Pagi ini enggak biasanya aku bangun sebelum subuh. Entah kenapa tadi aku tiba-tiba terbangun, pas ngecek jam di HP ternyata masih jam 04.07 dan belum adzan subuh. Terus langsung menghadapi dilema hidup yang enggak penting tentang waktu yang nanggung, mau bangun atau enggak ya? Kalau bangun, mau ngapain, kalau mau shalat tahajjud kayaknya udah mau subuh. Kalau enggak bangun, maksa tidur lagi juga jadi enggak nyaman. Mau tiduran sambil ngecek HP juga silau karena lampu dimatiin. Akhirnya aku tetap tiduran sambil berpikir. Setelah adzan subuh aku langsung bergegas minum segelas air putih dan wudhu lalu shalat.
Kemarin
adalah Hari Raya Idul Adha. Sejak siang jam setengah dua aku dan Ibuk udah mulai motongin daging
dan membaginya untuk berbagai masakan. Hari ini aku mau masak sate, itu masakan
yang wajib untuk meng-afdhol-kan Idul Adha, haha. Dan semalem aku dan keluarga
bikin sate kambing dan sapi. Bikinnya butuh tenaga dan waktu ekstra, dari habis isya sampai jam sembilan baru jadi lalu
kami santap. Alhasil tenagaku dan Ibuk habis cuman buat ngurus daging dan
masak-masak. Kami enggak sempat cuci piring malam itu. Alhasil paginya setumpuk
cucian kotor teronggok dan menjadi pertanda yang sangat jelas untukku agar segera
mencuci itu semua.
Kemudian
seperti hari-hari sebelumnya semenjak WFH, aku rajin menulis jurnal setiap
pagi. Begitu juga pagi ini. Menuliskan apa yang bisa disyukuri kemarin dan hari
ini, evaluasi, serta merencanakan hari ini. Aku suka merencanakan hari, meskipun
lebih sering rencana itu gagal terpenuhi, hehe. Tapi enggak apa lah, setidaknya
sudah ada niat. Hei, tapi ya harusnya aku lebih berusahan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan
yang aku rencanakan! Herannya setiap aku melakukan jurnaling, tidak cukup hanya
10 atau 15 menit, paling enggak 30 menit aku melakukan hal sederhana itu.
Saking menikmatinya, tapi enggak baik juga karena waktu tersita untuk sekadar
membuat rencana. Habis jurnaling aku menulis tulisan ini. Dan nanti jam
setengah delapan aku harus mandi terus kerja. Kerjaan WFH yang cukup menantang,
walaupun bukan pekerjaan yang strategis. Tapi sudah selayaknya aku kerjakan dengan
sungguh-sungguh.
Ngomong-ngomong
tentang perasaan nih (yaelah). Kemarin seharian aku merasa murung, cemas, dan perasaan
lain yang negatif. Jujur saja, mungkin karena kemarinnya tiga temanku sidang di
hari yang sama. Tentunya aku ikut senang, hanya saja aku tidak memungkiri kalau
nyatanya aku jadi merasa cemas dan panik pada progress skripsiku sendiri.
Ketika separuh teman di angkatan udah pada sidang, sementara aku masih mulai
mengerjakan pembahasan dan jarang sekali berdiskusi dengan dosen pembimbing. Aku
merasa jadi orang yang tertinggal, merasa enggak berdaya, merasa bodoh, dan merasa
jadi orang yang lemah. Bahkan pada suatu sisi, aku perlahan merasa ditinggalkan
oleh diriku sendiri dan mungkin juga dicampakkan oleh orang lain. Ah… perasaan
negatif memang senantiasa menjangkiti setiap insan yang sedang bertumbuh. Aku
harus belajar menerima dan terus berproses mengelola emosi diri dalam menjalani
hidup. Menasihati diri sendiri untuk tenang dan selalu ingat bahwa punya Allah Yang
Maha Pengasih dan Penyayang, yang sangat mengerti hamba-Nya. Semoga perasaan
ini kian membaik, hanya saja ada kalanya orang mati rasa terhadap perasaan
syukur ketika terlalu fokus pada perasaan-perasaan negatif.
Yuk deh
Bil, hadapi realita hidup dan tantangan-tantangannya. Banyak hal yang perlu
dipikirkan dan dikerjakan. Banyak kekurangan-kekurangan diri yang harus
senantiasa ditingkatkan. Ada skripsi yang perlu dikerjakan, tak cuman dipikirkan
dan dicemaskan. Ada kesempatan berbuat hal yang bermanfaat untuk masyarakat
yang perlu segera direalisasikan. Ada lingkungan yang perlu dibuat lebih baik
kondisinya. Yuk, hadapi aja Bil, kamu sedang berproses. Bismillah.