pemuda yang saat ini masih terkotak-kotakkan. Lalu PR untuk mensosialisasikan program kemitraan IAAS ke berbagai kalangan masyarakat. Kemudian PR untuk segera mengaktifkan kegiatan pemuda dan merancang program baru yang berkelanjutan. Selain itu juga PR untuk mengatasi perintilan masalah koordinasi, yang nyatanya memang tidak semudah itu, semuanya harus jelas dan berurutan. Oh iya hal yang jangan sampai kelewat ialah tentang menumbuhkan kesadaran pemuda akan pentingnya berkolaborasi karena sekarang bukan lagi zamannya persaingan untuk menang tetapi kolaborasi untuk mencapai tujuan. Namun berkolaborasi pun kita enggak boleh tanpa bekal, tetapi kita juga harus bisa membuat percaya orang yang berkolaborasi dengan kita. Dengan cara menunjukkan kesungguhan kita dan komitemen kita untuk mencapai tujuan bersama.  

 

Rabu, 21 Juli 2021

Berjuta Rasa dalam Proses Menuju Dewasa

Pagi ini enggak biasanya aku bangun sebelum subuh. Entah kenapa tadi aku tiba-tiba terbangun, pas ngecek jam di HP ternyata masih jam 04.07 dan belum adzan subuh. Terus langsung menghadapi dilema hidup yang enggak penting tentang waktu yang nanggung, mau bangun atau enggak ya? Kalau bangun, mau ngapain, kalau mau shalat tahajjud kayaknya udah mau subuh. Kalau enggak bangun, maksa tidur lagi juga jadi enggak nyaman. Mau tiduran sambil ngecek HP juga silau karena lampu dimatiin. Akhirnya aku tetap tiduran sambil berpikir. Setelah adzan subuh aku langsung bergegas minum segelas air putih dan wudhu lalu shalat.

Kemarin adalah Hari Raya Idul Adha. Sejak siang jam setengah  dua aku dan Ibuk udah mulai motongin daging dan membaginya untuk berbagai masakan. Hari ini aku mau masak sate, itu masakan yang wajib untuk meng-afdhol-kan Idul Adha, haha. Dan semalem aku dan keluarga bikin sate kambing dan sapi. Bikinnya butuh tenaga dan waktu ekstra, dari  habis isya sampai jam sembilan baru jadi lalu kami santap. Alhasil tenagaku dan Ibuk habis cuman buat ngurus daging dan masak-masak. Kami enggak sempat cuci piring malam itu. Alhasil paginya setumpuk cucian kotor teronggok dan menjadi pertanda yang sangat jelas untukku agar segera mencuci itu semua.

Kemudian seperti hari-hari sebelumnya semenjak WFH, aku rajin menulis jurnal setiap pagi. Begitu juga pagi ini. Menuliskan apa yang bisa disyukuri kemarin dan hari ini, evaluasi, serta merencanakan hari ini. Aku suka merencanakan hari, meskipun lebih sering rencana itu gagal terpenuhi, hehe. Tapi enggak apa lah, setidaknya sudah ada niat. Hei, tapi ya harusnya aku lebih berusahan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang aku rencanakan! Herannya setiap aku melakukan jurnaling, tidak cukup hanya 10 atau 15 menit, paling enggak 30 menit aku melakukan hal sederhana itu. Saking menikmatinya, tapi enggak baik juga karena waktu tersita untuk sekadar membuat rencana. Habis jurnaling aku menulis tulisan ini. Dan nanti jam setengah delapan aku harus mandi terus kerja. Kerjaan WFH yang cukup menantang, walaupun bukan pekerjaan yang strategis. Tapi sudah selayaknya aku kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Ngomong-ngomong tentang perasaan nih (yaelah). Kemarin seharian aku merasa murung, cemas, dan perasaan lain yang negatif. Jujur saja, mungkin karena kemarinnya tiga temanku sidang di hari yang sama. Tentunya aku ikut senang, hanya saja aku tidak memungkiri kalau nyatanya aku jadi merasa cemas dan panik pada progress skripsiku sendiri. Ketika separuh teman di angkatan udah pada sidang, sementara aku masih mulai mengerjakan pembahasan dan jarang sekali berdiskusi dengan dosen pembimbing. Aku merasa jadi orang yang tertinggal, merasa enggak berdaya, merasa bodoh, dan merasa jadi orang yang lemah. Bahkan pada suatu sisi, aku perlahan merasa ditinggalkan oleh diriku sendiri dan mungkin juga dicampakkan oleh orang lain. Ah… perasaan negatif memang senantiasa menjangkiti setiap insan yang sedang bertumbuh. Aku harus belajar menerima dan terus berproses mengelola emosi diri dalam menjalani hidup. Menasihati diri sendiri untuk tenang dan selalu ingat bahwa punya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang sangat mengerti hamba-Nya. Semoga perasaan ini kian membaik, hanya saja ada kalanya orang mati rasa terhadap perasaan syukur ketika terlalu fokus pada perasaan-perasaan negatif.  

Yuk deh Bil, hadapi realita hidup dan tantangan-tantangannya. Banyak hal yang perlu dipikirkan dan dikerjakan. Banyak kekurangan-kekurangan diri yang harus senantiasa ditingkatkan. Ada skripsi yang perlu dikerjakan, tak cuman dipikirkan dan dicemaskan. Ada kesempatan berbuat hal yang bermanfaat untuk masyarakat yang perlu segera direalisasikan. Ada lingkungan yang perlu dibuat lebih baik kondisinya. Yuk, hadapi aja Bil, kamu sedang berproses. Bismillah.

Rabu, 16 Juni 2021

Belajar dari Drama Korea

Halo! Udah lama banget aku enggak publish tulisan di blog rahasia ini. Dipublish tapi kok rahasia tuh gimana? Maksudnya, alamat blog ini sampai saat ini belum aku publish, jadi orang-orang belum tau kalo aku nulis blog, hehe. 

Oke, untuk mengawali semangat nulis lagi setelah enam bulan enggak publish tulisan. Aku mau bahas hal yang ringan dan mungkin sepele dulu. Yang penting mulai dulu, bukan begitu?

Saat ini cukup banya orang, setidaknya orang-orang yang aku kenal. Mereka suka nonton drakor. Masing-masing barangkali punya alasan tersendiri untuk suka nonton drakor. Kalo aku pribadi, alasan paling utama yaitu ...

Dari drakor kita bisa belajar tentang cara berinteraksi dengan orang. Baik itu dengan pasangan, orangtu, saudara, teman, dan rekan kerja. Apalagi kalo drakornya yang bergenre "slice of life" dan temanya relate dengan kehidupan kita. Agaknya tidak menjadi hal sia-sia nonton drakor kalo diniatkan untuk belajar, sehingga dapat inspirasi cara bergaul dengan orang lain.

Baiklah, sekian dulu. Tadi aku habis selesai nge-transkrip wawancara. Jadi habis ini aku mau bersenang-senang sekaligus belajar. Aku mau nonton drakor.