Semalem gue nonton drakor judulnya “Start-Up”, drakor yang masih on-going di Netflix. Satu hal yang menarik adalah ketika para tokoh menulis alasan mereka untuk membangun start-up, rata-rata alasan itu dilatarbelakangi oleh pengalaman si tokoh dengan orang lain. Kemudian latar belakang itulah yang menjadi pijakan kuat para tokoh untuk mengikuti mimpinya. Kemarin aku juga nonton film “Sang Pemimpi”, sekuel film “Laskar Pelangi” yang tidak kalah bagusnya pesan moral yang disampaikan. Film itu juga menceritakan tentang pencapaian mimpi, yang dalam proses pencapaian itu diiringi dengan semangat menggebu-gebu. Ya, intinya mimpi membuat setiap orang menjadi semangat dalam menjalani hari-harinya. Membuat setiap rintangan menjadi mungkin untuk ditaklukan.
Sebenernya gue tipikal
orang yang cenderung realistis ketimbang hobi bermimpi. Namun kondisi gue saat
ini membuat gue berpikir, haruskah gue punya mimpi? Pentingkah? Sekarang kondisi
gue sedang baik-baik saja, ekonomi cukup, fisik alhamdulillah sehat, intinya
boleh dikatakan tentram wabil damai. Lama sekali gue merasakan masa-masa ini,
hingga akhirnya gue pun bosan, sangat sangat bosan. Diri ini juga rasanya tidak
berkembang kemana-mana.
Saking nggak ada pencapaian
apapun dari hidup gue, sampe-sampe di Instagram ketika orang-orang pada post pencapaian-pencapaian
hidupnya gue hanya post foto segelas jus mangga dengan caption yang boleh
dikata ngelantur sih. Tapi, selang beberapa menit gue post itu siapa sangka seseorang
yang tak terduga menaruh komentar, jadi yang pertama mengkomentari lagi. Gue langsung
‘mak deeg’ berkali-kali nge-refresh profil IG, takut barangkali notifikasi
yang barusan gue lihat cuman ilusi. Ternyata enggak woy! Wuaaa...asli gue
seneng banget langsung jingkrak-jingkrak. Ekspresif dulu, berpikir kemudian,
itu adalah aku. Yaps, setelah puas mengekspresikan diri barulah aku membaca dan
memahami konten komentar si laki-laki satu ini. Dia kasih komentar yang intinya
menyebut gue lagi berada di insecure moment. Padahal caption gue aja
menunjukkan gue bersyukur loh. Bisa-bisanya dia komentar begitu. Tapi setelah gue
renungi lagi, dia bener sih, bukannya awal mula gue nge-post itu emang lagi insecure
yak?
Alasan gue seneng
banget orang ini komentar di post Instagram gue adalah karena gue emang seneng
sama orangnya, hahahah. Dia memang layak sih jadi laki-laki yang digemari para
perempuan, gue hanya satu dari ribuan orang yang suka sama dia. Tapi andaikata
para penggemarnya ini bikin layaknya idol grup, gue adalah member senior di
grup itu. Karena gue suka dia selama almost a decade!
Oke, kembali ke
perbincangan tentang mimpi. Entah kenapa komentar dia mendorong gue
untuk punya mimpi. Gue tahu, itu cuman komentar. Tapi gue nggak tahu pasti apa alasan
dia berkomentar. Mungkin gue sotoy sih, tapi setau gue dia jarang banget
komentarin postingan cewek. Jadi izinkan gue pede sedikit, gue termasuk yang dia notice kan? Hahah.
Lalu konten komentar dia, gue rasa itu masuk kategori komentar cukup menohok. Komentar
yang cenderung bernilai negatif meskipun nyata adanya. Apa motif dia komentar
kayak gitu? Apakah dia sedang ingin menunjukkan bahwa dia sedang berada di secure
moment? Okelah kalo dilihat dari postingan Instagram, memang dia luar biasa.
Gue akui dia berhasil berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari dulu
pertama kali gue kenal dia. Dulu dia memang keren, sekarang dia jauh lebih
keren.
So, mimpi gue
kali ini simpel aja. Gue juga pengen jadi perempuan keren dengan cara gue
sendiri. Gue nggak mau kalah sama dia, teman yang sudah hampir satu dekade gue
kenal dan gue kagumi. Soal gue yang suka sama dia, biarkan aja perasaan itu
tetap ada sebagai bahan bakar alternatif dalam gue mencapai mimpi gue
sesungguhnya.
Kemarin sempat
ditanya sama temen, “Gimana jika akhirnya lo berjodoh sama dia?”. Gue
jawab aja, “Absolutely I’ll be grateful”. Namanya juga perasaan suka,
itu muncul dari hati, nggak bisa dengan mudah dihilangkan begitu aja. Apalagi
oleh gue si tipe cewek setia, hahah. Gue mengakui perasaan gue ke dia, tapi tenang
aja dia nggak perlu khawatir karena gue nggak akan membuat dia terganggu dengan
perasaan gue. Mari kita tunggu lima hingga tujuh tahun kedepan, gue akan fokus
pada mimpi gue. Perkara gue akan berjodoh dengan siapa, itu takdir Tuhan. Gue
serahkan sepenuhnya. Walaupun kata Ustad Quraish Shihab kita boleh berdoa minta
jodoh bahkan boleh menyebut nama spesifik orang yang ingin menjadi jodoh kita.
Namun, terkabulnya doa juga dipengaruhi dengan seberapa dekat kita dengan Tuhan.
Jadi, perlulah aku sadar diri bahwa belum begitu dekat aku pada Tuhan. Oleh karenanya, jikalau aku berdoa mohon dijodohkan dengannya sekalipun, entahlah berapa persen
itu akan terwujud.