Senin, 26 Oktober 2020

Orang yang Mempengaruhi Mimpi

Semalem gue nonton drakor judulnya “Start-Up”, drakor yang masih on-going di Netflix. Satu hal yang menarik adalah ketika para tokoh menulis alasan mereka untuk membangun start-up, rata-rata alasan itu dilatarbelakangi oleh pengalaman si tokoh dengan orang lain. Kemudian latar belakang itulah yang menjadi pijakan kuat para tokoh untuk mengikuti mimpinya. Kemarin aku juga nonton film “Sang Pemimpi”, sekuel film “Laskar Pelangi” yang tidak kalah bagusnya pesan moral yang disampaikan. Film itu juga menceritakan tentang pencapaian mimpi, yang dalam proses pencapaian itu diiringi dengan semangat menggebu-gebu. Ya, intinya mimpi membuat setiap orang menjadi semangat dalam menjalani hari-harinya. Membuat setiap rintangan menjadi mungkin untuk ditaklukan.

Sebenernya gue tipikal orang yang cenderung realistis ketimbang hobi bermimpi. Namun kondisi gue saat ini membuat gue berpikir, haruskah gue punya mimpi? Pentingkah? Sekarang kondisi gue sedang baik-baik saja, ekonomi cukup, fisik alhamdulillah sehat, intinya boleh dikatakan tentram wabil damai. Lama sekali gue merasakan masa-masa ini, hingga akhirnya gue pun bosan, sangat sangat bosan. Diri ini juga rasanya tidak berkembang kemana-mana.

Saking nggak ada pencapaian apapun dari hidup gue, sampe-sampe di Instagram ketika orang-orang pada post pencapaian-pencapaian hidupnya gue hanya post foto segelas jus mangga dengan caption yang boleh dikata ngelantur sih. Tapi, selang beberapa menit gue post itu siapa sangka seseorang yang tak terduga menaruh komentar, jadi yang pertama mengkomentari lagi. Gue langsung ‘mak deeg’ berkali-kali nge-refresh profil IG, takut barangkali notifikasi yang barusan gue lihat cuman ilusi. Ternyata enggak woy! Wuaaa...asli gue seneng banget langsung jingkrak-jingkrak. Ekspresif dulu, berpikir kemudian, itu adalah aku. Yaps, setelah puas mengekspresikan diri barulah aku membaca dan memahami konten komentar si laki-laki satu ini. Dia kasih komentar yang intinya menyebut gue lagi berada di insecure moment. Padahal caption gue aja menunjukkan gue bersyukur loh. Bisa-bisanya dia komentar begitu. Tapi setelah gue renungi lagi, dia bener sih, bukannya awal mula gue nge-post itu emang lagi insecure yak?

Alasan gue seneng banget orang ini komentar di post Instagram gue adalah karena gue emang seneng sama orangnya, hahahah. Dia memang layak sih jadi laki-laki yang digemari para perempuan, gue hanya satu dari ribuan orang yang suka sama dia. Tapi andaikata para penggemarnya ini bikin layaknya idol grup, gue adalah member senior di grup itu. Karena gue suka dia selama almost a decade!

Oke, kembali ke perbincangan tentang mimpi. Entah kenapa komentar dia mendorong gue untuk punya mimpi. Gue tahu, itu cuman komentar. Tapi gue nggak tahu pasti apa alasan dia berkomentar. Mungkin gue sotoy sih, tapi setau gue dia jarang banget komentarin postingan cewek. Jadi izinkan gue pede sedikit, gue termasuk yang dia notice kan? Hahah. Lalu konten komentar dia, gue rasa itu masuk kategori komentar cukup menohok. Komentar yang cenderung bernilai negatif meskipun nyata adanya. Apa motif dia komentar kayak gitu? Apakah dia sedang ingin menunjukkan bahwa dia sedang berada di secure moment? Okelah kalo dilihat dari postingan Instagram, memang dia luar biasa. Gue akui dia berhasil berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari dulu pertama kali gue kenal dia. Dulu dia memang keren, sekarang dia jauh lebih keren.

So, mimpi gue kali ini simpel aja. Gue juga pengen jadi perempuan keren dengan cara gue sendiri. Gue nggak mau kalah sama dia, teman yang sudah hampir satu dekade gue kenal dan gue kagumi. Soal gue yang suka sama dia, biarkan aja perasaan itu tetap ada sebagai bahan bakar alternatif dalam gue mencapai mimpi gue sesungguhnya.

Kemarin sempat ditanya sama temen, “Gimana jika akhirnya lo berjodoh sama dia?”. Gue jawab aja, “Absolutely I’ll be grateful”. Namanya juga perasaan suka, itu muncul dari hati, nggak bisa dengan mudah dihilangkan begitu aja. Apalagi oleh gue si tipe cewek setia, hahah. Gue mengakui perasaan gue ke dia, tapi tenang aja dia nggak perlu khawatir karena gue nggak akan membuat dia terganggu dengan perasaan gue. Mari kita tunggu lima hingga tujuh tahun kedepan, gue akan fokus pada mimpi gue. Perkara gue akan berjodoh dengan siapa, itu takdir Tuhan. Gue serahkan sepenuhnya. Walaupun kata Ustad Quraish Shihab kita boleh berdoa minta jodoh bahkan boleh menyebut nama spesifik orang yang ingin menjadi jodoh kita. Namun, terkabulnya doa juga dipengaruhi dengan seberapa dekat kita dengan Tuhan. Jadi, perlulah aku sadar diri bahwa belum begitu dekat aku pada Tuhan. Oleh karenanya, jikalau aku berdoa mohon dijodohkan dengannya sekalipun, entahlah berapa persen itu akan terwujud.

 

Minggu, 11 Oktober 2020

Kehidupan Semester 7

 

Barusan gue habis nonton videonya Mbak Gita tentang Belajar Bahasa Inggris. Dalam belajar bahasa Inggris ternyata kita perlu menyeimbangkan antara input dengan output. Maksudnya selain belajar dengan cara banyak-banyak mendengar dan membaca bahasa Inggris, kita juga perlu banyak-banyak menulis dan berbicara dengan bahasa Inggris. Diluar konteks tentang belajar bahasa Inggris, pada dasarnya gue suka belajar banyak hal. Tapi rasa-rasanya gue nggak mengalami perkembangan yang signifikan dalam belajar. Nah, dari video itu gue jadi tahu bahwa ternyata gue emang kurang aktif dalam belajar. Gue masih kurang dalam menantang diri untuk ngomong dan nulis coy, dalam segala hal yang sedang gue pelajari. Sementara nih, kalo gue liat-liat sekarang nih banyak temen-temen gue yang udah menjadi pembelajar aktif. Entah itu mereka bikin video lalu dipost di Youtube atau sekadar bikin story. Sementara gue nih, masih ragu gitu lho dalam berekspresi dan sharing pengetahuan yang gue punya. Bukan karena gue nggak mau, tapi gue merasa bahwa apa yang gue tahu itu bukan apa-apa bagi orang lain. Kadang gue juga masih malu dan takut dalam memberikan opini pribadi. Kalo bikin IG story paling sering resend postingan akun lain. Bikin status WA sekadar hal-hal sepele atau gambar yang nge-save dari twitter. Sementara di twitter lebih sering ngelike dan ngeretweet. Haduh... ya wajar aja sih ya kalo gue jadi kerdil gini. Padahal nih, zaman sekarang berpengetahuan aja nggak cukup karena yang lebih powerful adalah ketika kita bisa sharing information dan berani untuk speak-up. Jadi, gue sekarang harus berani speak-up. Hei liat aja idola-idolamu Bil, bukankah mereka adalah wanita-wanita yang berani speak-up? Gitasav, Najwa Shihab, Zaskia Mecca, dan Maudy Ayunda. Yuk dong diteladani! Nggak usah takut salah, bilamana salah ya tinggal belajar dari kesalahan itu bukan?

Oiya, pendahuluan life update ini kok malah jadi panjang banget yak, hehe. Oke, lanjut ke topik utama. Udah lama gue nggak posting blog, karena memang lagi nggak mood dan nggak ada ide nulis. Walaupun sebenernya blog gue ini mah emang dibuat dengan tujuan untuk sharing cerita-cerita pribadi gue aja sih.

Setelah KKN berakhir, gue cukup sering main sama temen-temen lama. Setelah itu gue sempat gabut, walaupun harusnya gue menyusun skripsi. Namun, gue baru bener-bener ngerjain setelah dikasih deadline selama sebulan sama dosen buat ngumpulin proposal. Haduh dasarnya aku yang males kerja kalo nggak dikasih deadline. Minggu ketiga dalam pengerjaan skripsi itu, gue dapet panggilan kerja. Ceilah panggilan kerja. Ya pada intinya gue dipanggil sama salah satu peneliti PSKK buat bantuin input data selama dua minggu. Berhubung cuman dua minggu jadi gue terima aja dong, lumayan kan dapet gaji. Selama kerja itu gue kenalan sama dua teman baru, gue seneng sih bisa kenalan sama mereka karena membuat gue termotivasi buat lebih giat belajar. Sebenernya pekerjaan di PSKK ini bisa gue lanjutin, tapi gue memutuskan untuk fokus ngerjain skripsi dan karena alasan masih ngambil dua matkul. Kerja di PSKK bagi gue cukup melelahkan dan menyita waktu sih, gue takut nggak bisa menunaikan ibadah skripsi dengan tenang. Sekarang kegiatan muda-mudi di kampung juga udah dimulai lagi, ada projek yang memerlukan waktu khusus juga untuk ngerjainnya. Udah saatnya berkontribusi lebih buat kampung sendiri ye kan. Sama sekarang ini gue juga lagi jadi timses paslon pilkada, walau masih santai sih kerjaannya. Kegiatan gue sekarang mau fokus ke akademik dulu aja deh, lalu kontribusi buat masyarakat, sama kepikiran juga buat menantang diri ikutan lomba tau konferensi gitu lho.

Disamping itu, gue juga lagi sedih banget karena sahabat gue lagi dalam masalah. Dua anggota keluarganya kena corona, lalu dia juga kudu tes swab. Dia juga lagi kesulitan buat urusan akademiknya, banyak pikiran, dan jadi nggak ngegubris media sosial. Gue selalu berdoa buat kesembuhan dan keselamatan dia dan keluarganya. Semoga semua lekas pulih dan gue bisa ketemu sama dia.

Btw, gue juga sedih kalo ngomongin tentang negara ini. Corona belum menunjukkan penurunan, orang udah abai, pemerintah kerjanya nggak bener. Demo pecah gegara Omnibus Law. Rakyat dianiaya sama aparat. Suara rakyat dianggap hoax. Bikin undang-undang nggak transparan dan nggak partisipatif. Negara ini udah kayak milik segelintir orang aja yang seenak jidat memarginalkan rakyat. Hadeh, gundah, gelisah, galau, merana cuy!