Jumat, 23 Maret 2018

Pertengahan Semester Dua



Sebelumnya gue pernah cerita bahwa waktu semester satu gue gabut banget sebagai mahasiswa. Sekarang kondisinya udah beda, malah hampir sebaliknya. Dari awal semester dua dosen udah sering ngingetin kalo bobot per matkul empat SKS, so that’s why mahasiswa beban belajarnya juga nambah. Kuliah yang awalnya cuman seminggu tiga hari berubah jadi seminggu empat atau lima hari karena dosen minta jam tambahan. Belum lagi tugasnya yang hampir nggak ada tugas individu alias tugasnya itu kelompokkan semua. Tugas kelompok sebenarnya menjadi beban tersendiri sih buat gue, karena rumah gue yang jauh dari peradaban kampus sehingga mengharuskan gue untuk rela berangkat pagi pulang malem walau nggak ada kelas. Sehari gue bisa ngrerjain dua sampe tiga tugas kelompok sekaligus, untungnya anak-anak kelas gue sepakat untuk ngerjain di satu tempat yaitu Selasar Barat. Bejibun dah tuh anak-anak MKP, Selbar jadi markas besar kita!
Selain kuliah gue juga mulai disibukkan dengan organisasi. Pertama gue udah jadi bagian dari Divisi Sosial Masyarakat (Sosmas) di GAMAPI, kerjaannya tiap seminggu sekali rapat dan ngajar adek-adek di dusun binaan. Sebenernya gue seneng ngajar adek-adek, tapi kemarin pas terakhir gue ngajar ada beberapa anak yang menurut gue sifatnya berubah. Jujur gue sedih sih meskipun cuman nggak nyame lima anak yang sifanya rada songong, bikin gue mikir apa sih salah gue ke mereka? Terus temen gue ada yang bilang kalo guenya aja yang terlalu sensi. Mungkin emang begitu, okelah gue akan mencoba cuek dan fokus aja sama niat untuk berbagi ilmu ke mereka.
Kedua gue juga udah resmi nih jadi anggoa DEMA yang tepatnya di Divisi Kesekretariatan. Awalnya ekspektasi gue tinggi tentang menjadi anggota DEMA Fisipol, tapi ternyata biasa aja. Anggota DEMA tuh banyak banget hampir 200 orang dan dari berbagai jurusan, mungkin itulah kenapa meskipun udah jadi anggota tapi belum ngrasa masuk ke keluarga baru. Apalagi di divisi gue yang kerjaannya cenderung monoton, meskipun sebenernya gue suka.
Menurut gue ada yang kurang kalo sebagai mahasiswa di Fisipol tapi belum penah ikut diskusi. Diskusi itu penting banget buat kita untuk melatih kemampuan berpikir kritis yang jadi ciri khas anak sosial humaniora (soshum). Hampir setiap minggu di kampus pasti ada forum-forum diskusi, cupunya gue yang baru ikut sekali. Diskusi pertama yang gue ikuti adalah membahas tentang Peran Perempuan dalam Pemerintahan. Ketika diskusi berlangsung otak gue bergerak, ada beberapa pertanyaan dan pendapat yang sebenarnya ingin gue utarakan ke forum tapi urung gue lakukan. Kenapa? Gue masih malu, nggak berani, dan takut kalo kata-kata yang akan terucap berantakan. Padahal resolusi gue di tahun ini salah satunya adalah jadi pribadi yang tenag dan berani. Hemh..
Terakhir yang mau gue kasih tau adalah seminggu lagi gue Ujian Tengah Semester. So, gue ingin mulai belajar dan ngerjain paper sekarang. Doakan gue lancer. Bye!

Sabtu, 03 Maret 2018

Jangan Izinkan Dunia Mengaturmu, Kamulah yang Harus Mengaturnya

Udah lama banget aku nggak nulis blog, padahal rencananya aku ingin jadi blogger. Walaupun tulisan-tulisan ini sebenarnya nggak berfaedah buat para pembaca. Eh lupa, pembacanya kan aku sendiri, Oon..
Tahun baru, semester baru, dan kegiatan baru. Itulah yang sedang mewarnai kehidupanku saat ini. Tahun baru ini aku punya resolusi yaitu ingin menjadi pribadi yang aktif dan positif serta mampu menempatkan diri. Untuk mencapai itu aku harus ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan baik di kampus maupun di luar kampus. Salah satu caranya aku pikir adalah dengan ikut organisasi-organisasi dan kepanitiaan. Sejak awal semester dua ini aku udah mulai daftar-daftar organisasi, ngisi formulir dan melakukan wawancara. Aku ndaftar organisasi GAMAPI yang tingkatannya jurusan dan DEMA yang tingkatannya fakultas. Keduanya adalah organisasi yang sejenis sih menurutku kalo dilihat dari struktur dan program kerjanya, yaitu sejenis organisasi yang kalo di SMA dulu namanya OSIS kali ya. Alhamdulillah aku keterima di kedua organisasi tersebut. Terus kalo kepanitiaan, aku terakhir terlibat di kepanitiaan Public Action yaitu semacam rangkaian acara yang memadukan akademik dengan seni. Selanjutnya mungkin aku akan ndaftar jadi panitia makrab jurusan dan sebuah acara yang cakupannya univ.
Namun di sisi lain kuliah semakin berat, coy! Apalagi sekarang masing-masing matkul bobotnya empat SKS, kecuali matkul Metodologi Penelitian Sosial doang yang tiga SKS. Artinya apa? Beban dalam menjalaninya juga semakin berat. Kuliahnya selama dua jam dan terkadang ada tambahan, herannya ada satu matkul yang tambahannya itu ada setiap minggu jadi matkul itu muncul sebanyak dua kali seminggu dengan durasi yang sama. Karena itu aku ngrasa kalo dosen-dosen jurusaku ini ntah saking semangatnya mengajar atau ada hal lain yang terselubung. Entahlah. Tambah parahnya lagi tugas juga serasa nggak ada kelarnya, ampun dah! Kemunculan mereka inilah yang kadang membuatku emosi setiap hari. Kemudian hal itu semakin kronis tatkala tugas-tugas yang diberikan adalah jenis tugas kelompok. Sumpah itu akan menguras waktu karena harus dikerjakan secara bersama, jangan beranggapan bisa bagi tugas dan tinggal digabung. Itu adalah kesalahan fatal mahasiswa sosial. Dengan hanya cara demikian, dosen akan tahu, ntah kenapa, mungkin mereka punya indra keenam mungkin.
Oke pada intinya gue akan semakin sibuk selanjutnya. Namun satu hal yang perlu aku sadari bahwa semua yang aku lalui atau akan aku kerjakan itu hanyalah sebuah sistem duniawi yang bisa membuatku hanyut di dalamnya. Merasa stres dan jenuh adalah salah satu efek samping sistem tersebut. Jangan sampai kamu hanyut, Nabilah!
Ku pengen cerita banyak nih sebenernya, tapi mata ini sudah tidak sanggup lagi untuk tetap terjaga. Aku hanya ingin tidur dan mimpi indah. Dah ya, bye!