Rabu, 21 Juli 2021

Berjuta Rasa dalam Proses Menuju Dewasa

Pagi ini enggak biasanya aku bangun sebelum subuh. Entah kenapa tadi aku tiba-tiba terbangun, pas ngecek jam di HP ternyata masih jam 04.07 dan belum adzan subuh. Terus langsung menghadapi dilema hidup yang enggak penting tentang waktu yang nanggung, mau bangun atau enggak ya? Kalau bangun, mau ngapain, kalau mau shalat tahajjud kayaknya udah mau subuh. Kalau enggak bangun, maksa tidur lagi juga jadi enggak nyaman. Mau tiduran sambil ngecek HP juga silau karena lampu dimatiin. Akhirnya aku tetap tiduran sambil berpikir. Setelah adzan subuh aku langsung bergegas minum segelas air putih dan wudhu lalu shalat.

Kemarin adalah Hari Raya Idul Adha. Sejak siang jam setengah  dua aku dan Ibuk udah mulai motongin daging dan membaginya untuk berbagai masakan. Hari ini aku mau masak sate, itu masakan yang wajib untuk meng-afdhol-kan Idul Adha, haha. Dan semalem aku dan keluarga bikin sate kambing dan sapi. Bikinnya butuh tenaga dan waktu ekstra, dari  habis isya sampai jam sembilan baru jadi lalu kami santap. Alhasil tenagaku dan Ibuk habis cuman buat ngurus daging dan masak-masak. Kami enggak sempat cuci piring malam itu. Alhasil paginya setumpuk cucian kotor teronggok dan menjadi pertanda yang sangat jelas untukku agar segera mencuci itu semua.

Kemudian seperti hari-hari sebelumnya semenjak WFH, aku rajin menulis jurnal setiap pagi. Begitu juga pagi ini. Menuliskan apa yang bisa disyukuri kemarin dan hari ini, evaluasi, serta merencanakan hari ini. Aku suka merencanakan hari, meskipun lebih sering rencana itu gagal terpenuhi, hehe. Tapi enggak apa lah, setidaknya sudah ada niat. Hei, tapi ya harusnya aku lebih berusahan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang aku rencanakan! Herannya setiap aku melakukan jurnaling, tidak cukup hanya 10 atau 15 menit, paling enggak 30 menit aku melakukan hal sederhana itu. Saking menikmatinya, tapi enggak baik juga karena waktu tersita untuk sekadar membuat rencana. Habis jurnaling aku menulis tulisan ini. Dan nanti jam setengah delapan aku harus mandi terus kerja. Kerjaan WFH yang cukup menantang, walaupun bukan pekerjaan yang strategis. Tapi sudah selayaknya aku kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Ngomong-ngomong tentang perasaan nih (yaelah). Kemarin seharian aku merasa murung, cemas, dan perasaan lain yang negatif. Jujur saja, mungkin karena kemarinnya tiga temanku sidang di hari yang sama. Tentunya aku ikut senang, hanya saja aku tidak memungkiri kalau nyatanya aku jadi merasa cemas dan panik pada progress skripsiku sendiri. Ketika separuh teman di angkatan udah pada sidang, sementara aku masih mulai mengerjakan pembahasan dan jarang sekali berdiskusi dengan dosen pembimbing. Aku merasa jadi orang yang tertinggal, merasa enggak berdaya, merasa bodoh, dan merasa jadi orang yang lemah. Bahkan pada suatu sisi, aku perlahan merasa ditinggalkan oleh diriku sendiri dan mungkin juga dicampakkan oleh orang lain. Ah… perasaan negatif memang senantiasa menjangkiti setiap insan yang sedang bertumbuh. Aku harus belajar menerima dan terus berproses mengelola emosi diri dalam menjalani hidup. Menasihati diri sendiri untuk tenang dan selalu ingat bahwa punya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang sangat mengerti hamba-Nya. Semoga perasaan ini kian membaik, hanya saja ada kalanya orang mati rasa terhadap perasaan syukur ketika terlalu fokus pada perasaan-perasaan negatif.  

Yuk deh Bil, hadapi realita hidup dan tantangan-tantangannya. Banyak hal yang perlu dipikirkan dan dikerjakan. Banyak kekurangan-kekurangan diri yang harus senantiasa ditingkatkan. Ada skripsi yang perlu dikerjakan, tak cuman dipikirkan dan dicemaskan. Ada kesempatan berbuat hal yang bermanfaat untuk masyarakat yang perlu segera direalisasikan. Ada lingkungan yang perlu dibuat lebih baik kondisinya. Yuk, hadapi aja Bil, kamu sedang berproses. Bismillah.